
Alaska tersenyum dan berkata dengan tegas, "Gue cinta sama elu!"
Sontak apa yang dikatakan oleh Alaska membuat Bening terhenyak, ekspresi wajah gadis itu terlihat sangat terkejut dengan apa yang baru saja Ia dengar.
"Maksudnya apa?" Bening bertanya dan sebelum Alaska menjawabnya, ponsel mereka keburu mati karena Alaska memutuskan percakapan mereka.
"Loh kok dimatiin sih!!" Bening hanya menatap ke layar ponselnya, dan mulai mencerna apa yang baru saja dikatakan oleh Alaska.
"Apa coba dia ngomong kayak gitu? Tapi telinga gue nggak tuli, gue denger dengan jelas, dia ngomong apa," ucap Bening lirih, hingga akhirnya pintu kamarnya terbuka, sontak Bening menoleh ke arah pintu, dilihatnya sang Papa dengan wajah seriusnya masuk ke dalam kamar sang putri.
"Papa!! Papa sudah pulang!!" seru Bening sembari beranjak berdiri dan meletakkan ponselnya di atas tempat tidur.
Papa Carlos berjalan menghampiri sang anak dengan tatapan yang serius, tentu saja Bening harus siap untuk menerima kemarahan dari sang papa.
"Kenapa kamu pulang?" tanya Papa Carlos.
"Em ... Bening, Bening a-ada pasien, Pa! Tadi asisten Bening nelpon jika ada pasien yang ingin bertemu dengan Bening, jadi Bening langsung ke klinik. Maafkan Bening, jika Bening nggak ngomong dulu sama Papa," ungkap Bening sembari menundukkan wajahnya.
__ADS_1
"Ohhh begitu! Baiklah, Papa bisa mengerti, tidak apa, Papa tidak akan marah," ucap Papa Carlos yang membuat Bening merasa lega.
"Terima kasih banyak, Pa!" sahut Bening sembari tersenyum. Kemudian Papa Carlos harus mengatakan tentang keputusan yang diambil dari pertemuan keluarga besar di hotel tadi, dimana rencana pernikahan Bening dan calon suaminya akan segera dilaksanakan.
"Bening! Papa ingin mengatakan sesuatu kepadamu, dan ini sudah menjadi keputusan keluarga besar kita," ungkap Papa Carlos yang seketika membuat Bening menatap wajah sang Papa serius.
"Keputusan apa, Pa?" tanya Bening penasaran.
Kemudian sang Papa mengajak Bening untuk duduk bersama membicarakan rencana pernikahannya yang akan dilaksanakan secepatnya.
"Begini Bening, Papa dan calon mertuamu sudah memutuskan untuk memajukan tanggal pernikahan kalian, jadi tidak ada alasan untukmu menolak pernikahan ini, dan Papa dan Mamamu sudah menyiapkan semuanya, dua hari lagi, akad nikah kalian akan dilaksanakan." Ucap Papa Carlos yang seketika membuat Bening lemas, entah bagaimana dirinya menghadapi pertentangan batin karena Ia tidak mungkin mencintai calon suaminya.
"Iya, kami memutuskan untuk segera menikahkan kalian secepatnya, karena waktunya sangat mepet, sebentar lagi Papa dan Mama mau ke luar negeri untuk beberapa bulan, jadi sebelum kami berangkat, kami ingin melihatmu sudah menikah, supaya Papa dan Mama bisa tenang meninggalkan mu di Indonesia, karena pastinya akan ada suami yang menjagamu," ungkap Papa Carlos.
Bening tidak bisa berbuat apa-apa, apapun keputusan Papa Carlos ia harus menerimanya, meskipun sebenarnya ia masih sangat mencintai Alaska. Bening tidak ingin mengecewakan perasaan kedua orang tuanya.
"Terserah Papa saja, Bening pasrah, meski Bening merasa ini adalah sebuah paksaan, tapi demi kebahagiaan kalian, Bening rela!" balas Bening yang disambut dengan pelukan sayang sang papa.
__ADS_1
"Papa sangat menyayangimu, Nak! Papa hanya ingin yang terbaik untukmu, karena Papa sangat yakin, calon suamimu pasti bisa membahagiakanmu," ucap Papa Carlos.
"Tidak, Pa! Mungkin bagi Papa seperti itu, tapi untuk Bening, apa aku sanggup hidup bersama dengan orang yang tidak aku cintai," batin Bening sembari menangis dalam pelukan sang Papa.
Setelah cukup menenangkan hati putrinya, Papa Carlos pun beranjak pergi keluar kamar sang putri.
"Ya sudah! Papa keluar dulu, istirahatlah! Sudah malam, Papa dan Mama sudah membelikan mu gaun pengantin, besok malam pasti gaunnya di kirim ke rumah ini, Papa ingin melihat putri Papa terlihat cantik pada pernikahannya."
Setelah mengatakan hal itu, Papa Carlos pun segera keluar dari kamar Bening.
Sementara di tempat lain, pun sama dengan apa yang dilakukan oleh Daddy Dion, pria yang masih terlihat tampan meskipun usianya sudah tidak muda lagi itu, tampak mendekati putranya dan mengatakan jika dua hari lagi pernikahannya dengan calon istrinya akan segera dilaksanakan, tentu saja Daddy Dion masih merahasiakan siapa calon istri Alaska, karena Daddy Dion ingin memberikan kejutan untuk putranya.
Tentu saja keputusan itu membuat Alaska keberatan, pasalnya dirinya sebenarnya tidak setuju menikah dengan calon istri pilihan orang tuanya, ia hanya ingin menikah dengan sohibnya sendiri yang sedari dulu sudah dicintainya.
Tapi, bagaimanapun juga Alaska tidak bisa menolaknya, ia pun tidak ingin mengecewakan kedua orang tuanya, ia pun bingung harus berbuat apa, sementara hatinya tidak bisa berbohong lagi jika dirinya memang mencintai sahabatnya sendiri.
"Aku harus bicara dengan Bening, harus! Dia harus tahu bagaimana perasaanku, jika ia menerima cintaku, maka aku akan mempertahankannya, tapi jika dia menolakku, maka terpaksa aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi dan aku akan mengikuti perintah Daddy dan Mommy." Alaska tampak bersiap untuk pergi menemui Bening. Meskipun hari kian gelap. Alaska tetap bertekad untuk datang menemui Bening.
__ADS_1
"Aku harus bicara denganmu, Bening! Aku akan datang ke rumahmu!"
...BERSAMBUNG ...