
"Udah ah, cepetan anterin gue pulang, gue ada keperluan penting nih!" sahut Bening yang saat itu dirinya mendapatkan pesan singkat dari Asistennya di tempat dirinya praktek, jika ada pasien sepasang suami istri yang sedang menunggunya.
"Urusan penting? Lebih penting kah daripada gue?" sahut Alaska yang masih saja menggoda sohibnya itu. Bening pun tidak memperdulikan omongan sang sohib, ia fokus ke jalan raya agar Alaska bisa menurunkan dirinya di tempat ia praktek.
"Eh berhenti stop! Turunkan gue di depan situ?" tunjuk Bening pada sebuah tempat di mana letaknya pas di depan sebuah klinik dokter Bening.
Alaska berhenti tepat di depan klinik milik Bening dan untuk kesekian kalinya Alaska sangat terkejut saat tahu nama klinik itu sama seperti nama sohibnya.
"Thanks ya, Al! Gue turun dulu!" pamit Bening sembari membuka pintu mobil.
"Tunggu, Ning?" sahut Alaska.
"Iya?" Bening kembali menatap wajah sohibnya.
__ADS_1
"Kok elu turun di sini? Apa elu mau periksa? Ini kan klinik dokter kandungan, elu hamil, ya? Eh elu kan belum punya suami. Rumah elu sebenarnya di mana sih? Itukan klinik, masa iya elu tinggal di sana? Terus nama kliniknya sama kayak nama elu, aneh ya? Masa elu yang jadi dokternya, itu sih nggak mungkin, elu tuh anaknya pecicilan, nggak mungkin elu jadi dokter kandungan," ucap Alaska yang masih meragukan jika Bening adalah seorang dokter.
"Hmm ... panjang banget woi kayak kereta api nyerocosnya. Iya! Gue terbiasa turun di sini, udah ya! Gue pergi dulu, eneg gue lihat muka elu terus!" ledek Bening yang seketika membuat Alaska garuk-garuk kepala, Bening masih saja sama seperti dulu, tidak pernah berubah. Cuek dan masa bodo.
"Eh Ning Ning! Ya elah nggak usah terburu-buru gitu dong! Kayak kebelet pipis aja, eh gue minta nomor teleponnya dong! Kali aja gue mau kirim santet sama elu, hehehe bercanda!!" ucap Alaska sembari cengengesan.
"Dasar dari dulu nggak sekarang, suka banget ngerepoti lu, keburu mbrojol nih pipis gue. Noh! Itu kartu nama gue! Nomor gue ada di situ! Awas kalo elu Miss call gue, nggak nerima Miss call, ya! Berani elu Miss call gue, langsung gue blokir, ngerti!! Eh satu lagi, gosah kirimin gue gambar yang aneh-aneh kayak dulu, ya! Tuh gambar yang bikin gue mules, foto-foto elu yang sok model itu, hmm. Menuh-menuhin memory aja!" ucap Bening sembari pergi meninggalkan Alaska yang melongo melihat Bening yang berbicara tanpa titik.
Alaska terus memperhatikan kemana sang sohib pergi, ternyata Bening masuk ke dalam klinik dokter kandungan itu, tentu saja Alaska pun penasaran kenapa Bening masuk ke dalam klinik tersebut, apakah benar jika Bening sedang mengandung.
Sontak, Alaska tidak menyangka jika sang sohib adalah seorang dokter, padahal saat di sekolah, Bening anaknya terkenal jail yang suka menganggu teman-teman sekelasnya, bahkan Bening pernah dipanggil ke ruangan BP gara-gara pernah memukul teman laki-lakinya yang selalu meledek Bening dengan sebutan cewek macho. Bagaimana tidak macho, saat sekolah Bening selalu berpenampilan seperti cowok, dengan rambut cepak dan suka sekali dengan olahraga karate, sehingga wajar saja jika Bening lebih memiliki teman cowok daripada teman cewek.
Sejenak, Alaska tersenyum. Ternyata sohibnya yang dulu terkenal super tomboi, sekarang adalah seorang dokter ahli kandungan.
__ADS_1
"Bening! Sepertinya gue nggak bisa berpaling dari elu!" ucap Alaska sembari menatap klinik milik Bening, setelah itu ia pun menyimpan nomor Bening dalam ponselnya. Kemudian Alaska pun pulang dengan wajah yang berseri-seri.
*
*
*
Sementara itu, setelah Bening masuk ke dalam kliniknya, ia pun melihat Aksa dan juga Zizi yang sudah menunggunya di kursi tunggu, Bening pun menyapa keduanya.
"Hei Aksa! Udah lama nunggunya?" sapa Bening sembari tersenyum.
"Eh ... nih dia baru nongol! Saya udah sehari semalam nungguin Mbak Bening datang, sampai lumutan, Mbak Bening kemana aja emang, habis keluyuran, ya!" balas Aksa yang tentunya membuat Bening tertawa.
__ADS_1
...BERSAMBUNG ...