Runes Swordsman

Runes Swordsman
Part 109


__ADS_3

Laba-laba raksasa sudah jatuh, aku berbalik dan mengatasi beberapa laba-laba mithril yang masih menyerang pasukan


Hanya membutuhkan beberapa menit untuk menyelesaikan para laba-laba itu "Karl, Devan"


"Ada apa Panglima?"(Karl) "Aku disini"(Devan)


"Urus sisanya. Aku harus pergi sebentar" "Tapi panglima apa tidak masalah?"(Karl) "Tenang aja, aku gak bakal lama. Beritahu Sila soal raksasa berzirah itu. Aku akan kesana"


"Baik panglima"(Karl) Aku pergi mengejar lima raksasa itu. Tidak ada yang bisa merusak mithril selain aku, kalau sampai raksasa itu sampai lebih dulu semuanya akan berantakan


Akhirnya aku melihat kelima raksasa itu mereka benar-benar terlihat seperti ksatria hanya saja jalan mereka sangat lambat


"Turbo" Aku melesat ke leher salah satu raksasa dan menusuk lehernya "Infernus!!!" Pedangku menembus zirah yang ada dilehernya


Pantas aja susah gerak seluruh tubuh termasuk sendinya dipasangkan Mithril. Memang terkadang keterlaluan juga Dwarf ini


Aku berlari memutari lehernya dan akhirnya helm nya lepas. Saat Helm raksasa itu jatuh para raksasa melihat raksasa yang kehilangan helmnya


Tapi aku sudah di raksasa kedua, tidak butuh waktu lama untuk melepas helm mereka satu persatu.


Mereka terlalu bingung dan lengah sehingga tidak menyadari aku sampai helmnya lepas.


Begitu helm terakhir terlepas aku meninggalkan mereka yang masih bingung kenapa helm mereka bisa lepas


"Panglima"(Sila) Aku terkejut melihat Sila sudah dibelakangku "Astaga sudah berapa kali kamu mengagetkanku?" "Maaf panglima. Tapi kenapa anda disini?"(Sila) "Melepas helm mereka, sekarang kalian bisa menghadapinya kan?"


"Itu bukanlah masalah panglima"(Sila) "Baguslah kalau begitu. Aku akan menunggu di gerbang kota, mungkin aku akan menaklukan kota lebih dulu"


Aku dan Sila berpisah kami masing-masing kembali ke tempat. Saat aku tiba di tepi jurang semua laba-laba kosong sudah dirapikan di pinggir dan orang didalamnya sudah diseret keluar


"Panglima"(Karl) "Berapa banyak mereka?" "125 Dwarf berhasil kami tangkap"(Karl) "Begitu ya, kalau begitu kita akan bersiap untuk ke kota"

__ADS_1


"Kalau dwarf menyerang lagi bagaimana?"(Karl)


"Kita bisa gunakan medan dikota sebagai keuntungan" "Masalahnya raksasa disana. Mereka memang bukan prajurit tapi kekuatan mereka setara dengan satu pasukan tanpa Force dan 10 orang yang bisa menggunakan Force"(Karl)


"Itu kan tugas kalian. Pasukan kalian kan ahli buat mengatasi hal itu, masa harus ku ajari lagi"


"Aku tahu panglima tapi tetap saja ini satu kota meski sedang kosong pasti dengan mudah isinya sampai 10 atau 20 raksasa kan?"(Karl)


"Tenang saja ini akan cepat. Panggilkan Devan kemari! Kita akan menduduki seluruh kota sebelum hari ini berakhir" "Itu gila sih"(Karl)


Karl pergi tidak menunggu lama Devan datang


"Panglima ada-"(Devan) "Apa kamu mau prestasi?" "Maaf apa maksud panglima?"(Devan)


"Sesuai dengan kemauanmu kita akan menyerang kota sebelum pasukan utama kembali. Kalau menurutmu pasukan dari Duke tidak mampu kita tunggu seluruh pasukan berkumpul. Tapi kalau begitu semua prestasi dan jasa akan jadi milik pasukanku tapi kalau kita berangkat sekarang pasukan duke akan menerima lebih banyak jasa karena jumlah pasukanmu yang jauh lebih banyak"


