
Aku berjalan kearah gerbang dengan perasaan bercampur aduk. Aku salah sangka sebenarnya yang pantas diwaspadai itu adalah raja bukan putra mahkota.
Meski terlihat tidak tahu apa-apa sebenarnya dia sudah tahu semua kelakuan anak-anaknya, hanya saja dia tetap diam.
Marquess Marband akan mati bukan karena putra mahkota melainkan karena kemauan raja itu sediri
Apa tujuannya melemahkan para bangsawan? Tapi kenapa? Marquess Marband memang memiliki daerah yang subur dan dikenal sebagai pusat obat-obatan kerajaan. Tapi hanya itu saja.
Wilayahnya tidak memiliki kekuatan yang kuat. Bahkan sering dijadikan incaran putra mahkota seperti sekarang ini.
Aku tidak mengerti sama sekali mau raja itu. Aku melihat wanita dengan gaun hitam berjalan bersama 2 anak, satu perempuan satu laki-laki
Aku mengenal wanita itu. Dia istri sah dari Marquess Marband "Nyonya Marchioness"
Wanita itu menoleh
"Ahh.. Tuan Viscount Monrra, anda masih berada disini?"(Marchioness Marband)
"Ya, tadi hamba menemui baginda sebentar. Apa ini marquess muda?"
"Ya, ini kedua anakku Julian dan Margaret. Beri salam anak-anak"(Marchioness) "Salam tuan Monrra"(Julian) "Selamat siang"(Margaret)
"Selamat siang. Ahhh, apa anda habis menemui Marquess Marband?" "Ya, saya habis menemui suami saya. Mengingat ini pertemuan terakhir kami"(Marchioness)
Eksekusi tertutup adalah hukuman mati untuk pahlawan atau yang memiliki jasa tinggi untuk kerajaan
Biasanya setelah diputuskan dapat hukuman seperti itu. Pelaku akan diasingkan disuatu tempat dan dihukum mati tanpa ada yang mengetahui kapan dan dimana tempatnya
"Maaf aku tidak bisa membantu Marquess lepas dari hukuman mati" "Tidak apa-apa. Suamiku juga berterima kasih karena berkat Viscount keluarga kami masih bisa hidup sebagai bangsawan"(Marchioness)
"Keadaan akan semakin sulit nantinya. Kedua anak anda bahkan akan dikeluarkan dari akademi. Apalagi pajak dari istana yang terlalu banyak akan membuat semua keadaan semakin memburuk"
"Ya, aku tahu itu. Hanya saja itu lebih baik daripada kehilangan seluruh keluarga. Aku pasti bisa mencari jalan keluarnya nanti"(Marchioness)
"Anda tidak perlu khawatir seperti itu. Aku akan membantu jika butuh bantuan, terutama untuk pendidikan anak anda. Di wilayah kami, aku membangun sekolah untuk pendidikan penduduk. Hanya saja untuk rakyat biasa bukan bangsawan"
"Terima kasih Viscount atas tawarannya. Nanti jika aku membutuhkannya aku akan menghubungi anda"(Marchioness)
"Bagaimanapun Marquess adalah teman seperjuanganku. Jadi aku juga merasa bersalah tidak bisa membantunya"
__ADS_1
"Yang Viscount lakukan sudah jauh lebih membantu daripada yang mulia pangeran ketiga. Hamba permisi dulu, ayo Julian, Margaret"(Marchioness)
Aku diam memperhatikan Marchioness dan kedua anaknya pergi. Meski aku berhasil mengagalkan pembasmian Marquess Marband. Kayaknya tidak bisa mencegah pihak pangeran ketiga goyah.
Melihat keadaan Marchioness kali ini. Mustahil beliau akan berada di pihak pangeran ketiga.
Meski sekarang beliau akan sibuk, meski keadaan sudah stabilpun. Beliau tidak akan mempercayai pangeran lagi, melihat tindakannya di ruang sidang tadi.
Marchioness dan kedua anaknya sudah naik kereta kuda dan pergi. Aku juga sebaiknya pergi juga.
Aku menaiki kereta kudaku dan pergi ke rumah Valerie di ibukota setelahnya kembali berangkat ke Monrra.
3 bulan sudah berlalu setelah sidang itu. Keadaan Monrra semakin kacau, aku meremehkan keadaan buruk iklim disini.
