Runes Swordsman

Runes Swordsman
Part 45


__ADS_3

Akhirnya setelah aku tidak tahu beberapa lama Lizra dan Valerie bertengkar baru berhenti, terus duduk bersama sambil memakan kue


"Oh, ya Josh. Pesananmu sudah siap"(Lizra)


"Alat sihir itu ya? Apa besar alatnya?"


"Sayangnya besar untuk ke tempatmu butuh waktu 2 bulan penuh"(Lizra)


"Begitu ya. Mungkin nanti aku bisa melihatnya dulu, siapa tahu aku bisa memasang rune angin untuk meringankan beratnya"


"Ide itu tidak buruk. Sayangnya kami tidak bisa memasang rune disana karena akan mengacaukan kerja alat sihir itu"(Lizra)


Kami mengobrol beberapa lama sampai aku merasa ini sudah saatnya "Aku ingin bertanya sesuatu" "Apa itu?"(Lizra) "Valerie. Aku serius tentang ini, apa yang kamu mau dengan menikah denganku?"


"Kamu masih mempertanyakan soal itu?"(Valerie) "Tentu saja. Aku ini suka dengan suatu hal yang pasti, aku lebih suka mengacaukan hubungan dengan mencurigai temanku daripada di khianati tau"


"Kalau kamu tahu. Memangnya apa yang kamu mau lakukan?"(Lizra) "Aku akan mencoba mengabulkannya meski kita tidak harus menikah"


"Aku tidak mau membicarakannya"(Valerie)


"Lah? Dengar Valerie. Aku akan menghabiskan waktuku di gunung Monrra entah sampai kapan. Jika kamu menikah denganku, kamu akan hidup ditempat seperti itu. Apa kamu rela melepaskan semua kenikmatan yang kamu rasakan sampai sekarang"


"Biar aku saja yang katakan. Selain rune yang di kejar Valerie itu kebebasan. Menjadi penyihir itu tekad Valerie dari dulu, tapi berbeda dengan ayahnya. Ayahnya ingin Valerie jadi wanita anggun demi menjadikannya alat pernikahan politik demi keuntungannya"(Lizra)


"Jadi menikah denganku berarti..." "Benar. Dia percaya kamu akan memberikannya kebebasan"(Lizra)


"Jadi begitu ya. Mendengarnya sih, kalau bukan aku memang hampir mustahil"


Karena setelah menikah biasanya urusan tuan tanah didalam rumah itu diurus oleh istrinya.


Jika hal itu tidak diurus oleh istrinya berarti harus diurus oleh Butler dan kepala pelayan.


Itu akan membuka lebih banyak celah pada keuangan rumah tangga.


Bukan tidak mungkin seluruh keluarga akan hancur. Tapi hal itu bukanlah masalah untukku


"Aku mengerti, jika memang hanya menikah denganku cara untuk menjadi bahagia. Aku akan mendukungnya tidak perduli apapun keinginanmu"


"Terima kasih, kamu mau melakukan itu untukku. Tapi tenang saja, aku akan melakukan tugas istri dengan baik"(Valerie)

__ADS_1


"Sudah kubilangkan. Katakan saja dia ini lebih percaya pada keinginan mustahil daripada kenyataan yang jelas"(Lizra)


"Siapa yang berani mengatakan hal itu pada calon suami? Itu seperti mengatakan 'Selamanya aku tidak akan mengakui sebagai istrimu"(Valerie)


"Ada benarnya. Tapi itu berlaku untuk pria yang normal"(Lizra) "Jadi maksudmu aku tidak normal?"


"Ohh.. Ternyata begitu, tenang saja aku akan membantumu sebisa mungkin. Meski kamu tidak tertarik denganku"(Valerie)


"Aku masih normal. Valerie" "Yang bilang dia punya kelainan siapa? Maksudku yang tidak normal tingkahmu"(Lizra)


"Entah kenapa itu masih terasa menyakitkan untuk perasaanku" Valerie langsung membuang muka dan menahan tawa


Tiba-tiba Lizra tersenyum dan mendekatkan mukanya padaku "Apa kamu tahu alasan lain Valerie mau menikah denganmu?"(Lizra)


"Tidak. Memang apalagi?" "Cuma kamu yang bisa menahan serangan sihirnya"(Lizra) "Guru!!!"(Valerie)


Gantian aku yang tertawa mendengar itu. Tidak terasa sudah menghabiskan banyak waktu untuk berbicara. Lizra sudah harus pergi lebih dulu


"Guru harus datang di pernikahanku"(Valerie)


"Tentu saja. Aku harus melihat wajahmu nanti"(Lizra)


"Aku ikut ya"(Valerie) "Tentu saja. Kamu kan calon menantu mereka" Aku membantu Valerie naik kedalam kereta kuda.


