Runes Swordsman

Runes Swordsman
Part 18


__ADS_3

Gadis kecil itu diselimuti cahaya meski tidak terlihat sepertinya keadaannya mulai membaik.


"Untuk sekarang seperti ini cukup. Butuh 3 hari pengobatan untuk memulihkannya seutuhnya"(Pendeta)


"Terimakasih. Terimakasih banyak pendeta"(Pria) "Aku cuma meneruskan kebaikan dewi"(Pendeta)


Aku hampir tertawa mendengarnya. Meneruskan kebaikan dewi tapi meminta bayaran yang benar saja.


"Tuan, saya juga berterimakasih karena mau menolongku"(Pria) "Tidak masalah" Aku pergi keluar dari gereja dan menyadari kalau dia mengikutiku.


"Ada apa lagi?" "Aku akan mengabdi dan terus melindungimu"(Pria) "Tidak perlu. Urus saja putrimu itu" "Tidak ini sudah janji saya"(Pria)


"Begitukah? Yasudah lah. Siapa namamu?"


"Stain. Aku akan melindungi tuan mulai dari sekarang"(Stain) "Baiklah Stain. Aku berharap padamu"


"Baik tuan"(Stain) Dan aku pergi bersama Stain ke mansion. Dan aku harus menjelaskan soal Stain kepada Baron dan yang lainnya dulu.


Sudah 3 hari berlalu. Semua persiapan perang sudah hampir selesai, setelah dari gereja aku pergi ke pandai besi tempat Forg berada.


Aku mendapat pesan darinya kalau Carl sudah berhasil membuat pedang yang kumau


Begitu masuk aku langsung disambut Forg


"Josh. Aku tidak percaya orang yang kamu bawa sangat hebat"(Forg) "Apa benar pedangku sudah jadi?"


"Ya, silahkan kesini"(Forg) Aku melihat Carl yang masih sibuk menempa. Aku melihat pedang hitam dengan gagang yang berwarna perak disitu.


"Ini kah?" "Ahh.. Josh, untuk sementara seperti ini. Bisa dibilang sudah selesai"(Carl)


Aku mengambil pedang itu. Dan pedang itu berat.


Sekitar 8 kg. Mengayunkannya butuh usaha, aku memperhatikan tulisan rune yang ada ditengah-tengah bilahnya


"Apa aku bisa mencobanya?" "Tentu saja cobalah"(Forg) "Tidak maksudku menggunakan Force. Mungkin akan ada ledakan"


"Ledakan? Sepertinya tidak masalah"(Forg) "Baiklah kalau begitu" Stain menyingkir begitu juga dengan beberapa pandai besi disekitarku.


Forg menghentakkan kakinya dan forge hitam menutupi sekitarku. Aku menggunakan Force menyelimuti pedang dan mengayunkannya.

__ADS_1


Ya masih tetap berat. Tapi lebih baik dicoba runenya


Force mengikuti jalur rune dan mengisi rune itu. Force langsung berubah jadi api yang panas.


Bahkan lantai mulai mendesis dan besi disekitar mulai jadi merah. Meski belum semua kekuataanku ini sudah cukup bagus.


Aku tidak tahu seberapa berbakatnya Carl. Aku terus meningkatkan Force milikku dan pedang itu retak.


Aku ingin berhenti tapi terlambat retakannya menjalar seperti kaca yang retak dan ledakan terjadi.


Ledakan besar terjadi dan seluruh pedang itu hancur berkeping-keping. Untung saja aku sempat melindungi diriku dengan Force


"Astaga apa itu?"(Forg) Tanganku mati rasa. Tapi kualitas pedang itu sudah hebat bisa menahan sampai 70% Force milikku.


Begitu 80% retakan terjadi dan meledak sebelum mencapai 90% "Gagal ya?"(Carl)


"Tidak. Itu sudah cukup, tentu saja kalau bisa lebih kuat lagi itu lebih baik"


"Lebih kuat? Itu sudah dicampur dengan Osmanium yang 4 kali lebih kuat daripada besi bahkan bisa bertahan dipanasnya gunung berapi. Jika lebih kuat lagi kamu perlu Titanium, Mithril atau mineral legendaris Adamantine"(Forg)


"Astaga. Berapa biaya pembuatan pedang itu?" "Sekitar 20 Kero"(Forg) "Hanya pedang setara dengan makanku 2 tahun?"(Stain)


"Lava panas? Sepertinya memang tidak mungkin untuk sementara" "Kalau Osmaniumnya lebih banyak pasti bisa lebih kuat"(Carl)


"Benar juga bagaimana dengan pedang yang kedua?" "Sudah hampir siap, aku tinggal menulisnya lagi"(Carl) "Baguslah itu saja"


Carl mengambil pedang yang masih membara dengan tang besar. Dengan pasak dan palu dia menulis dengan cara memahat pedang itu.


