SAHABATku PENGANTINku

SAHABATku PENGANTINku
Bekas teh


__ADS_3

Aksa kembali mengambil gelas yang baru, kali ini Ia benar-benar teliti mengambil gula pasir, agar tidak keliru lagi dengan garam. Disaksikan bibi yang melihat Aksa begitu bersemangat untuk membuatkan minum untuk istrinya.


Aksa mengaduk aduk teh hangat itu dengan senyum, setelah itu Ia pun segera mengantarkan teh itu untuk sang istri.


Sesampainya di dalam kamar, Aksa melihat Zizi yang sedang membuka-buka sosial media miliknya, untuk sejenak Zizi tersenyum saat melihat ke layar ponselnya.


"Ya ampun! Aku udah nggak sabar ingin segera ketemu sama Abang," ucapnya lirih. Aksa pun menghampiri sang istri dan duduk disampingnya sembari memberikan teh hangat itu.


"Ini teh untukmu, Sayang!" seru Aksa. Zizi pun menoleh dan tersenyum kepada suaminya.


"Oh terima kasih banyak, maaf kalau aku merepotkanmu," ucap Zizi dengan tatapan matanya yang sendu.


"Repot! Ya nggak lah, untuk istriku apapun akan aku lakukan, bagaimana? Apa masih pusing?" tanya Aksa sembari mengusap rambut sang istri. Zizi menggelengkan kepalanya.


"Sudah agak mendingan. Oh ya Sayang! Kamu tahu sebentar lagi Abang akan pulang ke Indonesia, aku sudah nggak sabar ingin bertemu, aku kangen banget sama Abang," ucap Zizi yang membuat Aksa menebak siapa yang akan pulang.


"Mas Alaska?" tanya Aksa sambil melototkan matanya.


"Yap! Dalam Minggu ini Abang akan pulang, aku seneng banget," Zizi terlihat begitu gembira saat tahu jika sang kakak akan pulang ke Indonesia setelah menyelesaikan pendidikannya di luar negeri.

__ADS_1


Aksa pun ikut bahagia mendengar jika kakak iparnya sudah pulang ke Indonesia.


"Waahh benarkah? Kapan dia akan kembali?" Aksa bertanya sembari merangkul pundak sang istri dan menyandarkan kepala Zizi pada dadanya.


"Aku belum tahu pastinya, tapi nanti Kakak akan mengabari kita," balas Zizi yang terlihat begitu senang. Gadis itu terlihat sangat menyayangi sang kakak, sudah hampir lima tahun Alaska tinggal di London, hanya setahun sekali Ia pulang ke Indonesia yaitu saat hari raya. Tapi kini Alaska sudah lulus S2 dan akan meneruskan perusahaan sang Daddy.


"Kamu sangat menyayangi Kakakmu?" tanya Aksa. Zizi pun mengangguk sembari menjawab, "Sangat, aku sangat menyayanginya, saat dia memutuskan untuk melanjutkan kuliahnya di London, aku nangis waktu itu, aku nggak mau ditinggal Abang, karena Abang itu panutan aku banget, karena dari dia aku tuh tahu arti persahabatan, bukan cuma aku aja yang nangis, