Runes Swordsman

Runes Swordsman
Part 84


__ADS_3

Semua itu tidak berakhir sampai disana saja, para bangsawan kubu putra mahkota berusaha menekanku dengan mengatakan membuang-buang sumber daya dan menghancurkan lingkungan


Berkat itu sidang bangsawan hampir kembali digelar. Kalau bukan karena beberapa bukti perbuatan putra mahkota yang memblokade jaringan informasi dan surat permintaan bantuan yang kukirim ke istana


Keadaanku akan bermasalah, meski sidang tidak digelar. Keadaanku mirip seperti disidang, aku dipanggil ke ibukota untuk membicarakan hal ini.


Tentu saja aku tidak diam saja. Aku menuntut kubu putra mahkota yang membuat seluruh keadaan Monrra memburuk, aku juga meminta pertanggung jawaban istana karena mengabaikan surat permintaan bantuan dariku


Berkat itu meski aku tidak benar-benar dalam keadaan beruntung, aku bisa mencegah agar keadaanku tidak dalam kondisi merugi.


Selain itu aku mendapat dukungan dari kubu pangeran ketiga karena mencegah kehancuran wilayah mereka.


Bagaimanapun wilayah kubu pangeran ketiga merupakan yang terdekat dengan Stor. Jika bukan tujuan para raksasa adalah Monrra pasti wilayah Mansturi, dan Vendra akan hancur


Melihat kelicikan putra mahkota bisa dipastikan jika kedua wilayah itu akan benar-benar rata dengan tanah.


Dengan kerja kerasku aku berhasil meraup banyak keuntungan yang pertama, uang kompensasi dan pengembangan Termonn sebesar 20 Sero, daerah Termonn seluas 3 km termasuk Giant cemetry, serta kewenangan untuk memberikan gelar baron pada 3 orang


Dan menara sihir yang malang jadi target raja dan putra mahkota. Mereka dilarang menjual alat sihir tidak stabil untuk alasan apapun serta menyerahkan 20% hasil pembelianku kepada istana


Hal itu membuat aku di marahi habis-habisan oleh Lizra meski tidak langsung. Sekarang aku sudah berada lagi didepan Giant Cemetry


Awalnya aku bingung alasan kenapa diberi nama itu? Apa karena ini tempat dimana terbunuhnya ratusan raksasa? Ternyata alasannya adalah ratusan tulang raksasa yang tertinggal disana


Membuat seluruh tempat ini terasa mengerikan.


Lizra menggunakan sihir untuk mengangkat semua tulang itu


Setiap tulang memiliki sayatan yang cukup banyak seperti ratusan pedang yang menyayat sedikit demi sedikit


"Sepertinya mereka menderita dalam badai mana itu" "Berkat siapa itu semua terjadi? Sepertinya kita tidak bisa meninggalkan semua tulang ini"(Lizra)


"Benar. Force yang terkandung sangat pekat, kadal saja bisa berevolusi jika menghisap force sepekat ini"


"Cara yang tersisa hanya di kremasi sampai tersisa abu saja. Tapi melihat ukurannya perlu api yang sangat besar dan juga panas"(Lizra)


"Apa perlu kita menyatukan kekuatan lagi? Aku yakin kita bisa membuat api sebesar itu" "Ya, kalau tidak jadi badai mana lagi"(Lizra)

__ADS_1


"Baiklah, kita bergantian saja. Untuk urutan pertama biar aku saja" "Tentu saja harus kamu. Bagaimanapun inikan ulahmu"(Lizra)


Aku mengeluarkan pedang api "Infernus.. Infernus... Infernus" Api keluar dari pedangku bahkan sampai menjulang kelangit.


Dengan usaha keras aku menekannya hingga menyatu dengan pedang "Menjauh!!" Aku melempar pedang itu kedalam kawah dimana semua tulang itu sudah dikumpulkan Lizra ditengah kawah.


Pilar api raksasa terbentuk menjulang sampai kelangit bahkan seluruh langit berubah jadi merah


"Sepertinya kamu tidak ada niat melakukannya diam-diam ya?"(Lizra) "Ini belum selesai tahu. Turbo"


Tornado merah menyatu dengan api membuat tornado api raksasa yang sampai menembus langit.


