
Aku memperhatikan jumlah pasukan yang semakin sedikit padahal musuh saja belum terlihat.
"Sirus?" "Ada apa?"(Sirus) "Menurutku saja. Apa memang?" "Benar. Mereka kabur"(Sirus)
"Berapa banyak?" "200 orang. Mereka yang kemarin bisa bertahan hidup membawa 50 orang lainnya untuk kabur. Untung saja 50 orang yang bisa menggunakan Force tidak pergi"(Sirus)
"Sudah kuduga akan begini. Tulis laporannya, kamu sudah mencatat siapa nama mereka kan?" "Untungnya sudah"(Sirus) "Baguslah mereka pergi. Beritahu semua prajurit untuk bersiap. Panggilkan Rafel"
"Baiklah"(Sirus) Aku akan memulai kerusuhan kecil dulu. Semua jebakan di tubuh musuh akan digunakan untuk membuat keributan dulu.
"Ada perintah?"(Rafel) "Siapkan semua pemanah dan berdiri dulu dibarisan terdepan"
"Baiklah"(Rafel) "Sirus, kita lihat jumlah musuh dulu" "Baiklah"(Sirus)
Aku dan Sirus pergi lebih dulu dan memperhatikan mereka yang mulai berkemas
"Kita kembali" "Sudah? Hanya itu?"(Sirus)
"Emang mau apalagi?"
Begitu kembali, aku memerintahkan pasukan untuk berangkat. Setelah 2 jam bayangan musuh sudah mulai terlihat
"Ayo kita mulai. Para pemanah" Semua pemanah berbaris. Pihak yang menyerang pertamalah yang akan diuntungkan
"Terra" Dinding tanah meninggi membawa aku dan para pemanah keatas. Darisini terlihat berapa banyak jumlah pasukan musuh.
Hampir seperti melihat lautan yang bergerak kearah kami "Ignis" Force milikku berhembus seperti angin yang membawa debu menyelimuti mereka
Api berkobar di barang bawaan mereka membuat keributan. Dengan cepat api menyebar dan membakar semua prajurit dan penyihir disekitarnya.
Gerakan para prajurit itu semakin lambat apalagi mereka dilanda kepanikan karena semua barang persediaan mereka terbakar.
Dari sini terlihat panglima mereka yang mulai panik juga "Pakai panah pertama!" "Baiklah, Ikuti perintah panglima!! Bersiap, Bidik, Tembak!!!"(Farel)
Ratusan panah melesat kearah prajurit musuh "Infernus" Force merah terjalin diantara panah membuat bola api raksasa seperti meteor kearah mereka.
Karena sangat besar seharusnya mereka akan sulit menghindari hal itu. Dinding tanah keluar menghadang seranganku.
Tapi aku tidak akan membiarkannya "Panah ketiga!" "Baik. Panah ketiga!! Bersiap. Bidik. Tembak!!!"(Farel) Ratusan panah lain melesat kearah mereka.
Force kembali terjalin dan membentuk jaring listrik "Tonitribus" Ratusan petir menyambar kearah mereka.
Dinding batu yang menahan serangan itu hancur, ditambah puluhan prajurit terkena petir milikku.
Ledakan terjadi, membuat semuanya kacau. Aku mengeluarkan pedang dan mengayunkannya kedepan
__ADS_1
"Turbo" Tornado merah raksasa keluar dan bergerak kearah mereka. Tornado itu menarik api dan membuat tornado api raksasa
Penyihirnya dulu "Incar penyihirnya. Gunakan panah ketiga!" "Baik. Bersiap. Bidik. Tembak!!!"(Farel)
Ratusan panah melesat kearah bagian belakang pasukan "Vulgur" Ratusan petir menyambar kearah penyihir.
Aku juga menggunakan perangkap dan Force yang langsung membuat ledakan dimana-mana.
Tiba-tiba sekejap cahaya langsung melesat dan menghancurkan dinding tanah yang kami pijak. Membuat seluruh dinding runtuh.
Kami terjatuh. Dengan cepat aku mengayunkan pedang "Ventum" Angin berhembus membawa kita semua kembali kedalam pasukan
"Kalian semua mundur dan bersiap. Lusar!!! Siapkan Formasi Knight" "Aku mengerti. Formasi keempat"(Lusar)
Para Ksatria berdiri memanjang dengan perisai besar ada didepan mereka "Fotress"(Semua ksatria)
Dinding cahaya terbentuk dan terjalin diantara mereka membentuk dinding besar "Monss. Terra"
Force milikku juga menyelimuti mereka, ditambah dinding tanah muncul didepan mereka.
