
Pasukanku yang cuma 400 datang dari belakang memblokir arah musuh mundur. Ditambah pasukan terdepan juga mengganas karena melihat kami mengalahkan panglima musuh.
"Mons" Gunung tanah merah muncul dibagian belakang yang memanjang 3 km baik ke kanan maupun kekiri. Menutup jalan mundur sepenuhnya
"Ventum. Dengar kalian semua prajurit musuh, panglima kalian sudah kami tangkap jatuhkan senjata kalian dan angkat tangan kalian jika mau menyerah. Jika tidak... MATI!!!"
Mendengar suaraku pasukan musuh banyak yang membuang senjatanya dan mengangkat tangannya.
Pasukanku juga hanya membunuh mereka yang tidak menyerah. Dalam sekejap perang berakhir dengan kerugian dipihakku sekitar 300 orang.
Dan mendapat tahanan perang sebanyak 700 orang. Secara teknis ini menguntungkan.
"Sekarang tinggal kamu"
Aku menatap wanita mantan panglima musuh dengan tangan dan kaki yang terkubur tanah dan batu
Aku menatap kearah tombaknya, dan menarik tombak itu. Angin yang menyelimuti tombak itu membuat sayatan kesegala arah
"Apa kamu tidak tahu kalau senjata sihir itu hanya bisa digunakan oleh pemiliknya?"(Wanita)
"Ya, aku tahu. Lagipula aku sudah menangani 3 senjata sihir. Glacies" Es merah menutupi seluruh tombak itu
"Bawa nih. Dan sekarang kamu. Terra" Wanita itu terdorong untuk berdiri. Tangan dan kakinya menyatu dan tertutup batu.
Dan tubuhnya juga ikut tertutup batu sepenuhnya menyisakan kepalanya saja
"Bawa dia juga"
Mereka saling menatap, dan akhirnya Lusar yang membawa wanita itu sementara tombaknya dibawa Laria
"Sirus urus semua prajurit kita dan kembali. Stain perintahkan tahanan perang untuk berbaris" "Baik"(Sirus & Stain)
Dengan cepat mereka semua sudah selesai. Hanya menyisakan ratusan tahanan perang saja.
"Baiklah, ini adalah perintah pertama untuk kalian semua yang ada disini. Kumpulkan semua mayat yang ada ditempat ini. SEKARANG!!"
Tidak perlu perintah kedua mereka mulai mengumpulkan semua mayat yang ada disana.
"Terra" Lubang raksasa terbentuk, aku tidak tahu ukurannya tapi ini pasti cukup untuk semua korban di medan perang ini
__ADS_1
"Stain pisahkan semua senjata dan zirahnya. Jika ada yang melawan bunuh saja"
"Baiklah"(Stain)
Satu persatu mayat pasukanku dan pasukan musuh masuk kedalam lubang. Dengan keadaan yang berbeda, aku membiarkan zirah dan senjata mereka masih ada pada pasukanku
Dan melucuti semua zirah dan senjata milik pasukan musuh. Hal ini menimbulkan ketidak senangan kepada tahanan perang.
Mau bagaimana lagi mereka cuma tahanan.
Setelah semua selesai kami kembali ke pos, dan mengirim elangku ke benteng dan memberitahukan kabar kemenangan kami.
Dan akhirnya kita kembali ke benteng.
Keesokan harinya benteng sudah terlihat, pasukan yang baru datang didalam benteng membukakan pintu.
Pasukan dari mana itu? "Kalian sudah kembali"(Sani) "Sirus, Lusar, Farel urus pasukan kita dan biarkan mereka istirahat. Laria atur tenaga medis untuk mereka yang terluka, dan Stain perintahkan para tahanan untuk membangun tenda diluar benteng"
"Diluar? Apa tidak masalah memperlakukan mereka seperti itu?"(Stain) "Mereka harus diperlakukan seperti itu. Benteng itu memiliki banyak rahasia yang aku sendiri tidak tahu, jika mereka menggunakannya untuk berkhianat kita semua yang akan menderita"
"Baiklah. Aku mengerti"(Stain) "Sekarang Sani, pasukan siapa itu?" "Mereka pasukan gabungan dari Marquess, Viscount, Baron, dan tentara bayaran"(Sani)
"Kenapa mereka baru datang sekarang?" "Untuk mendapat prestasi? Meski yang tentara bayaran memang terlambat karena perjalanan"(Sani)
"Hah? Kamu membuat pembatas? Apa itu tidak keterlaluan? Bagaimanapun kebanyakan mereka merupakan prajurit dari bangsawan lo"(Sani)
"Aku tidak perduli dengan perasaan orang yang tidak bertarung bersama kami dan hanya ingin ikut mendapat jasa. Aku lebih perduli dengan pasukanku saja"
"Tapi bukanya itu bisa memulai konflik?"(Sani) "Sekalipun perang akan meletus aku akan tetap melakukan hal itu"
Aku masuk kedalam, setelah sampai diruanganku ketukan pintu terdengar
"Josh anak dari Viscount ingin bertemu"(Sirus)
"Aku lelah. Besok saja kumpulkan semua perwakilan prajurit yang baru datang ke ruang rapat" "Baiklah kalau begitu"(Sirus)
Baju yang penuh darah saja masih belum dicuci dan mereka sudah mau protes. Dasar bangsawan manja.