Awan mengumpul disekitar tornado membuat pemandangan seperti neraka. Meski terlihat luar biasa, pada kenyataanya tulang itu sangat sulit dibakar


3 jam berlalu dan aku kehabisan force. Dan yang terbakar cuma tulang dari jari kelingking saja. Benar-benar menyebalkan


"Giliranku ya?"(Lizra) Lizra mengetuk tanah dengan tongkatnya dan menunjuk kearah langit


Lingkaran merah dengan mana mulai terbentuk


Satu persatu rune mulai terbentuk "eyðileggja, eyða öllu fyrir framan mig með brennandi og eyðileggjandi eldi, fjarlægja allt og breytast í ösku í grunn lífsins. Infernus Hastae"(Lizra)


Dari ujung kerucut itu keluar tombak raksasa yang terbuat dari api membara "LIZRA!!! KAMU MENGGUNAKAN SIHIR SETINGKAT ITU UNTUK MEMBAKAR TULANG? KAMU MASIH WARAS TIDAK"


"Akan kutunjukan keindahan dari sihir"(Lizra) Tombak itu turun dengan cepat kedalam kawah.


Tombak itu sendiri sebesar kawahnya, Lizra memang gila!!!!


Ledakan terjadi disusul pilar api raksasa dan gelombang api yang membuat kawah itu dipenuhi api dan lava


"Mundus" Aku membentuk dinding tanah berlapis-lapis dan setinggi setengah dari tombak itu.


Serius dah aku tidak bisa melihat pangkal dari tombak itu. Tembok yang kubuat hancur sedikit demi sedikit


Aku mulai kesulitan apalagi darah mulai keluar dari hidungku, keadaanku sudah separah ini malah Lizra tertawa girang seperti orang gila


"Sihir itu tentang.... Pemusnahan" Lizra mengayunkan tongkatnya kebawah. Tombak raksasa itu seperti ditekan dari atas. Kalau begini bisa-bisa-

__ADS_1


Ledakan raksasa terjadi semua tembok yang kubuat hancur dan aku memuntahkan darah


"Dasar...penyihir....gila"


Aku kehilangan kesadaran karena tindakan gila Lizra. Saat aku membuka mata kawah yang tadinya 1 km berubah jadi 3 km.


Dan kawah yang seperti lubang, sekarang jadi kolam lava mendidih. Sedangkan pelaku yang membuat hal ini malah bermain-main dengan guci raksasa


"Bagus sekali Lizra. Sekarang kamu membuat masalah yang menyebalkan" "Kalau tidak begini tidak akan cepat selesai tahu"(Lizra)


"Bilang saja kalau kamu perlu tempat untuk melampiaskan stress. Lizra" Lizra hanya menggaruk kepalanya dan mengiyakan hal itu


Perlu waktu beberapa hari untuk menstabilkan tanah yang terbakar gara-gara Lizra dan entah berapa hari untuk memulihkan wilayah ini


Karena penyihir yang satu itu kabur setelah berhasil memadamkan api di tempat ini


Karena itu dengan terpaksa aku meminta bantuan Dwarf


"Parah juga ya?"(Dwarsen) "Itu karena sihir bukan badai mana" Dihadapan kita sekarang adalah tanah hitam seperti arang dan kawah hitam


"Untungnya karena mananya kuat kemungkinan bisa jadi tambang kristal sihir"(Dwarsen) "Benarkah itu?" "Entahlah, mungkin 1000 tahun lagi"(Dwarsen) "Gak bergunalah itu"


"Tenang saja karena ada kamu disini kita bisa membuat mana disini jadi force ditambah beberapa inti monster yang masih ada membuat tanah ini subur bukanlah masalah"(Dwarsen)


Dwarsen mengeluarkan force dari tubuhnya yang langsung menyebar di seluruh tanah ini


"Kamu juga. Buat Forcemu mengumpul ditengah"(Dwarsen)


Aku mengeluarkan force dan kukumpulkan ditengah "Seperti ini?" "Bagus"(Dwarsen)


Dwarsen mengangkat palunya dan memukul force milikku


Rasanya seperti dadaku dipukul ringan, force milikku hancur dan menyatu dengan seluruh tanah membuat tanah jadi merah meski cuma sebentar


"Sekali lagi"(Dwarsen) Aku mengulanginya lagi, kali ini Dwarsen mengeluarkan inti monster dari Skull Rhino dan memukul palunya ke force dan inti itu bersamaan


Inti itu hancur bersama force milikku mengeluarkan force kuning yang langsung memenuhi dataran dan mengubah tanah hitam jadi kembali seperti semula. Luar biasa

__ADS_1


**TO BE COUNTINUE...***


__ADS_2