Puluhan ledakan terdengar menghantam dinding. Mereka mulai menyerang, lebih baik menyerang sekarang saat mereka baru bersiap
"Para pemanah kembali ke formasi!" "Baik. Kembali ke formasi"(Farel) "Laria, bersiap jika pertahanan hancur. Sirus bantu perkuat pertahanan. Aku mengandalkanmu"
"Baik panglima"(Laria) "Aku mengerti"(Sirus)
Dinding tanah baru berdiri belasan bola api sudah mengarah kesini "Biarkan aku saja. Ignis"
Aku menusukkan pedangku kedepan, belasan api membentuk tombak yang langsung menembus bola api itu.
Ribuan prajurit mulai menyerbu kesini. Meski kacau gerakan mereka seirama. Dengan force milikku aku mengacaukan irama mereka.
Dengan membuat beberapa prajurit jadi lebih lambat bahkan ada yang sengaja kubakar.
"Tembak!!!"(Farel) Ratusan panah terbang lagi kearah mereka
Ledakan terus terjadi tanpa henti, belum ada korban sedikitpun dari pihak kami yang merupakan keberuntungan.
"Bidik!!! Tembak!!!"(Farel) keadaan memanas sekarang tanpa henti dari kami menghabiskan banyak prajurit mereka
"Kalau begitu bukanya ini saat yang bagus untuk membunuh ribuan prajurit sekaligus? Terra!"
Retakan terlihat diseluruh tanah yang mereka injak. Beberapa tanah mulai terpisah dan jurang tanpa dasar terlihat diantaranya.
Ratusan prajurit jatuh kedalam jurang, satu persatu tanah yang terpisah mulai runtuh dan membunuh ratusan prajurit sekaligus.
__ADS_1
Aku kelelahan, menggunakan Force sebanyak ini memang sedikit berat untukku "Ganti dengan panah tiga"
"Aku mengerti"(Farel) Puluhan bola api kembali melesat kearah kami. Panah mulai melesat kearah sana
"Toni..Tribus" Semua panah berubah jadi rentetan petir yang menyambar semua prajurit dan bola api itu.
Bola api langsung hancur terkena petir dan prajurit yang ada di kepingan tanah terjebak tersambar dan runtuh kedalam jurang.
Pandanganku mulai kabur tapi aku harus bertahan dulu "Panglima!!! Apa itu?"(Farel)
Ada apa? Karena pandanganku mulai kabur.
Aku harus fokus untuk melihat matahari itu...
MATAHARI? MATAHARI ITU MELESAT KEARAH SINI!!!
"Apa yang harus kami lakukan panglima?"(Farel) "Bertahan. Kalian harus bertahan selama mungkin tanpaku. INFERNUS"
Aku mengarahkan pedangku ke bola api raksasa sebesar matahari itu. Force jadi api yang menyelimuti pedangku.
Dengan Force itu aku menulis rune Infernus berkali-kali tanpa henti. Retakan mulai terlihat dipedangku, bahkan suara retakannya terdengar nyaring ditelingaku
"Maaf ya, Carl" Tombak api raksasa melesat dari pedangku menusuk bola api itu. Meski begitu bola api raksasa itu masih terus maju.
Dengan teriakanku aku berhasil membelah bola api itu. Ledakan terjadi di ujung sana karenaku.
Dinding api raksasa muncul dan membelah prajurit musuh jadi 2 bagian. Aku menutup mulutku, bau besi dan anyir memenuhi hidungku.
Meski tidak dilihat akupun tahu kalau darah keluar dari mulutku ini. Meski begitu aku masih mencoba bertahan.
Pandanganku sudah mulai hitam. Semuanya jadi berbayang, kabur, dan tidak jelas
"Panglima. Kamu tidak apa-apa...."(Farel)
Aku tidak bisa mendengar suara Farel lagi. Pandanganku mulai hitam semuanya, hanya angin yang bisa kurasakan menerpa wajahku
Sepertinya aku kehilangan kesadaran.
Aku membuka mataku, dan aku ada didalam tenda. Apa yang terjadi saat perang? Tidak ada orang yang bisa kutanyai.
Disampingku terlihat pedangku yang sudah patah jadi 2 Aku harus meminta maaf pada Carl untuk hal itu.
"Ya, aku akan menyampaikannya pada panglima jika dia sudah sadar. Istirahatlah"(Sirus)
Sirus membuka tenda "Kamu sudah sadar?"(Sirus) "Ya, baru saja" Aku ingin tahu bagaimana keadaan medan perang sekarang
__ADS_1
**TO BE COUNTINUE...***