
Bening bergelayut pada leher sang suami, untuk sesaat ia terlihat salah tingkah dan Bening pun berusaha untuk melepaskan tangannya.
"Em sorry! Gue tadi nggak bisa ngimbangin, kepala gue berat banget, tahu sendiri nih kepala banyak banget aksesorisnya," seru Bening sambil berusaha untuk berdiri. Namun, tanpa aba-aba tiba-tiba saja Alaska mengangkat tubuh Bening, sontak apa yang dilakukan oleh Alaska membuat Bening terkejut dan terheran-heran.
"Eh ... turunin! Gue bisa jalan sendiri!" sahut Bening sambil menggerak-gerakkan kakinya.
"Udah diem! Nggak usah protes, elu mau jatuh menggelinding ke bawah, tuh anak tangganya masih banyak," sahut Alaska tanpa ekspresi, ia hanya menatap ke atas agar dirinya cepat-cepat segera sampai di kamar mereka.
Bening pun tampak diam saat Alaska membawa dirinya menaiki anak tangga. Setelah beberapa saat, Alaska yang masih belum mengerti dimana pintu kamar Bening, is pun bertanya kepada sang istri.
"Dimana kamarnya?" tanya Alaska sembari menatap wajah Bening.
"Mau ngapain?" tanya Bening spontan.
"Mau gue bakar! Ya mau masuk lah, elu mau gue turunin di sini!" sahut Alaska.
"Enak aja main bakar, resek lu! Noh kamar gue yang ada kembang-kembangnya noh, heran juga sama Mama, ngapain juga pakai dipasang kembang segala, kayak kembang duka cita aja!" sahut Bening sambil menunjukkan pintu kamar miliknya yang dihiasi dengan bunga-bunga segar warna-warni.
Sejenak Alaska tertawa kecil mendengar ucapan dari sang istri.
"Ngapain ketawa?" seru Bening saat melihat wajah suaminya yang justru menertawakan dirinya.
"Bening Bening, elu tuh nggak ngerti juga, tuh kembang ada filosofinya, Mama bener naruh bunga itu di depan pintu, karena Mama tahu kalau anaknya itu sedang berbunga-bunga hari ini," ungkap Alaska yang membuat Bening tersipu malu, dan ia menyembunyikan wajahnya pada dada sang suami.
Alaska melihat sang istri yang terlihat malu-malu, ia pun tersenyum.
"Nah! Ketahuan kan! Pakai ngumpet segala!" goda Alaska sambil berjalan ke arah kamar pengantin mereka.
"Aaahhh ... udah cepetan buka pintunya!" sahut Bening yang memaksa Alaska untuk segera membuka pintu kamar mereka.
__ADS_1
"Iya iya gue buka, elu udah nggak tahan, ya! Sama gue juga!" ucapan Alaska sontak membuat Bening memaksa untuk diturunkan dari gendongan setelah Alaska sudah membawanya masuk ke dalam kamar.
"Diihhh apaan sih, turunin! Nggak tahan nggak tahan apaan, piktor lu!" Bening berkata sembari melepaskan aksesoris yang ada pada kepalanya. Alaska pun hanya tersenyum menatap Bening sembari menyilangkan kedua tangannya, tanpa menyahuti ucapan Bening, ia hanya berdiri sambil menyandarkan tubuhnya pada pintu.
Sementara itu, Bening tampak komat-kamit saat dirinya melepaskan berbagai aksesoris pengantin yang terpasang pada rambutnya.
"Ya ampun! Susah banget sih lepasnya, pakai ginian segala, tuh kan rambut gue jadi jelek, huhuhuhu musti keramas nih, Kalau enggak nggak bakalan bisa tidur kalau kayak gini ceritanya. Eh ... kemana tuh orang!" karena terlalu banyak meracau, Bening pun sempat melupakan Alaska, ia pun membalikkan badannya dan melihat dimana suaminya berada.
Ternyata, Alaska masih berada di depan pintu dengan menyandarkan tubuhnya sembari memperhatikan Bening yang kesusahan melepaskan aksesoris dari kepalanya.
"Eh ... lu ngapain di situ kayak cicak, gue pikir tadi elu ilang, bantuin gue dong! Jangan diam saja, elu nggak lihat gue kesusahan melepas benda-benda ini?" ucap Bening sambil menunjuk ke arah kepalanya.
