SAHABATku PENGANTINku

SAHABATku PENGANTINku
Dibangunkan pak lurah


__ADS_3

Sari datang ke bapaknya dan mengadukan kepada pak lurah jika baru saja Ia melihat Aksa dan Zizi pergi berduaan. Tentu saja pak lurah sangat marah, mereka berdua dianggap sudah melanggar batasan norma kesusilaan, apalagi yang melakukan itu adalah gadis yang pak lurah sukai.


"Pak Pak, Bapak sepertinya harus segera bertindak!" seru Sari dengan panik.


"Memangnya kenapa kamu itu? Bapak ini lagi memeriksa dokumen penjualan lahan warga, nanti saja Bapak sedang sibuk!!" balas pak lurah sambil memeriksa kembali dokumen-dokumen itu.


"Aduh Pak! Pokoknya Bapak harus segera melakukan sekarang, ini gawat Pak! Pasti mereka keburu berbuat mesum," sahut Sari yang seketika membuat pak lurah istirahat memeriksa dokumen desa itu.


"Siapa yang mesum? Berani-berani sekali mereka berbuat bejat seperti itu, ini desa kekuasaanku, aku pasti akan memberikan sanksi tegas bagi siapapun yang berbuat tidak senonoh di desa ini, membuat malu desa kita saja," sahut pak lurah kesal. Kemudian Sari bercerita jika dirinya melihat Aksa dan Zizi yang pergi berduaan, Sari takut jika keduanya melakukan hal yang memalukan, karena tadi siang, Sari memergoki mereka baru saja keluar dari kamar mandi berduaan.


Pak lurah sangat kesal, dan ia pun tampak memintir-mintir kumisnya dengan tatapan mata yang tajam.


"Apa? Kamu melihat mereka pergi malam-malam? Ini tidak bisa dibiarkan, mereka sudah mencoreng nama baik desa kita, Bapak harus memberikan sanksi tegas kepada mereka, ini benar-benar keterlaluan," pak lurah terlihat sangat marah dan Ia pun segera membangunkan para mahasiswa yang saat itu sedang beristirahat.


Dengan wajah emosi, pak lurah meminta perhatian sebentar kepada mahasiswa yang tinggal di rumah yang disediakan olehnya.


Tentu saja apa yang dilakukan oleh pak lurah membuat semuanya terkejut tak terkecuali Robi dan Fikri. Saat mereka dibangunkan karena ada pengumuman dari pak lurah.

__ADS_1


"Hoaamm ... ada apaan sih ini, ngapain juga pak lurah bangunin kita malam-malam, mana mata masih ngantuk banget cuyy!!" seru Robi sambil mengucek matanya berkali-kali. Fikri pun tampaknya juga masih sangat mengantuk, ia juga tampak menguap berkali-kali sehingga membuat Robi tidak nyaman, aroma jigong dari mulut Fikri karena baru saja bangun tidur membuat Robi memaksa untuk menutup mulutnya sambil memukuli Fikri dengan sarung.


"Eh buset dah, bau banget mulut ku anjayy, sialan bikin hidung gue tersiksa aja lu!!" pekik Robi kesal. Fikri pun mencium aroma nafasnya sendiri yang menurut Robi tidak enak baunya.


"Hahhh ...." Seketika Fikri pusing dan berkunang-kunang setelah mencium aroma nafasnya sendiri.


"Eh buset, gini amat ya baunya!!" seru Fikri sambil tertawa senang. Robi pun segera beranjak untuk keluar dari kamar menyusul teman-temannya yang lain. Sementara itu Fikri masih bingung kenapa tengah malam mereka diminta bangun oleh kepala desa.


"Eh Bro! Kita ngapain sih, memangnya ada pengumuman apa dari pak lurah?" tanya Fikri yang mengikuti Robi dari belakang. Robi pun menjawabnya, "Ya mana gue tahu, mungkin bagi-bagi duit barangkali," jawabnya asal.


"Bagi-bagi duit, waaahhhh mau tuh!!" Fikri pun segera pergi keluar bersama Robi untuk keluar kamar, dengan penampilan yang acak-acakan karena mereka baru saja bangun tidur, Robi yang saat itu sedang memakai sarung yang ia tutupkan ke seluruh tubuhnya karena udara yang begitu dingin, dengan menyisakan mukanya saja yang terlihat, rupanya penampilan Robi ditertawakan oleh Juminten dan teman-temannya yang cewek.


Tanpa sadar Robi terus memperhatikan wajah Jumi yang baru bangun tidur, sementara itu Jumi tampak salah tingkah saat Robi melihat dirinya sedari tadi.


"Sialan nih kamvret! Lihatin gue mulu lagi, mana mukanya lucu banget, pingin ngakak aja lihatnya," Juminten bermonolog sendiri sembari menahan rasa ingin tertawanya, sehingga membuat bibirnya senyum-senyum kala melihat seluruh kepala Robi yang ditutupi oleh sarung menyisakan mukanya saja yang terlihat sangat lucu bagi Juminten.


Tentu saja Robi merasa jika Juminten sedang tersenyum kepadanya, dan ia pun nyatanya juga ikut tersenyum.

__ADS_1


"Anjayyy! Kok dia senyum gitu sama gue, salting nih gue jadinya,"


"Si Robi ngapain senyum-senyum sama gue? Dasar sarap tuh anak, gue kan lagi nahan tawa lihat muka dia yang kucrut!!"


Keduanya saling membatin, hingga akhirnya setelah semua mahasiswa terkumpul, pak lurah pun segera memberi tahukan pengumuman kepada semuanya tentang tata tertib di desa itu.


"Mohon maaf kepada Mbak dan Masnya, saya sudah membangunkan kalian malam-malam, saya cuma ingin menyampaikan sesuatu kepada kalian semua tentang sesuatu yang sangat saya sayangkan!!" seru pak lurah yang mulai membuka pidatonya.


Sementara di tempat lain, Aksa sudah tiba di depan sebuah hotel kelas melati, maklum di daerah seperti itu tidak ada hotel bintang lima, yang ada hanya penginapan sederhana untuk para turis bermalam.


Zizi melihat tulisan di depan penginapan itu, sejenak Zizi mengernyitkan dahinya saat membaca tulisan yang tertera di depan penginapan yang bertuliskan 'Penginapan Merem Melek'.


Aksa segera membawa istrinya untuk masuk ke dalam dan memesan satu kamar untuk mereka.


"Kang, kita ngapain ke sini? Kita mau nginep di sini? Itu nggak mungkin, Akang. Nanti teman-teman pada nyariin kita gimana hayo?!" sergah Zizi. Aksa pun mencoba menenangkan sang istri dengan berkata, "Kamu nggak usah khawatir gitu dong! Nggak ada yang ngelarang kita, kalau mereka tahu ya biarin aja, aku sih bodo amat, biar mereka semua tau kalau kamu adalah Istriku, sudah! Kamu tidak perlu tegang gitu dong! Rileks saja biar nggak sakit!!" perkataan Aksa spontan membuat Zizi mencubit pinggang suaminya.


Setelah mendaftar dengan memakai KTP milik Aksa, mereka pun segera masuk ke dalam kamar yang sudah disediakan.

__ADS_1


...BERSAMBUNG ...


__ADS_2