SAHABATku PENGANTINku

SAHABATku PENGANTINku
Naik taksi


__ADS_3

Di saat Aksa mengambil motornya, rupanya berbarengan dengan sebuah taksi yang lewat di depan Zizi, kemudian Zizi segera menghentikan taksi itu dan segera dirinya masuk.


"Jalan, Pak!"


Taksi itu pun akhirnya melaju ke jalan raya, tak berselang lama motor Aksa keluar dari halaman kampus, dan ia melihat sang istri yang sudah tidak ada lagi di tempat semula. Ia pun menduga jika Zizi sudah menaiki taksi yang baru saja pergi.


Tak berselang lama Aksa mengikuti taksi yang ditumpangi oleh istrinya. Aksa mengejar taksi itu dan tak berselang lama, motor Aksa bisa segera mendekati taksi yang ditumpangi oleh sang istri. Aksa tampak mendekati taksi itu dan berusaha untuk mengajak Zizi turun.


Zizi pun melihat ke arah luar dimana sang sohib yang sedang mengikuti taksi yang ia tumpangi.


"Akang! Sempet-sempetnya dia ikutin gue!" batin Zizi ketika melihat Aksa dengan motor sport nya, Zizi pun pura-pura tidak memperdulikan keberadaan Aksa, namun Aksa tidak pantang menyerah, ia mendekati jendela di mana Zizi sedang duduk dan Aksa pun membuka helmnya.


"Zi, berhenti dong! Kita pulang bareng," seru Aksa yang berusaha bersusah payah untuk berbicara dengan istrinya.

__ADS_1


"Ogah males! Pulang aja sendiri, gue mau pulang naik taksi aja, gue nggak mau ngerepotin elu, udah sono dicari Juleha dan Juminten tuh," dengus Zizi sambil mengerucutkan bibirnya.


"Ya elah, Zi! Mereka tuh cuma minta foto-foto, elu tahu kan gue tuh cowok terkeren sepanjang masa," balas Aksa yang membuat Zizi komat-kamit sendirian.


"Cowok terkeren cowok terkeren apaan, bilang aja modus, dasar buaya tetap aja buaya." Zizi masih terlihat kesal hingga akhirnya tiba-tiba saja taksi yang ditumpangi oleh Zizi berhenti tiba-tiba. Spontan Zizi bertanya kepada sang sopir tentang apa yang terjadi.


"Kenapa, Pak?" tanyanya panik.


"Maaf, Mbak! Sepertinya ban nya bocor, biar saya ganti dulu," balas sang sopir sembari menepikan mobilnya. Kemudian Aksa pun berhenti tepat di samping pintu mobil taksi dimana istrinya duduk.


Sang sopir pun meminta kepada Zizi, sepertinya akan cukup lama untuk mengganti ban mobil yang baru.


"Maaf, Mbak! Bukannya mengusir Mbaknya, tapi yang dikatakan oleh Masnya ada benarnya, sebaiknya Mbak Ikut si Masnya, soalnya mungkin ini akan membutuhkan waktu yang cukup lama," ucap pak sopir.

__ADS_1


Zizi pun tidak punya pilihan lain kecuali ia ikut dengan sang suami pulang. Akhirnya, dengan sangat terpaksa Zizi ikut serta pulang dengan naik motor sport yang cukup membuatnya pegal-pegal.


Selama dalam perjalanan, rupanya Aksa tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menggoda istrinya dengan selalu mengerem berkali-kali, sehingga tentu saja dada Zizi sering menyenggol punggung sang sohib.


"Eh pea! Elu sengaja ngerem-ngerem mulu dari tadi," seru Zizi yang protes dari tadi kedua gunung kembarnya menabrak punggung sang suami. Aksa tertawa kecil dan menjawab, "Makanya pegangan yang rapat, biar nggak kejedot terus tuh mimik lu, biar nggak kempes, entar nyampe rumah gue kembungin lagi biar tambah gede." Aksa berkata dengan kecepatan sedang sehingga dengan mudah dirinya bisa berbicara sedikit leluasa sambil berkendara.


Mendengar ucapan dari sohibnya, Zizi tampak mencubit pinggang suaminya.


"Aduh! Nyubitnya jangan disitu dong! Agak kebawah dikit napa." Aksa berkata dengan senyum sumringah, menggoda Zizi adalah sesuatu yang membuat bahagia.


Seketika Zizi melototkan matanya. "Dasar buaya cap kadal, entar ya tunggu aja di rumah, gue bikin perkedel tuh Dede elu," sahut Zizi yang membuat Aksa semakin tertawa.


"Coba aja kalau bisa, gue bikin nggak bisa jalan lu," ancam Aksa tertawa senang.

__ADS_1


...BERSAMBUNG ...


__ADS_2