
Aksa pun semakin menggoda istrinya, ia masih diam dan seolah-olah tidak menghiraukan rengekan sang istri, sementara itu Zizi semakin menangis, entah kenapa Zizi merasa seperti itu, seolah dirinya tak rela jika Aksa melakukan hal itu padanya.
"Akang! Elu gondok sama gue? Jangan giniin gue dong, Kang! Gue minta maaf, jujur gue nggak suka elu dekat-dekat dengan si Juleha dan Juminten, pokoknya semua cewek yang dekat sama elu, gue nggak suka, ya pokoknya nggak suka aja, salah nggak sih perasaan gue seperti itu?" ungkap Zizi.
Perlahan Aksa membalikkan badannya dan menatap wajah sohibnya yang terlihat sedang menangis itu, kali ini Aksa benar-benar dalam mode serius, ia tidak menunjukkan wajah cengengesan dan bercanda, tidak seperti biasanya Aksa tampak begitu cool dan Zizi pun juga ikut dalam mode serius.
"Elu kenapa menangis? Emang apa yang gue lakukan sama elu?" tanya Aksa yang menatap tajam kedua bola mata itu. Zizi pun hanya menundukkan wajahnya, betapa apa yang dilakukan oleh sohibnya itu sungguh membuatnya sangat bersedih.
"Gue juga nggak tahu, Kang! Aneh nggak sih, kok gue merasa sakit ya saat elu cuekin gue?" balas Zizi yang tidak berani menatap wajah sang suami. Untuk kali ini, Aksa ingin memastikan jika Zizi memang memiliki perasaan yang sama dengannya, ia mengangkat wajah Zizi menatap dalam-dalam manik mata sang sohib yang kini menjadi istrinya.
"Kita emang sahabatan, kita selalu bercanda, bercerita, bertengkar, saling ledek, saling jahil, tapi itu dulu ... sekarang elu adalah istri gue, kita berada dalam ikatan pernikahan, kedua orang tua kita mengharapkan kita untuk hidup bersama, langgeng. Dan gue ingin benar-benar menjadi suami yang baik untuk elu, menyayangi elu, menjaga elu, meskipun awalnya gue belum bisa terima nikah sama elu, tapi setelah gue merasakan kalau sebenarnya gue sayang sama elu, sejak saat itu gue bertekad akan menyayangi elu dan menjaga elu untuk selamanya, sampai maut memisahkan."
__ADS_1
Seketika Zizi menutup mulut Aksa dengan salah satu telapak tangannya sembari menggelengkan kepala.
"Jangan bicara seperti itu, tidak akan ada yang bisa memisahkan kita, gue terlalu nyaman sama elu, Kang! Mungkin benar kata mereka, hubungan kita sebenarnya adalah cinta yang terbungkus persahabatan, kita saling mencintai tapi sungkan karena kata sahabat itu selalu kita ucapkan, dan setelah gue nikah sama elu, gue semakin merasa protektif sama elu, nggak tahu kenapa jika ada cewek lain yang mendekati elu, gue semakin panas, dan elu juga sih selalu ngeladenin mereka, mana si Juleha itu nempel-nempel lagi sama elu, sebel!!!"
Pengakuan Zizi spontan membuat Aksa tersenyum tipis, dan Ia pun mendekati wajah Zizi dan membisikkan sesuatu padanya.
"Artinya elu cemburu, kan?" bisikan Aksa memaksa Zizi harus mengakui jika dirinya memang merasakan hal itu. Zizi tersenyum dan mengangguk pelan, sungguh ia sangat malu untuk mengakuinya, Zizi menarik selimut dan menutupi wajahnya dengan selimut, ia tidak ingin Aksa melihat wajahnya yang memerah karena malu.
"Itu artinya elu cinta kan sama gue?" pertanyaan Aksa memaksa Zizi untuk menatap mata Aksa dalam-dalam.
"Apa Elu tidak pernah bisa melihat sesuatu dalam mata ini? Betapa rasa itu sudah ada sejak lama, tapi gue bingung bagaimana bisa rasa itu muncul dalam hati, rasa egois yang tidak ingin melihat elu ada di dekat para gadis, apa gue salah jika sudah mencintai elu diam-diam?" seru Zizi dengan mata yang berkaca-kaca. Untuk sejenak mereka berdua saling memandang dan pada akhirnya, Aksa memeluk istrinya dengan sendu.
__ADS_1
"Gue cinta elu, Kang! Gue cinta ...!" seru Zizi saat berada dalam pelukan sang suami. Bukannya melepaskan, Aksa justru memeluk istrinya semakin erat, sehingga membuat Zizi susah bernafas, ia pun mencoba berontak dan berkata, "Akang! Elu mau bikin gue mati sesak nafas lu, engap pea!" rintih Zizi.
Spontan Aksa melepaskan pelukannya dan meminta maaf, "Sorry Zi, gue terlalu bahagia mendengarnya, jadi seperti itu hehehe!! Eh tapi elu nggak apa-apa, kan?" tanya Aksa panik, Zizi pun menggelengkan kepalanya.
"Nggak apa-apa, hanya saja nafas gue mau putus," jawab Zizi dengan terengah-engah, Aksa menyeringai.
"Sini gue kasih nafas buatan biar nafas elu enggak terputus-putus, hmm!!"
Dengan cepat Aksa meraih bibir Zizi dan melahapnya dengan nikmat, bukannya menolak kali ini Zizi pasrah dan membiarkan suaminya berbuat apapun.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1