
Berkat kejadian sebelumnya kami semua dalam masa penahanan. Tidak ada yang boleh keluar dari tenda ataupun menemui orang lain
Sampai penyelidikan selesai. Meski kecurigaan kepadaku merupakan yang terendah tapi tetap saja aku hadir disana.
Sebaliknya kecurigaan tertinggi malah di dapat oleh duke Crambell karena dia yang paling dekat dengan pangeran
Keadaan pangeran sempat kritis karena keracunan tapi sekarang sudah mulai membaik.
Botol anggur yang jadi barang bukti sudah jelas kalau seluruh anggur di botol itu beracun
Membuat aku yakin kalau tujuan yang menaruh racun bukan hanya pangeran melainkan seluruh bangsawan yang mendukungnya
Karena keadaan perang seperti ini, kematian pangeran bisa disamarkan sebagai tindakan Rodigur yang menaruh racun.
Hal ini membuat pelaku berada diantara 2 kubu. Kubu yang ingin pangeran mati atau kubu yang ingin Rodigur tetap ada.
Jika yang kedua seharusnya penaruh racun sudah meracuni semuanya sejak lama. Dan tersisa satu kubu. Hal ini langsung menyimpulkan pelaku dari orang yang meracuni pangeran. Jawabannya putra mahkota.
Sepertinya keadaan putra mahkota mulai terancam karena pangeran ketiga. Tapi meracuni pangeran ketiga juga merupakan hal bodoh
Aku yang tidak terlalu pintar saja bisa menyimpulkan hal ini. Apalagi raja dan bawahannya kan?
Karena itu putra mahkota berada diantara 2 sisi. Dalang atau memang tidak tahu, tapi tetap terlibat
Jika dalang berarti ada orang lain yang menaruh racun. Dan Putra mahkota akan menuduhnya sambil mengatakan dia tidak tahu apapun
Tapi bisa jadi yang kedua. Pelakunya memang berada disisi putra mahkota tapi putra mahkota tidak memerintahkannya melainkan inisiatif pelaku sendiri.
Anehnya yang manapun soal itu tetap saja akan merugikan pelaku. Kenapa dia melakukan hal ini?
Penyelidikan dilakukan seharian penuh. Untungnya pangeran sudah lebih baik daripada sebelumnya.
Dan aku bisa memulai tujuanku ke Rodigur sekarang "Tuan Viscount"(Prajurit) Aku menatap prajurit yang masuk ke tendaku
"Ada apa?" "Yang mulia pangeran memanggil anda"(Prajurit) "Pangeran ya. Baiklah aku kesana"
Prajurit itu keluar, setelah bersiap aku juga pergi ke tenda pangeran yang merupakan tenda terbesar
__ADS_1
Aku masuk kedalam tenda "Hamba menghadap yang mulia" Pangeran duduk di ranjang yang besar menatapku
"Maaf kamu harus melihatku seperti ini"(Pangeran ketiga) "Tidak perlu di pikirkan pangeran"
"Aku juga berhutang budi padamu. Racun itu cukup berbahaya, kalau aku meminum lebih banyak. Pasti aku sudah tidak ada disini"(Pangeran ketiga)
"Itu sudah sewajarnya hamba lakukan" "Baguslah kalau begitu. Tenang saja kamu sudah terlepas dari kecurigaan, karena kamu baru saja bergabung disini dan tidak melakukan tindakan yang aneh juga karena tidak ada yang mendekati gudang persediaan"(Pangeran ketiga)
"Tidak ada yang mendekati gudang? Apa berarti orang dari ibukota pelakunya?"
"Entahlah, tidak ada yang tahu. Berkat kamu disini Rodigur bisa dengan mudah kami kuasai"(Pangeran ketiga)
"Ahh.. Soal itu, hamba meminta maaf terlebih dahulu pangeran. Hamba disini tidak untuk membantu perang ini"
"Apa kamu bercanda? Terus untuk apa?"(Pangeran ketiga) "Menyelesaikan perjanjian dengan yang mulia raja. Hamba membawa suratnya"
Aku memberikan surat dari raja yang berisi izin untuk aku membawa orang-orang dari Rodigur sebagai rakyatku
"Jadi ini tujuanmu"(Pangeran ketiga) "Maafkan hamba pangeran" "Ya sudahlah kalau begitu. Apa kamu sudah ada tujuan? Kemana kamu akan pergi?"(Pangeran ketiga)
"Entahlah, tapi yang jelas hamba tidak pergi ke ibukota" Aku sendiri masih tidak tahu tujuanku.