Baru aku menyusul, aku memberitahu kusir untuk ke penginapan tempat orang tuaku menginap.


Aku turun duluan dan membantu Valerie turun "Sepertinya kamu agak keterlaluan kepada orang tuamu"(Valerie)


"Memang kenapa? Mereka yang memilih penginapan ini sendiri" Penginapan tempat kedua orang tuaku menginap merupakan penginapan 2 lantai


Dengan bagian luar sedikit terlihat tua. Kami masuk kedalam dan Valerie kembali menarik perhatian.


Untung saja Ibu dan Ayah ada di lantai 1 menikmati makan siang "Bu, ayah. Apa kalian sudah lama menunggu?"


"Josh. Kemana saja kamu? Dan siapa wanita cantik itu?"(Ibu) "Aku Valerie von Rosefield bisa dibilang calon istri Josh"(Valerie)


"Ah.. Bangsawan, aku tadinya hanya berharap Josh bisa menikah dengan gadis baik. Malah bisa menikah dengan bangsawan. Maafkan perilaku tidak tahu malu milik Josh ya"(Ibu)


"Ibu..." "Tidak masalah ko. Aku bisa menangani sifatnya yang kurang ajar"(Valerie)

__ADS_1


"Josh. Gimana kabarmu setelah perang itu?"(Ayah)


"Seperti yang terlihat. Tubuh masih lengkap dan aku masih sehat dan kuat" "Ayo nak duduk"(Ibu)


Ibu memaksa Valerie duduk "Josh harusnya kamu memberikan rumah untuk orang tuamu. Masa mereka dibiarkan dipenginapan seperti ini"(Valerie)


"Tidak. Itu tidak masalah ko, cuma beberapa hari di penginapan tidak membuat kami sakit. Lebih baik daripada beberapa bulan di padang tandus dipenuhi rasa takut"(Ibu)


"Benar. Keberanianmu pantas dibanggakan. Josh"(Ayah) "Terima kasih ayah, ibu. Untuk sekarang aku belum bisa memberikan rumah untuk kalian, tapi tidak perlu khawatir setelah aku mendapat gelar bangsawan. Aku akan membelikan rumah di ibukota"


"Tidak perlu. Akan aku berikan rumah disini"(Valerie) "Ah itu tidak perlu. Kami tidak akan merepotkan calon menantu kami"(Ibu)


"Benar. Tidak masalah disini saja. Hanya untuk 1 minggu ini"(Ayah) "Tenang saja. Kemas semua perlengkapan kalian dan ayo kita berangkat"(Valerie)


"Apa tidak apa-apa memberi rumah milik Viscount Rosefield?" "Aku akan memberikan rumah dari aset milikku. Bukan ayahku"(Valerie)


"Ohh... Kamu punya uang ya, kupikir itu uang jajan dari ayahmu" Valerie tersenyum dan mencubit pinggangku


"Aw..aw..aw Sakit Valerie" "Tingkahmu sudah melewati batas toleransiku"(Valerie) "ya, ya Aku minta maaf. Aku cuma bercanda saja tadi"


Valerie melepas cubitannya "Kalau tidak ada orang tuamu. Sudah kubakar kamu"(Valerie)


"Ya, ya maafkan aku"


Ibu dan ayah sudah mengemas kopernya


"Apa ini tidak apa-apa?"(Ibu) "Tenang saja. Kalian calon besan Rosefield. Menginap di penginapan seperti ini merupakan penghinaan"(Valerie)


"Ayo, ibu, ayah" Ibu dan Ayah malah terkesima melihat kereta kuda dengan lambang Rosefield


"Ayo naik. Tidak perlu khawatir meski terlihat bagus dalamnya tetap tidak nyaman" "Wah.. Kamu benar-benar cari masalah ya"(Valerie)


"Maaf. Aku cuma bercanda saja" Ayah membantu ibu naik dan ayah menyusul. Aku membantu Valerie naik dan aku malah diberi cubitan lagi.


Sambil mengelus tanganku, aku naik kedalam kereta kuda. Kereta kuda berhenti di rumah kecil 2 lantai di pusat kota.


Setelah berusaha menenangkan ibu dan ayah yang menolak ini kami akhirnya berpisah dan aku kembali ke istana.


**TO BE COUNTINUE...***

__ADS_1


__ADS_2