
Robi pun berusaha untuk menghubungi nomor Aksa, ini bertujuan untuk memberi tahukan kepada Aksa untuk bersiap-siap jika pak lurah dan teman-temannya menanyakan tentang kepergian mereka.
Ponsel Aksa berdering, Aksa membiarkannya dan tidak mengangkatnya, ia tampak sibuk bersama sang istri menggapai kenikmatan surgawi, tapi tidak hanya sekali ponsel Aksa berdering, rupanya Robi berkali-kali menghubungi nomor sohibnya itu untuk memberitahu kan hal yang sebenarnya.
"Aduh lama banget sih ngangkat nya, nih anak ngapain sih!" keluh Robi sambil berkali-kali menghubungi nomor sang sohib. Fikri yang tahu itu cuma menyilangkan kedua tangannya sambil mengupil.
"Ya elah, kayak nggak tahu aja mereka sedang apa, pasti mereka sibuk bikin adek bayi, saran gue ya mending biarin aja tuh anak senang-senang, bodo amat lah sama pak lurah, lagian mereka suami istri kok, nggak bakalan ada yang ngelarang, mau jungkir balik kek, mau ngangkang kek, biarin aja lah suka-suka mereka," seru Fikri sambil membuang upilnya ke segala arah. Hingga tak sadar upil itu mengenai rambut Juleha.
Seketika Fikri meringis saat tahu harta karun miliknya menempel pada rambut Juleha. Ia pun memilih diam saja seolah tidak terjadi apa-apa. Hingga akhirnya, Robi pun berfikir jika apa yang dikatakan oleh Fikri itu ada benarnya.
"Elu bener juga sih, cuma gue khawatir aja kalau Aksa nggak bawa bukti jika mereka udah nikah, minim surat nikah lah, tapi masa iya Aksa bawa surat nikah pada kegiatan seperti ini, nggak mungkin, kan?" sahut Robi.
"Aduh itu sih urusan gampang, kita telepon aja Tante Asha tuh, minta kirimin foto-foto mereka pas kawin ... eh pas nikah ding! Udah gitu kita kirim tuh ke anak-anak dan pak lurah biar mereka puas. Udahlah nyantai aja, Bro! Biarkan mereka pada kepo, mending kita tidur aja, sumpah dingin banget, enak banget tuh si Aksa, pasti sekarang mereka sedang salto-salto, aih kapan gue kawin ... eh nikah!" sahut Fikri sambil membayangkan indahnya menjadi pengantin baru seperti Aksa dan Zizi.
Robi pun tertawa kecil dan menepuk pundak sohibnya itu sambil berkata, "Noh ada Juleha tuh, gas aja! Kayaknya elu cocok deh sama dia," ucapnya sembari melihat ke arah Juleha yang sedang merapikan rambutnya, hingga mereka melihat Juleha yang merasa jika ada sesuatu di rambutnya, sementara itu Fikri terlihat menahan rasa ingin tertawa.
Juleha menyentuh upil Fikri yang menempel pada rambutnya, dan Ia pun memperhatikannya dengan seksama.
__ADS_1
"Ihh apaan nih? Idiiih kok lengket gini?" Juleha pun lama-lama menyadari jika itu adalah upil, spontan ia pun berteriak sekencang mungkin, sehingga membuat teman-temannya terkejut dan melihat ke arah Juleha yang histeris.
"Huaaaaaa ... Mamaaaaaa ... ihhhh upil siapa ini yoloh!!" teriak Juleha sambil menunjuk rambutnya yang terkena upil Fikri.
"Eh Jul! Lu kenapa teriak-teriak? Kayak kesetanan saja, herann!!" sahut Robi menghampiri Juleha.
"Ini rambut gue!!!" tunjuk Juleha pada rambutnya, Robi pun memeriksa rambut Juleha, hingga akhirnya ia menyadari jika itu adalah upil.
"Astaga itu sih upil, ya ampun gede banget tuh upil, assseemmmm siapa tuh yang naruh upil segede itu di rambut elu Jul?" seru Robi yang seketika membuat Juleha membulatkan matanya.
"Apa? Upil ...?? Ihhh siapa sih yang jahat banget sama gue, sialan!!" umpat Juleha sambil membersihkan upil yang menempel pada rambutnya. Sementara itu Fikri tampak berpura-pura melihat-lihat ke arah atas sambil bersiul, sehingga membuat Robi menebak siapa yang sudah menaruh upil itu pada rambut Juleha.
"Hehehe ...!!"
Seketika Juleha mencoba memukul Fikri, tapi rupanya Fikri berusaha menghindari kejaran Juleha.
"Ohhh jadi elu rupanya, kurang ajar lu sama gue, elu pikir rambut gue tempat sampah, dasar pea sini lu!!"
__ADS_1
Akhirnya, Juleha dan Fikri saling mengejar, sementara itu pak lurah hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah mereka, dan pak lurah pun mengumumkan akan memberikan sanksi tegas kepada Aksa dan Zizi setelah mereka tiba di penginapan.
"Perhatian semuanya, ingatkan kepada teman kalian, jika saya akan tetap memberikan sanksi kepada mereka berdua, dan mungkin saya juga akan mengusir kalian dari desa saya, saya tidak mau desa saya tercemar oleh anak-anak muda yang tidak beretika, faham!!" seru pak lurah serius.
Di sisi lain, sudah dua kali Aksa naik gunung turun gunung, mendaki tempat favoritnya, yang sudah sangat dirindukannya. Menyelami lembah yang terlihat setengah gundul tapi tetap cantik dengan poni yang menambah manis tempat favorit Aksa.
"Zi!!"
"Hmmm!!"
"Lama-lama kok tambah enak, ya! Kamu pakai apa? Rasanya semakin menggigit, aduh Dede gemoy ku rasanya seperti dipijitin,"
"Benarkah? Aku minum ramuan rapet mingkem, Kang! Resep dari Oma. Biarpun udah di bobol berkali-kali, rasanya akan tetap seperti perawan iya, kan?"
"Yeaahhhh ... memang benar seperti perawan, menjepit sekali, aduh Zi!!! Nggak kuat aku, Zi!!"
Akhirnya, pelepasan untuk kedua kalinya bagi Aksa dan sungguh membuatnya sangat puas, ia melihat daerah itu kebanjiran tumpah meluber, meskipun sudah disemburkan pada rahim Zizi, karena begitu banyaknya cairan sel calon bayi yang dikeluarkan.
__ADS_1
Keduanya terkulai dan akhirnya tertidur pulas dengan posisi Zizi tidur pada pelukan Aksa dengan satu tangannya memegangi persneling kesukaannya.
...BERSAMBUNG ...