Alaska pun perlahan mendekati istrinya dengan tatapannya yang berbeda, sontak apa yang dilakukan oleh Alaska membuat Bening terkesiap dan tersenyum paksa. Rupanya Bening mulai panik saat Alaska berjalan mendekatinya.
"Eh eh lu mau kemana? Stop stop jangan dekat-dekat! Gue gemetaran nih!" seru Bening sambil mengulurkan tangannya dan meminta Alaska untuk berhenti.
Bening menatap kedua bola mata Alaska yang fokus pada dirinya.
"Em ... lu mau apa?" seru Bening sambil menahan dada Alaska agar tidak terlalu mendekatinya.
Kemudian Alaska mulai mendekati wajah Bening seakan-akan Bening merasa jika Alaska hendak mencium dirinya. Dengan cepat Bening memejamkan matanya erat-erat saat wajah Alaska kian mendekat. Setelah beberapa detik, akhirnya bukan sebuah ciuman yang dirasakan oleh Bening. Tapi tangan Alaska yang bergerak pada kepalanya dan mencoba untuk membantu Bening melepaskan aksesoris pengantin dari rambut sang istri.
Spontan Bening membuka kedua matanya, ia melihat wajah leher suaminya dimana Alaska sedang sibuk melepaskan satu persatu aksesoris tusuk konde itu dari rambut sang istri.
Sejenak Bening tersenyum, ternyata dugaannya salah. Alaska memang sedang membantunya untuk melepaskan aksesoris itu dari kepalanya.
"Udah belum?" seru Bening.
"Bentar! Sabar dong, nggak sabaran banget sih," sahut Alaska sembari melepaskan tusuk konde itu dan diberikan kepada istrinya.
__ADS_1
"Nih! Ini aksesoris apaan sih namanya? Kayak tusukan gitu?" seru Alaska yang heran melihat bentuk aksesoris pengantin khas Jawa itu.
"Ini namanya tusuk konde, ya iyalah kayak tusukan, pakainya juga ditusuk gitu ke rambut. Tapi, rasanya berat banget di kepala, bikin pusing!" ucap Bening.
"Pusing? Masa sih?" sahut Alaska yang mulai menggoda istrinya.
"He em, kayak berat gitu, makanya kepala gue pusing banget!" balas Bening. Alaska pun semakin semangat untuk menggoda istrinya.
"Elu mau tahu nggak bagaimana tusukan yang nggak bikin pusing?" sahut Alaska sambil tertawa kecil.
"Apaan? Tusuk sate, tusuk jarum? Ya elah itu emang nggak bikin pusing, tapi bikin sakit kalau tertusuk kulit, bahkan berdarah!" ungkap Bening. Mendengar ucapan dari sang istri, spontan Alaska menatap wajah sang istri dan berkata, "Hampir sama, tusukan itu memang sakit, bahkan bisa menyebabkan luka dan berdarah, tapi ... sensasinya bikin nge-fly, elu mau nggak nyoba? Entar gue kasih tahu!"
Bening pun penasaran dengan ucapan sang suami, ia pun menganggukkan kepalanya dan bersedia untuk diberi tahu tentang tusukan yang membuat nge-fly itu.
"Nge-fly? Bukan sabu-sabu atau obat terlarang, kan? Elu jangan macam-macam deh!" seru Bening sembari menunjuk ke wajah suaminya.
"Ya enggaklah! Biar nggak penasaran, apa lu mau gue beritahu sekarang?" tawar Alaska penuh harap, sejenak Bening berpikir tentang maksud ucapan suaminya.
Selang beberapa detik, akhirnya Bening mengerti maksud ucapan Alaska. Spontan Bening mendorong tubuh suaminya dan berkata, "Hiii dasar jorok, piktor banget sih lu, nggak usah ngebahas soal tusukan deh! Geli gue, minggir-minggir gue mau mandi!" sahut Bening sembari beranjak pergi ke kamar mandi. Dan Alaska pun hanya bisa tertawa melihat ekspresi wajah sang istri.
Bening menoleh ke arah sang suami dan berkata, "Nggak usah ketawa! Udah tidur aja, gue mau mandi dulu, lengket semua nih badan."
Mendengar ucapan dari istrinya, spontan Alaska pun mengikutinya. "Ning! Tungguin gue dong! Gue juga mau mandi,"
"Hah ... mandi! Barengan?" sahut Bening dengan melototkan matanya menatap wajah Alaska terus terlihat cengar-cengir.
...BERSAMBUNG ...
__ADS_1