
Setelah acara malam pertama di desa Oro-oro Ombo, paginya para mahasiswa sudah disibukkan dengan kegiatan mereka yang sudah dijadwalkan, hari ini mereka akan mengunjungi sebuah peternakan di desa tersebut, sebuah peternakan sapi perah yang menghasilkan susu murni, para mahasiswa akan terjun langsung ke peternakan untuk memberikan penyuluhan pengetahuan kepada para petani tentang kesehatan para hewan ternak mereka, agar hewan-hewan ternak itu bisa menghasilkan susu yang berlimpah dan berkualitas.
Ketua KKN dipimpin oleh Rendy, sementara itu Aksa berada dalam satu kelompok dengan sang istri, mereka terdiri dari sepuluh orang, diantaranya ada Juleha dan Juminten, tak ketinggalan duo gokil Robi dan Fikri, dan bisa dibayangkan bagaimana keseruan mereka ketika duo gokil itu ada dalam kelompok.
Sementara itu, Sari yang menunjukkan di mana lokasi peternakan sapi perah di desanya, mereka berjalan kaki naik turun gunung sekitar setengah jam untuk mencapai lokasi, tentu saja genggaman tangan Aksa tidak pernah lepas dari sang istri, membuat teman-temannya memperhatikan Aksa dan Zizi dengan tatapan aneh, tak terkecuali Juleha dan Juminten.
Sementara itu, Sari tampak mengerucutkan bibirnya saat melihat Aksa yang terus memegangi Zizi saat melewati jalanan yang licin, kondisi alam di lereng gunung Panderman, tentu saja membuat jalanan miring dan menanjak, dan terkadang Zizi merasa capek untuk naik lagi.
Zizi tampak berhenti dan berjongkok, ia merasa kelelahan untuk naik lagi ke atas.
"Kamu kenapa, Zi?" tanya Aksa kepada istrinya yang sedang berjongkok kelelahan.
"Capek, Kang! Kita istirahat dulu, yuk!" ucapnya sembari mengusap keringat yang membasahi wajah cantiknya. Sementara itu Sari yang melihat Zizi berhenti, membuat gadis itu memiliki kesempatan untuk berkata kepada Zizi.
__ADS_1
"Waduh kalau Mbak Zizi berhenti, kapan kita nyampainya, keburu pemilik peternakan itu pergi, gimana sih!" seru Sari yang diiyakan oleh Juleha dan Juminten.
"Mbak Sari benar tuh! Elu tuh manja banget sih, Zi! Masih segini aja udah capek, dasar cewek pemalas, padahal dari tadi Aksa udah bantuin elu untuk megangin, kita aja nggak dipegangi Aksa masih kuat untuk jalan, elu yang dipegangi malah capek lah, diihhh alasan!!" umpat Juleha dengan wajah sinisnya.
Aksa pun tidak ambil pusing, bagaimana pun juga Zizi adalah istrinya, maka dari itu Aksa juga bertanggung jawab atas keselamatan sang istri, ia pun memutuskan untuk menggendong Zizi di punggungnya.
"Udah-udah nggak usah ribut, gitu aja diributin, biar Zizi gue yang gendong, ayo Zi naik ke punggung!" titah Aksa sambil memberikan punggungnya untuk Zizi naiki.
"Enggak lah! Ngapain repot, udah jangan banyak bicara, ayo lekas naik!" Aksa pun memaksa Zizi untuk naik ke punggungnya.
Tentu saja Juleha, Juminten dan Sari merasa semakin kesal karena Aksa terlalu memanjakan Zizi. Mereka pun terlihat sinis melihat Zizi yang sedang digendong oleh Aksa.
"Diihhh!! Dasar cewek manja, itu kenapa sih si Aksa malah gendong dia, enggak banget deh," umpat Juminten.
__ADS_1
"Tahu tuh! Makin ngelunjak aja tuh si Zizi, kayaknya kita harus benar-benar bikin Zizi menyesal, biar tahu rasa tuh cewek, udah berani-beraninya dia deketin Aksa, harusnya gue yang digendong Aksa bukan dia," sahut Juleha. Rupanya ucapan Juleha tanpa sengaja terdengar di telinga Robi dan Fikri, duo gokil itupun menyahuti ucapan Juleha.
"Cieee Juleha cemburu! Mana mungkin si Aksa tuh gendong elu, nggak bakalan mau dia, mending digendong Abang aja, Neng! Sini naik ke punggung Abang, entar setelah sampai di atas sana bakalan gue gelundungin elu dari atas, waaahhhh pasti sangat seru!!" ucap Robi yang membuat Fikri cekikikan, sementara kedua gadis itu tampak kesal.
"Apa lu! Dasar Robi pea, siapa juga yang mau digendong sama elu, ogah jijay weekk!!" sahut Juminten dengan sinisnya. Kemudian Robi pun membalas ucapan Juminten yang membuat gadis itu sangat malu.
"Idiiih nyolot aja nih kencing kuda, gue juga nggak bakalan kali mau gendong elu, entar elu ompolin nih punggung gue, pesing dan gatal kena pipis kuda eh pipis elu!!" ucapnya sembari cekikikan, Juminten pun merasa sangat malu Robi mengatakan hal itu, spontan Juminten terdiam dan tidak berkata apa-apa lagi. Juminten pun segera pergi menjauh dari posisinya saat ini, dan itu membuat Robi dan Fikri terkejut.
"Eh kenapa tuh cewek? Manyun gitu?" tanya Fikri.
"Tahu tuh, nggak jelas!" balas Robi.
...BERSAMBUNG ...
__ADS_1