
Pak lurah memperkenalkan putrinya kepada mahasiswa, gadis itu bernama Sari, ia juga merupakan sekretaris desa di tempat itu, Sari juga yang akan membantu para mahasiswa untuk tugas KKN mereka.
"Perkenalkan ini anak saya namanya Sari, dia yang akan membantu adik-adik semua untuk tugas KKN di desa kami, silahkan bertanya kepada Sari jika ada masalah atau kendala," seru pak Lurah dengan bangga.
"Perkenalkan Mbak, Mas! Nama saya Sari, saya akan membantu Mbak dan Masnya untuk melihat-lihat bagaimana aktivitas kami di desa untuk tugas KKN, jika ada yang ingin ditanyakan silahkan!" seru gadis itu sembari memperhatikan semua wajah para mahasiswa tanpa terkecuali.
Tentu saja bagi Robi dan Fikri, terlihat cengar-cengir melihat gadis secantik Sari, udah cantik, kembang desa, baik lagi.
"Aje gile! Dia lihatin gue cuy! Senyumnya beuh ... bikin hati ane berdebar-debar," ucap Robi yang merasa senang saat Sari tersenyum kepada mereka. Tentu saja Fikri tidak terima Robi berkata seperti itu, karena Sari tersenyum kepada semua mahasiswa.
"Eh pea! Itu cewek nggak lihatin elu doang! GR amat lu, tuh cewek senyum sama kita semua, nah sama gue juga, eh emang gila sih, senyumnya cakep banget, putih giginya," puji Fikri saat melihat Sari sedang tersenyum. Tapi, ternyata senyum Sari bukan hanya kepada mereka berdua, tapi Sari tersenyum lebih manis saat menatap wajah Aksa yang kelihatan cuek.
Aksa tampak mengupil sambil lihat-lihat pepohonan disekitarnya, seolah dirinya tidak perduli jika ada seorang gadis cantik yang sedang memperhatikannya sedari tadi. Sementara itu Robi dan Fikri terlihat garuk-garuk kepala melihat Aksa yang cuek dan tidak dengan PD nya ngupil lalu menjentikkan nya ke sembarang arah, Robi tanpa sengaja melihat ke arah mana upil itu melayang, dan ternyata upil itu mendarat tepat di pucuk sepatu milik pak Lurah.
"Busyeettt tuh upil, nemplok di sepatunya pak lurah cuy! Gila nih sih Aksa, kayak nggak punya dosa tuh anak," ucap Robi kepada Fikri.
"Jiahaaa, kayak nggak tahu aja si Aksa, masih untung nggak nemplok di jidat elu wkwkwk," sahut Fikri sambil tertawa kecil. Hal itu membuat Robi memaksa untuk menepuk pundak sang sohib.
"Bro! Elu tuh kira-kira dong ngupil nya, jorok banget lu, tuh upil lu nemplok di sepatu pak lurah, lihat tuh!" seru Robi sambil menunjuk ke arah bawah di mana sepatu pak lurah terdapat hiasan unik berupa upil Aksa yang cukup besar.
__ADS_1
Spontan Aksa menahan tertawa begitu juga dengan Robi saat melihat upil itu nongkrong dengan estetik di ujung sepatu pak Lurah, hingga akhirnya tiba-tiba keduanya dikejutkan dengan suara seorang wanita yang terdengar begitu lembut.
"Maaf, Mas! Mas! Hello!!"
Seketika Aksa dan Robi melihat ke arah sumber suara, ternyata itu adalah suara Sari, anak kepala desa.
"Eh ada Mbak Sari!" seru Robi sambil cengar-cengir. Aksa pun cuma tersenyum biasa saja saat melihat anak kepala desa itu. Sari terlihat suka dengan Aksa, terlihat dari sikapnya yang sangat baik kepada Aksa.
"Jika ada pertanyaan Mas bisa bertanya kepada saya, em dengan Mas siapa namanya?" tanya Sari.
"Oh Kenalin! Saya Robi Robbal Alamin, panggilan nya Robi," sahut Robi memperkenalkan dirinya. Sementara itu Aksa cuma tersenyum dan diam, ia terlihat cuek dan tidak memperkenalkan dirinya kepada Sari, justru tatapan matanya fokus pada pak lurah yang sedang menghampiri rombongan istrinya. Sari terlihat bertanya kepada Aksa, yali Aksa tampaknya masih fokus ke arah Zizi dan teman-temannya.
"Eh ... iya maaf! Saya nggak fokus, lagi lihatin pemandangan alam di sini, benar-benar indah, subhanallah!" jawabnya yang membuat Robi menyengir.
"Oh iya, Mas! Desa kami terkenal dengan pemandangannya yang masih asri, nanti saya bisa tunjukkan tempat-tempat lain yang lebih indah dari sini," balas Sari dengan senang.
"Oh iya, tentu saja!" Aksa pun berusaha untuk menghormati Sari. Kemudian Aksa memperkenalkan dirinya kepada Sari, "Saya Aksa Mahardika, mbaknya bisa memanggil saya dengan Aksa saja," ucapnya.
"Oh iya Mas! Saya Sari," balas Sari dengan senang.
__ADS_1
"Oh Mbak Sari? Tapi bukan Sari kedelai itu, kan hehehe," celetuk Aksa yang membuat Robi dan Fikri garuk-garuk pantat mereka.
"Bukanlah, Mas! Ada-ada saja Mas Aksa!" balas Sari malu-malu.
Setelah itu mereka diantarkan ke rumah di mana para mahasiswa bisa menginap selama kegiatan KKN.
Setelah sampai di rumah yang sudah disediakan oleh pak lurah, kemudian Sari segera pamit untuk pulang.
"Ya sudah kalau begitu, Mas! Saya permisi pulang, saya mau masak untuk bapak, maklum nggak ada ibu, jadi saya harus merawat bapak sendiri," seru Sari dengan tersenyum.
"Loh ... emang ibunya kemana Mbak Sari?" tanya Robi Sik akrab sok dekat.
"Ibu saya meninggal dua bulan yang lalu," jawab Sari.
Seketika Aksa membulatkan matanya saat mendengar fakta jika istri pak lurah sudah meninggal dunia, pantas saja sikap pak lurah saat berbicara dengan sang istri tampak berbeda, ternyata pak lurah seorang duda.
"Waahh pantesan pak lurah sok care dengan bini gue, kudu ati-ati nih, jangan sampai bini gue digoda, berani-berani godain bini gue, bakalan gue cabut tuh kumis pak lurah," gumam Aksa sambil melihat ke arah Zizi dan teman-temannya.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1