Danau yang dibentuk dengan alat sihir sudah kering. Seluruh panen rusak parah, ditambah ulah putra mahkota yang melarang wilayah lain berdagang denganku membuat keadaan disini semakin pelik
Selain itu aku harus membersihkan perbatasan Rodigur setiap bulan ini semua membebani keadaanku.
Untung saja berkat asosiasi dagang yang kusembunyikan, keadaan wilayah ini tidak langsung hancur.
Tapi itu semua hanya menunda keadaan saja.
Menurut mereka mengembalikan keadaan Monrra bukanlah hal yang sulit, tapi aku perlu kristal sihir untuk itu
Masalahnya harga kristal sihir itu mahal satunya sekitar 10 Ero dan aku butuh lumayan banyak
Memikirkan hal ini sungguh membuat kepala sakit setengah mati. Untungnya Lizra mau datang kesini untuk melihat keadaan.
Sekarang disinilah kami. Didepan danau kering, tumbuhan yang tadinya tumbuh disini saja sudah tidak ada
"Ternyata keadaanya jauh lebih buruk daripada yang kuperkirakan ya"(Lizra) "Begitulah. Putra mahkota juga membuat keadaan semakin kacau saja"
"Mana disini juga jadi kering dan panas. Bahkan suhu disini naik lebih tinggi daripada saat aku pertama kali datang"(Valerie)
"Separah itu? Kenapa aku tidak sadar ya?" "Mungkin karena sudah terbiasa"(Lizra)
"Kamu selalu diluar daripada di Mansion. Wajarlah kamu tidak menyadarinya"(Valerie)
"Apa tidak ada cara menyelesaikan hal ini?"
__ADS_1
"Entahlah. Tempat ini sudah terlalu kering, bahkan alat sihir sekalipun tidak bisa memperbaiki keadaan ini"(Lizra)
"Sepertinya kita harus menyerah dengan tempat ini Josh. Lebih baik bicara pada raja untuk memberikan salah satu daerah Rodigur"(Valerie)
"Kamu tahukan kalau itu tidak mungkin. Valerie kembalilah ke mansion bersama Lizra dulu. Aku ingin mendinginkan kepalaku sebentar"
"Sepertinya bukan hal baik minum-minum sekarang"(Lizra) "Guru. Biarkan Josh berpikir sebentar, ayo kita minum teh di Mansion"(Valerie)
"Teh? Saat keadaan seperti ini? Yang benar saja"(Lizra) Lizra dan Valerie pergi kearah Mansion
"Aku sajikan es teh itu bisa....."(Valerie) Valerie semakin jauh dan suaranya tidak terdengar lagi.
Aku pergi kekota bawah tanah lagi. Aku perlu bicara dengan Dwarf disana. Akhirnya aku memutuskan untuk mampir kerumah Dwarsen sambil membawa sebotol akholol
Kota bawah tanah selalu panas, bahkan suhu disini lebih tinggi daripada diatas berkat Eternal Furnace.
Berbeda dengan yang dipermukaan yang sudah ditutup agar tidak lebih panas
"Josh apa kabar?"(Dwarsen) "Kamu menghinaku?"
Aku sudah sampai di rumah Dwarsen dan disambut Dwarsen secara langsung "Akholol"(Dwarsen)
Aku memberikan Akholol itu pada Dwarsen "Masih memikirkan keadaan tanah ini?"(Dwarsen) "Begitulah. Sulit mendapat kristal sihir sekarang ini. Kalau ada juga harganya mahal"
"Wajarlah, kristal sihir hanya bisa didapat di tambang sihir. Kebanyakan tambang itu di daerah timur dan selatan"(Dwarsen)
Aku semakin lemas. Mustahil aku bisa mendapatkan kristal sihir dengan pengawasan putra mahkota itu
"Apa tidak ada jalan lain ya?" "Ini"(Dwarsen)
Dwarsen memberikan segelas akholol. Aku langsung meneguknya sampai habis
"Bagaimana kalau ada?"(Dwarsen) "Kalau ada sudah kulakukan dari awal" Kepalaku mulai pusing tapi aku terus minum akholol itu
"benar ada cara lain. Tapi ngapain mikirin sekarang yang penting minum saja"(Dwarsen)
"Kamu benar. Masa bodoh dengan wilayah tandus ini, masa bodoh dengan raja, putra mahkota bangsawan sialan itu. Lebih baik pergi kalian semua keneraka"
Aku minum bersama Dwarsen sepanjang hari sampai malam mengesampingkan urusan soal tanah ini. Sudah cukup tanah ini membebaniku selama ini
__ADS_1
**TO BE COUNTINUE...***