Keesokan paginya aku sudah hadir di rapat dengan 5 orang baru disana, salah satunya aku kenal
__ADS_1
"Tuan mudah Ralph ya? Kenapa anda kesini?"
Ralph adalah anak sulung dari Baron Heath karena itu aku sangat mengenalnya, dia juga membantu saat perang di kawasan Baron Heath
"Sirus. Bawa tuan Ralph dan pasukannya istirahat" "Baik"(Sirus) "Terima kasih tuan Josh, maaf kami baru sampai sekarang setelah mengurus bekas perang waktu itu"(Ralph)
"Tidak perlu sungkan" "Kalau begitu saya undur diri dulu"(Ralph) Ralph pergi keluar dengan Sirus
"Lalu kalian? Tolong perkenalkan diri kalian karena aku baru dalam hal ini" "Kami semua pemimpin pasukan duke Racantry. Jadi perlakukan kami dengan baik"(Pria besar)
"Tidak mau. Aku terlalu sibuk mengatur dan mengurus pasukan" "Kamu--"(Pria besar)
Satu pria lain menahan pria itu
"Tenang dulu tuan Dorlin. Dia ini putra pewaris dari Marquess Runty bersama saudaranya Elios Runtry hadir disini. Dan saya sendiri adalah pewaris dari Viscount Hanfry. Harlie, harusnya kamu yang bukan bangsawan memberi hormat kepada kami"(Harlie)
"Untuk apa?" "Kami disini datang untuk membantumu mempertahan benteng ini"(Pria tinggi) "Dan kamu siapa?"
"Aku putra Baron Wrill. James Wrill"(James)
"Ok. James, Dorlin, Elios, dan Harlie. Aku bertanya untuk apa kalian kesini?"
"Kan sudah dibilang tadi untuk membantu memper-"(Harlie) "Tidak perlu. Perang sudah berakhir"
"Tidak mungkin"(Dorlin) "Bagaimana bisa perang dengan ribuan prajurit berakhir hanya dalam beberapa bulan?"(Elios)
"Memang itu kebenarannya. Perang sudah berakhir. Benteng kami berhasil dipertahankan dan tidak akan ada serangan lain. Jadi kalian bisa kembali, aku tidak mau memberikan jasa apapun pada kalian"
"Itu.."(Harlie) "Kami saja tidak disambut disini. Mau kami tuntut anda"(Dorlin) "Ohh.. Silahkan, kalian sendiri juga begitukan. Menggunakan jabatan untuk masuk kedalam benteng"
"Soal itu"(Dorlin) "Sudahlah. Kalian bisa pergi saja, aku tidak butuh bantuan kalian lagi"
"Aku tahu soal kemarahanmu. Tapi daerah ini sangat tandus. Membuat desa disini hampir mustahil selama ini kalian hidup dengan bantuan dari wilayah lain. Takutnya setelah kalian mengusir kami keadaan jadi memburuk"(Elios)
"Aku tidak masalah. Berbeda dengan kalian, kami disini sudah bersiap untuk mati. Jika kami mati karena kekurangan persediaan pasti akan mempengaruhi medan perang yang lain kan?"
Mendengar itu Elios memucat. Jika kami dikirim kesini berhasil menang dan mati karena kekurangan persediaan.
Pasti hal itu akan sampai ketelinga raja dan para prajurit garis depan. Yang mana akan menurunkan moral.
__ADS_1
Mau tidak mau raja harus mengambil keputusan dengan menghukum bangsawan yang terlibat. Saat itu aku mau tahu bagaimana wajah mereka nanti.
**TO BE COUNTINUE...***