
"Jadi, elu suka masakan gue, Kang?" tanya Zizi sembari malu-malu. Aksa pun terpaksa menganggukkan kepalanya dan berusaha untuk tersenyum.
"Ya suka dong, enak banget rasanya, ngga kalah sama masakan Chef Juna, ini luar biasa." Pujian Aksa membuat Zizi semakin semangat untuk menyuapi suaminya lagi, ia kembali menyendok nasi goreng itu dan dimasukkannya ke dalam mulut suaminya. Lagi-lagi Aksa terpaksa membuka mulutnya kembali dan harus merasakan sensasi betapa asinnya nasi goreng buatan istrinya.
Satu sendok nasi goreng itu pun masuk lagi ke dalam mulut Aksa, sembari senyum-senyum, ia menatap wajah istrinya yang sedang bahagia karena dirinya sudah memakan masakannya, padahal dalam hatinya Aksa menjerit seperti derita seorang istri di sinetron ku menangis yang sering ditonton oleh ibu-ibu kompleks yang suka baperan dan ngga jelas. 😁
Zizi begitu bahagia melihat suaminya yang doyan sekali masakannya, hingga akhirnya ia pun penasaran dengan rasa nasi goreng buatannya sendiri, bagaimana bisa sang suami begitu suka dan sangat menikmatinya.
"Ya Tuhan! Sampai kapan derita ini berakhir, kerongkongan ku omegot, rasanya mau jebol." Aksa mengunyah paksa makanannya sembari membatin.
"Kayaknya elu doyan banget, Kang! Gue icip dikit ya, soalnya tadi belum gue icip, pas ngasih garam gue keburu kaget kukira ada maling tadi, eh nggak tahunya elu," ungkap Zizi sambil menyendok satu sendok nasi dan dimasukkan ke dalam mulutnya.
Saat nasi goreng buatannya masuk ke dalam mulutnya, seketika Zizi melototkan matanya karena rasanya benar-benar asin, dan ia pun segera melepeh nya dan dibuang ke tempat sampah.
"Huek! Astaga, kenapa bisa asin gini, ya ampun, Akang!" Zizi menghampiri suaminya yang sedang cengar-cengir sambil berusaha untuk menelan nasi goreng itu, spontan Zizi langsung menepuk-nepuk belakang leher sang suami agar suaminya itu memuntahkan makanan yang ada di dalam mulutnya.
__ADS_1
Tentu saja apa yang dilakukan oleh Zizi membuat Aksa bingung dan ia pun mencegah Zizi untuk melalukan hal itu.
"Eh eh ... elu ngapain, Zi! Ngapain gue dipukul-pukul gitu." Seru Aksa sembari menahan tangan sohibnya dan membawa Zizi untuk duduk di sampingnya.
"Maafin gue, Kang! Kenapa elu ngga jujur aja sih kalau masakan gue keasinan, kalau tahu gitu nggak bakalan elu gue suruh makan, bodoh banget gue jadi istri." Sesal Zizi sembari menundukkan wajahnya. Aksa pun tersenyum dan mengangkat dagu sang istri sembari menatap dalam-dalam wajah sohibnya itu.
"Elu ngga usah minta maaf, elu udah capek-capek masak buat gue aja itu gue udah seneng banget, itu artinya elu perhatian sama gue, dan gue nggak mau buat elu kecewa dengan bilang makanan elu nggak enak, rasanya tetap enak kok, gue nggak perduli rasanya asin kek, pait kek, jika yang bikin adalah orang yang istimewa pasti rasanya tetap Istimewa, dan rasanya tetap nikmat, apalagi makannya sambil lihat senyum elu," gombalan Aksa sukses membuat wajah Zizi memerah.
Zizi tersenyum malu-malu meong, sedangkan Aksa terlihat menatap senyum sohibnya itu tanpa berkedip.
"Ya sudah, Kang! Biar gue bawa aja lagi nasi gorengnya, biar nanti gue ganti yang baru." Ucap Zizi sembari beranjak pergi membawa piring nasi goreng itu. Namun, rupanya Aksa menghentikan Zizi dengan menahan istrinya untuk tidak meninggalkannya.
"Sini aja, elu mau ngapain, udah biarin aja, biar gue habisin semuanya, elu udah capek-capek buatin buat gue, nggak baik ngga dihabiskan. Biar gue makan lagi." Aksa tampak mengambil piring yang dibawa Zizi. Tapi, Zizi tetap memaksa untuk membawanya keluar.
"Nggak usah, Kang! Nanti perut elu bisa sakit, udah biar aku buang aja." Zizi terlihat terus mempertahankan piring yang dibawanya, hingga akhirnya mereka berdua terlihat saling merebut.
__ADS_1
Karena keduanya saling tarik-menarik piring itu, alhasil piring itu terjatuh di lantai dan pecah berkeping-keping.
"Ya jatuh kan, ah si Akang sih." Zizi tampak memungut pecahan beling yang berserakan di atas lantai, hingga akhirnya tiba-tiba jari telunjuk nya tergores pecahan beling itu.
"Awwww ... ssss!" Zizi mendesis saat ia tahu jika jari telunjuknya berdarah, spontan Aksa yang tahu itu segera turun dari tempat tidur dan langsung menarik tangan Zizi dan ia hisap jari telunjuk Zizi yang berdarah itu.
"Tangan elu berdarah, Zi!" Aksa pun mulai memasukkan jari telunjuk Zizi yang berdarah pada mulutnya.
"Eh Akang jangan lakukan itu!! Ini cuma luka kecil."
Meskipun Zizi melarangnya, Aksa tetap saja mencoba menghentikan darah itu keluar lebih banyak. Zizi menatap Aksa dengan tatapan yang berbeda, entah kenapa dirinya merasa ada sesuatu dalam hatinya yang begitu kagum melihat sosok sohib yang selama ini bertengkar dengannya itu.
"Kenapa perasaan gue jadi gini sih!" Zizi menatap wajah sang sahabat yang sangat cemas melihat dirinya terluka.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1