"Soal ini. Aku tidak yakin kita sanggup, pasukan sudah jauh berkurang 150 orang gugur dalam perang sebelumnya"(Devan)


Devan terlihat diam berpikir "Aku akan beri waktu 5 menit. Bicarakan dengan pasukanmu, kalau kamu memutuskan mengambil resiko ini kamu tidak akan menyesalinya meski aku tidak bisa menjamin berapa banyak korban yang akan jatuh tapi itu harga yang harus kamu bayar untuk ambisimu. Temui aku saat kamu sudah memutuskannya"


Aku meninggalkan Devan. Aku tahu dari awal dia tidak suka denganku selain gelarku cuma Viscount aku jauh lebih memiliki jasa dalam perang ini


Bisa dibilang selama perang aku tidak pernah mundur bahkan aku bisa menghadapi serangan para raksasa yang bisa membuat pasukan Duke hancur dengan mudah


Pasti dia tahu kalau memang ini adalah satu-satunya kesempatan untuknya. Kalau pasukanku kembali kota itu akan takluk dengan mudah tanpa harus membutuhkan pasukan mereka


Aku kembali ke tenda dan merasuki burung elang milikku. Aku harus tahu denah kasar dari kota untuk memaksimalkan keuntungan dalam perang


Saat aku memasuki kota dengan bentuk burung. Aku meremehkan besarnya kota ini. Setiap bangunan tingginya 2 kali dari raksasa


Bahkan manusia biasa bisa lewat celah bawah pintu saking besarnya. Aku menemukan beberapa raksasa disini

__ADS_1


Ada 20 lebih raksasa pria, 30 raksasa wanita, 10 raksasa tua, dan 20 raksasa yang masih remaja dan anak-anak


Dari segitu banyaknya raksasa hanya 10 raksasa pria yang bisa menggunakan Force. Harusnya tidak terlalu berat sih


Aku pergi ke rumah paling besar rumah pemilik kota ini. Selain raksasa yang ada di kota ada 5 prajurit raksasa di rumah ini


2 diantaranya perempuan. Mereka jelas-jelas prajurit aku baru tahu kalau perempuan juga bisa jadi prajurit di ras raksasa seperti ini


Ternyata didalam rumah masih ada 5 prajurit raksasa lain. Selain pemilik kota, selain itu ada dwarf disini tepatnya 5 dwarf yang sedang bicara dengan alat khusus dengan walikota


"Aku tidak mau prajuritku menggunakan zirah itu lagi"(Walikota) Dwarf berbicara tanpa suara hanya suara raksasa saja yang terdengar


"Lagipula semua itu tidak berguna. Mereka bisa membunuh prajuritku juga"(Walikota) Apa yang sebenarnya mereka bicarakan?


"Jangan bercanda dengan zirah itu prajuritku lebih lambat daripada serangga itu. Apanya yang bisa menjamin kemenangan?"(Walikota)


Apa mereka membicarakan soal zirah Mithril yang menutupi seluruh tubuh itu ya? "Aku tidak butuh bantuan kalian. Kalau mau pergi silahkan, kalau mereka memang sekuat itu mereka pantas menjadi majikan kita"(Walikota)


Dwarf menatap walikota raksasa dengan dingin dan pergi meninggalkan ruangan. Cara perginya sangat aneh, force menyelimuti seluruh tubuh dwarf dan lenyap bersama Dwarf itu


"Aku tidak percaya serangga-serangga itu sangat hebat. Aku tidak sabar menghadapi kalian, aku harap kalian bisa memberikanku hiburan"(Walikota)


Sepertinya mereka tidak memiliki rencana apapun. Aku terbang keluar dari tempat itu. Sempat ada rencana untuk memasang perangkap


Tapi rasanya tidak akan berguna, jadi aku memutuskan untuk kembali. Saat aku bangun Karl sudah ada disampingku


"Panglima, Devan ingin bertemu"(Karl) "Suruh dia masuk" "Baik panglima"(Karl) Karl keluar dan tidak lama Devan masuk


"Panglima kami siap menaklukan kota raksasa"(Devan) "Bagus. Bersiaplah kalau begitu"


***TO BE COUNTINUE....***

__ADS_1


__ADS_2