
Zizi pun panik melihat suaminya lemas karena dirinya, ia pun berusaha untuk menepuk-nepuk pipi Aksa agar suaminya itu segera sadar.
"Akang! Elu nggak apa-apa, kan? Maafin gue, gue nggak tahu kalau itu elu, habis elu ngumpet kayak maling gitu sih, tadi gue pikir maling beneran, eh nggak tahunya itu elu lagi nongkrong, elu juga sih ngapain juga nongkrong di bawah meja?" seru Zizi sambil menepuk-nepuk pipi sang suami yang saat itu sedang menikmati sebagai aktor yang pintar berakting.
Aksa berkata dengan suara lemas seolah-olah seperti tidak diberi makan selama tiga hari, matanya berat untuk membuka, dengan segala kekuatannya yang tinggal seuprit itu, Aksa berusaha untuk berkata. "Gue mau ke kamar aja, gue mau istirahat. Kepala gue sepertinya gagar otak gara-gara elu pukul, gue minta maaf jika gue udah nyakitin elu, Zi! Sepertinya gue udah nggak tahan, njiiiiiiiiiiirrrrrrrrrrrrrr!!!"
Mendengar ucapan dari sang majikan, tentu saja Bibi tertawa kecil, antara kasihan dan juga banyolan, entah itu beneran atau tidak yang jelas Bibi tertawa mendengar nada suara Aksa yang melemah, sementara itu Zizi tampak panik suaminya berkata seperti itu.
"Ah Akang jangan ngomong gitu dong! Jangan mati dulu, gue belum tahu rasanya ditusuk dengan baik dan benar, jangan main mati aja dong, kita belum baca buku itu seluruhnya, nanti kita baca lagi sampai tamat, maafin gue!! Pliss jangan mati dulu." seru Zizi sambil menggoyang-goyang tubuh sang suami. Dalam hati berkata, Aksa tampak girang ternyata sohibnya itu masih penasaran dengan tusukan Dede gemoy miliknya. "Aseekkk dasar Miss bawel, ternyata elu suka juga kan sama Dede gemoy gue, kerjain ah. Biar elu semakin penasaran."
__ADS_1
"Nyonya sebaiknya kita bawa Tuan ke kamar saja, biar bisa istirahat. Mari saya bantu. Kasihan Nyonya! Tuan lemes gitu." Seru bibi sambil menawarkan bantuan. Zizi pun mengangguk dan segera membawa suaminya untuk pergi ke kamar mereka.
Setelah mereka sampai di dalam kamar, Zizi menidurkan sang suami dengan sangat pelan, dan setelah itu bibi pamit untuk keluar dan mengambilkan minuman untuk Tuannya. Sementara itu Zizi tampak duduk di samping sohibnya sembari memeriksa kepala sang suami yang baru saja ia pukuli.
Posisi Zizi yang melihat kepala Aksa, memudahkan untuk pria itu menciumi aroma wangi tubuh istrinya, dimana dada Zizi terlihat menggantung indah dan seketika Aksa melek tatkala dua benda kenyal itu terpampang nyata di depan matanya.
"Nggak ada yang luka, kepalanya baik-baik saja," Zizi merasa jika kepala suaminya tidak terluka dan mengalami hal yang serius, kemudian Ia pun segera duduk dengan posisi semula, sejenak Ia melihat ekspresi wajah sang suami yang sedang menatapnya dengan lemas.
"Masih lemes? Gue ambilin minum, ya!" tawar Zizi serius. Aksa menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Gue nggak haus." Balasnya lemas dan melow seperti orang yang tidak makan selama tiga hari.
"Elu masih lemes, Kang! Gue beneran minta maaf, gue nggak tahu sumpah kalau itu elu. Ya ampun gue bersalah banget udah bikin elu lemes kek gini." Mendengar ucapan dari sang istri, Aksa pun membalasnya dengan nada yang tetap feel nya lemah tak berdaya.
"Badan gue emang masih lemes, tapi Dede gemoy gue kok sehat walafiat, ya!"
Seketika Zizi melototkan matanya saat mendengar pengakuan dari sohibnya yang somplak itu.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1