
Untuk beberapa saat, ciuman itu terlepas, Aksa tersenyum dan mengusap lembut rambut sang istri, setelah itu Ia pun mengucapkan sesuatu kepada Zizi.
"Mulai saat ini, kita adalah suami istri, dan mulai sekarang panggilan kita berubah, aku dan kamu!" Aksa menatap wajah Zizi penuh cinta, dan Zizi pun membalasnya.
"Aku dan kamu! Hmm ... setuju! Tapi, apa aku juga harus mengubah panggilan tentang buaya Empang dan Playboy cap kadal?" pertanyaan Zizi membuat Aksa tertawa. Keduanya pun sama-sama saling tertawa, hingga akhirnya Aksa teringat jika mereka masih memiliki sebuah kado dari Robi dan Fikri.
"Tunggu, Zi! Bukankah kita masih punya satu kado dari Robi dan Fikri, kita buka yuk!" ajak Aksa sembari beranjak untuk mengambil sebuah kotak dari kedua sohibnya. Zizi pun memperhatikan sang suami yang sedang mengambil sebuah kotak kado yang belum mereka buka, dengan antusias keduanya pun segera membuka kotak yang entah berisi apa.
Aksa duduk di samping Zizi dan mereka pun mulai membukanya.
"Kira-kira isinya apa ya, Kang?" tanya Zizi yang masih penasaran.
"Mana aku tahu, semoga aja bukan bom, meledak lah kita," celetuk Aksa yang masih saja suka bercanda.
"Emang mereka terorris, ada-ada aja kamu!" sahut Zizi yang ikut membantu suaminya membuka pembungkus kado itu, sepertinya Robi dan Fikri cukup membuat Aksa dan Zizi sedikit kesusahan untuk membuka kado itu, bungkus kado itu terdiri dari berlapis-lapis kertas dan karton, sehingga cukup membuat mereka penasaran dan sedikit kesal.
"Gila nih mereka berdua, niat nggak sih ngasih kita kado, mana banyak banget lagi lapisannya, gede doang bungkusnya tapi isinya seuprit, busyeettt!!" umpat Aksa akhirnya menemukan sebuah kotak kecil berukuran delapan kali delapan cm.
__ADS_1
"Astaga! Dasar ya mereka emang minta dijitak, awas saja kalau ketemu bakal aku kepret mereka berdua, bungkus nya segede kebun raya, isinya segede pos kamling, dasar!!" Aksa melihat kotak itu yang hanya sebesar genggaman tangannya.
"Udah! Nggak usah ngomel, kita buka aja, siapa tahu isinya emas murni," ucap Zizi sembari tersenyum.
"Heleh boro-boro isinya emas murni yang ada palingan juga upil," sahut Aksa yang seketika membuat Zizi menyikut perut sang suami.
"Hiii dasar jorok!" umpat Zizi. Aksa pun cengar-cengir sambil merangkul pundak sang istri dan berkata, "Hehehe iya maap! Keceplosan Ayang! Kebiasaan suka ngasih upil sama mereka," jawab Aksa dengan memanggil Zizi dengan panggilan Ayang. Zizi pun tersipu malu.
"Ya udah cepetan dibuka, nggak sabar nih!" ucap Zizi yang nyatanya ditanggapi berbeda oleh sang suami.
"Kamu udah nggak sabar? Iya iya nanti aku bukain, itu adalah pekerjaan termudah bagiku, tinggal buka terus masukin, hmm nikmat!" jawaban Aksa membuat Zizi memaksa menepuk jidatnya sendiri. Ternyata sifat gokil dan kemesuman suaminya tetap tidak akan pernah hilang.
"Loh bukan itu? Oh aku kirain kamu sudah gatal ingin digaruk, hehehe."
"Diihhh apaan sih gatal-gatal, bukan gatal, Kang! Tapi cenut-cenut."
Seketika keduanya pun saling tertawa, dan akhirnya Aksa mulai membuka kotak berwarna hitam itu. Perlahan, Aksa melihat sebuah benda yang terbungkus plastik dengan rapi, ia pun mengambilnya dan membuka bungkus plastik itu. Di atas bungkus plastik itu terdapat sebuah pesan untuk mereka berdua.
__ADS_1
"Happy Wedding, Bro! Kita ngasih hadiah ini untuk kalian berdua, supaya semakin harmonis dan mesra, dan kita berharap kalian berdua segera memiliki momongan, semoga langgeng selamanya Sakinah mawadah warahmah. Sobat somplak selamnya Robi dan Fikri."
Dibuka nya bungkus plastik itu, Aksa menemukan sebuah Flash disk berwarna hitam. Aksa dan Zizi pun saling menatap.
"Flash disk!!" keduanya sama-sama mengucapkan itu.
"Untuk apa mereka berdua memberikan kita flashdisk? Emang kita mau ngerjain tugas kuliah apa?" seru Aksa bingung. Zizi pun segera mengambil laptop dan segera menyambungkan flash disk itu dengan USB ke laptop miliknya.
"Kita lihat isinya apaan, Kang. Yuk masukin!" titah Zizi kepada Aksa untuk memasukkan colokan USB flash disk.
"Iya nanti juga bakal aku masukin Dede gemoy nya, kita lihat ini dulu, Zi!" sahut Aksa yang rupanya tetap saja bercanda.
"Bukan Dede gemoy, Kang! Colokannya yang dimasukin ya ampun punya suami gini amat ya!"
Aksa pun lagi-lagi tertawa melihat ekspresi wajah sang istri, dan spontan Aksa mencium pipi Zizi dan berkata, "Iya iya aku tahu, yang dimasukin colokan nya, tapi nanti Dede gemoy nya juga boleh ya masuk lagi, kedinginan Zi, minta yang anget-anget."
"Iya iya dasar Akang mesum!!"
__ADS_1
...BERSAMBUNG...