"Pantas saja selalu patah" "Kalau mau menulis memang harus dengan itu. Jika tidak dipukul kedalam dan membuat lebih lebar akan tertutup saat kembali dibakar. Apalagi dengan hal itu kekerasan dari pedangnya juga menurun"(Forg)


"Begitu ya" Pedang yang sudah selesai kembali di bakar dan dipukul. Setelahnya dimasukkan kedalam air.


Baru kembali dipasangkan gagang pedangnya "Sudah selesai"(Carl) Aku mengambil pedang itu yang masih mengeluarkan asap.


Huruf runenya sama persis dengan yang sebelumnya "Baguslah. Buat 4 lagi dengan huruf masing-masing yang seperti ini"


Aku memberikan kertas yang sebelumnya sudah kutulis dengan huruf rune


"Yang satu itu saja susah. Apalagi yang seperti ini, kamu berniat membunuhnya ya?"(Forg)

__ADS_1


"Tidak. Kalau tidak bisa yasudah" "Tidak akan kukerjakan"(Carl) "Istirahat dulu kamu. Lihat tanganmu sampai terbakar seperti itu"(Forg)


Aku baru memperhatikan tangan Carl yang sudah melepuh menjelaskan beberapa lama dia bekerja


"Aku tidak tahu sampai seperti itu" "Karena sulit. Butuh puluhan kegagalan untuk bisa menghasilkan satu yang sudah kamu hancurkan"(Forg) "Maaf soal itu. Lebih baik kamu kegereja dulu dan minta diobati. Nanti aku akan membayarnya langsung ke pendeta"


"Tidak perlu seperti itu. Ke klinik saja sudah cukup"(Carl) "Tidak. Kamu harus pulih seutuhnya dulu baru bicara"


Setelah memaksa Carl aku kembali ke Mansion dan mengurus beberapa hal lagi.


Tanpa terasa hari berangkatnya kita sudah tiba.


Pasukan berkumpul didepan perbatasan ibukota. Aku dan Baron ada disitu juga


"Ada 1000 pasukan dari istana, 200 yang akan menyusul dari desa, dan 500 dari prajurit bayaran jadi totalnya ada 1700 orang 500 orang bisa menggunakan Force dan 300 bisa menggunakan Flows"


"Kamu sudah bekerja keras. Berapa anggaran yang tersisa?"(Baron) "Sekitar 290 Sero, 90 kero" "Jauh lebih sedikit dari yang kita harapkan"(Baron)


"Begitulah. Tapi sepertinya untuk sementara cukup" "Bagaimana rencananmu?"(Baron)


"Pergi ke desa Heath dulu untuk memantau situasi sebelum bergerak. Apalagi yang kita lawan ini pasukan dari kerajaan sebelah. Meremehkannya sama seperti cari mati"


"Kamu benar juga. Kalau begitu kita berpisah disini. Sebenarnya aku ingin membantu juga, tapi desa akan kacau jika aku ikut membantu. Untuk sementara aku biarkan anakku ikut denganmu"(Baron)


"Apa itu tidak masalah? Kita akan pergi ke medan perang" "Aku percaya padamu"(Baron)


Kami berangkat kearah timur, sementara Baron berpisah dengan kami.


Untuk ke desa Heath perlu melewati kota Rancantry dulu. Kota ini merupakan Dukedom milik Duke Rancantry.


Untung saja sudah ada izin dari mereka bahkan penginapan juga sudah siap.


Setelah melewati kota itu, melewati kota kecil lain yaitu kota Runty, wilayah dari Marquess Runty.


Dan melewati Desa Hanfry baru sampai didesa kecil Heath. Kami langsung disambut oleh Baron Heath didepan dinding pembatas desa


"Suatu kehormatan disambut Baron secara langsung" "Panglima terlalu sungkan kamilah yang merasa terhormat menyambut kedatangan anda"(Baron Heath)


Setelahnya kami masuk kedesa. Dan aku pergi ke Mansion baron sambil menanyakan situasi terkait tempat ini

__ADS_1


**TO BE COUNTINUE...***


__ADS_2