"Kamu serius tidak mau membantu? Keuntungan yang kamu dapat nanti tidak sedikit lo. Apalagi dengan bantuanmu kemenangan kita sudah terjamin"(Pangeran ketiga)
"Maaf yang mulia. Hamba harus menolak ajakan yang mulia. Menurut hamba sendiri Rodigur harus tetap berdiri"
"Ooh.. Itu pendapat baru. Bisa jelaskan apa alasannya?"(Pangeran ketiga)
"Karena Stor yang mulia. Hanya Rodigur yang bisa menahan Stor karena telah menghabisi semua cadangan Mithril di Monrra. Jika kita menguasai Rodigur. Stor akan mengalihkan perhatiannya pada kita"
"Apa kamu pikir kita akan kalah?"(Pangeran ketiga) "Bukan bermaksud merendahkan. Tapi itu benar, persenjataan kita tidak bisa melukai mereka. Dan mereka memiliki ketahanan luar biasa terhadap Force. Hamba sendiri bisa membunuh satu setelah berjuang keras, tapi satu pasukan. Hamba hanya bisa melarikan diri"
Ada satu fakta lagi yang mengerikan sebenarnya. Para raksasa itu menggunakan senjata Mithril.
Bahkan senjata yang dipakai mereka memiliki kualitas melebihi Mithril buatan Dwarf di Monrra.
Dwarsen sendiri yang memberitahukan hal itu. Bertarung dengan mereka sama saja menggali kuburan
__ADS_1
"Aku tidak bisa melakukan apapun soal itu. Lagipula itu keinginan raja. Aku cuma menjalankan perintah saja. Kalau aku bisa menjadi raja hal seperti ini tidak akan terjadi. Apa kamu mau menolongku? Viscount"(Pangeran ketiga)
Sudah sampai seperti ini masih saja ingin meminta dukungan dariku "Maaf yang mulia. Hamba ingin tetap netral saja, jika hamba masih seorang prajurit. Pasti aku akan mendukung yang mulia. Tapi sekarang hamba memiliki rakyat, istri, wilayah. Jika hamba mengambil keputusan yang salah seluruh wilayah hamba akan terkena dampaknya"
"Jadi begitu ya. Aku mengerti, kamu boleh pergi"(Pangeran ketiga) "Hamba undur diri"
Aku pergi keluar dan kebetulan bertemu dengan Sirus
"Kumpulkan semua prajurit dan kita berangkat" "Mau pergi sekarang nih?"(Sirus) "Ya, jika kita disini lebih lama situasi akan semakin buruk"
Tidak menunggu lama semua prajuritku sudah siapi. Aku bisa merasakan para bangsawan dan prajurit memperhatikanku.
Aku mengacuhkan mereka dan pergi dari benteng itu. Meski ini akan membuatku dicurigai.
Tapi aku tidak punya celah dan bukti. Karena memang bukan aku, orang bodoh sekalipun juga tahu kalau bukan aku pelakunya
Jadi mau aku tinggal lebih lama atau tidak. Tidak akan ada perbedaan sama sekali.
Daerah Rodigur merupakan daerah dengan banyak pegunungan subur.
Ada puluhan desa kecil dan belasan desa besar setelah benteng Termonn. Karena itu aku memutuskan untuk membuat semua pasukanku berpencar.
Karena mereka semua berasal dari desa dan kota yang berbeda. Sedangkan aku pergi ke kota besar tempat dibesarkannya Mia.
Meski Mia tidak bicara soal dimana dia dibesarkan. Aku tahu dari para prajurit bawahan Mia.
Mia dulu merupakan anak panti asuhan yang disongkong oleh Viscount daerah Rodigur. Panti asuhan itu dibuat memang untuk mengisi prajurit tidak perduli kelamin mereka.
Yang lucu adalah hampir semua anak yang sudah remaja dikirim ke Monrra untuk berperang.
Dan setengah lebih dari mereka mati karena pedangku saat mereka memberontak sebelumnya.
Yang tersisa sekarang hanya puluhan orang yang sebelumnya tidak bisa menggunakan Force. Mereka terlalu takut untuk mati makanya mereka memilih mengikutiku
Kami tiba. Di ujung sana ada puluhan prajurit dengan satu pria yang memegang busur menatap kearahku.
Jumlah prajuritku adalah 100 orang. Sisanya terpencar kesegala arah. Apa tidak bisa melalui ini semua tanpa peperangan?
__ADS_1
**TO BE COUNTINUE...***