
Juminten merasa tersinggung dengan ucapan Robi, ia pun memilih menjauhi Robi yang selalu membuatnya kesal.
Akhirnya, mereka melanjutkan kembali perjalanan menuju ke tempat peternakan sapi yang tinggal beberapa puluh meter lagi, selama dalam gendongan Aksa, Zizi tampak selalu membisikkan sesuatu pada telinga sang suami, dan sesekali ia mengusap keringat pada wajah suaminya.
"Maafin aku, Akang! Gara-gara aku kamu jadi kerepotan seperti ini, kakiku kram banget soalnya," bisik Zizi sambil mengelap keringat suaminya.
"Ya elah kayak sama siapa aja, aku ini suamimu, ya aku nggak mau lah lihat istriku kecapekan mendaki, yang harusnya kecapean itu adalah aku, tapi sayangnya sudah lama aku tidak mendaki gunungmu, Zi!" balas Aksa yang membuat Zizi mencubit pipi sang suami. Aksa pun tertawa kecil.
"Hii apaan sih kamu, baru juga dua hari libur, masa udah nggak nahan sih," sahut Zizi.
"Bagiku dua hari itu lama banget, seperti dua bulan nggak ketemu, gimana nasibku nanti, kita di sini selama sebulan, bisa dikalikan satu hari seperti satu bulan, jadi satu bulan itu seperti sembilan ratus hari, aduuh karatan, Zi!" ungkap Aksa yang memaksa Zizi tertawa kecil.
"Ya ampun, Kang! Masa sampai segitunya sih, kasihan amat!!" ucap Zizi.
"Ya makanya itu, aku sungguh tersiksa mana setiap malam bangun lagi, lihat ke samping ada Robi dan Fikri lagi ngorok tidur, terpaksa bobo lagi tuh Dede gemoy kamu, belum lagi mereka berdua pas kentut, aduuh nggak jadi bangun lagi Dede gemoy kamu, kicep!" mendengar pengakuan dari sang suami, Zizi pun sedikit kasihan, tapi bagaimana lagi, mereka masih dalam tugas KKN yang memaksa mereka tidur terpisah.
__ADS_1
"Maaf ya, Kang! Aku belum bisa melayani kamu, ya kamu tahu sendiri bagaimana situasinya, rame terus banyak anak-anak," Aksa mencoba memahaminya.
"Iya aku tahu, emm tapi kita bisa kok keluar sebentar, di sekitar sini kan ada penginapan, nanti kita menyewa satu kamar khusus untuk kita berdua, anggap saja kita sedang bulan madu, sambil menyelam minum air, gimana kamu setuju, nggak?" seru Aksa.
"Terserah kamu saja, hmm pasti enak banget, Kang! Apalagi hawanya dingin banget di sini, pasti lebih hangat saat dalam pelukan kamu," balas Zizi yang seketika membuat Aksa mulai tidak tenang. Sambil menggendong istrinya, ia pun merasakan jika celananya mulai sesak, sudah dipastikan Dede gemoy itu terbangun dari tidurnya.
"Aduh, Zi! Sakit." Aksa tampak meringis kesakitan, Zizi pun terkejut dan mengira jika suaminya itu kelelahan menggendongnya.
"Akang! Kamu capek, ya! Ya udah turunin aku aja," pinta Zizi, tapi rupanya Aksa tidak menghiraukan rengekan istrinya.
"Aku nggak kecapekan, Zi! Hanya saja Dedenya bangun, aduh cenut-cenut banget, pinginnya sekarang aja," mendengar ucapan dari suaminya, Zizi pun hanya bisa menghela nafas panjang.
"Ya ampun lihat mereka berdua tuh mata gue jadi gatal," seru Juleha.
"Elu benar, Jul! nafas gue juga jadi engap, mana kaki capek banget lagi, asli nih tempat kondisi alamnya bener-bener ekstrim," sahut Juminten yang mulai kelelahan. Karena kasihan melihat kedua gadis itu yang terlihat kelelahan, akhirnya jiwa penolong bak pasukan Pramuka siaga, Robi dan Fikri menawarkan untuk menolong kedua gadis itu.
__ADS_1
"Eh elu berdua yakin bisa lanjut, sini gue bantu gendong kayak Zizi tuh, medannya ekstrim banget loh!" tawar Robi kepada Juminten. Pun sama Fikri juga menawarkan bantuan kepada Juleha.
"Robi bener tuh, mumpung kita lagi mode baik hati bak pasukan Pramuka, kita gendong elu pada gimana?" seru Fikri yang membuat Juleha dan Juminten sedikit berpikir, karena mereka berdua benar-benar sudah sangat lelah.
"Oke deh! Tapi ingat ya! Elu nggak usah macam-macam, awas aja lu!" seru Juminten kepada Robi.
"Ya elah! Emang gue mau ngapain elu? palingan nggak kerasa, orang rata gitu, palingan sebiji merica," balas Robi yang seketika membuat Juminten memegang kedua buah dadanya. Juminten mengira jika ucapan Robi menuju ke daerah itu.
"Enak aja dibilang rata, sok tahu lu!" seru Juminten yang tak terima dibilang rata.
"Lah itu buktinya nggak kelihatan montok, pasti sebiji merica tuh!" balas Robi sambil menunjuk ke arah dada Juminten yang nyatanya memang tepos.
"Diiih enak aja kalo ngomong, sebiji merica sebiji merica, punya elu tuh sebesar kelingking, gue yakin itu, hayo ngaku lu!" sahut Juminten yang membalas ucapan Robi jika milik Robi hanya sebesar kelingking, mengingat Robi memiliki tubuh sedikit gembul.
"Jiahaaa sebesar kelingking, kasihan amat lu Bro! Eh elu kok tau sih Jum kalau punya Robi sebesar kelingking, pasti pernah ngintip nih, hayo ngaku lu!" sahut Fikri yang membuat Robi maupun Juminten garuk-garuk kepala. Sementara itu Juleha juga ikut tertawa kecil mendengar ucapan Fikri yang cukup membuatnya geli, Fikri yang melihat Juleha tertawa, Ia pun bertanya kepada gadis itu.
__ADS_1
"Eh tumben lu bisa ketawa, Jul? Biasanya elu mrengut aja kayak kodok kejepit," ucapan Fikri spontan membuat Robi dan Juminten tertawa.
...BERSAMBUNG ...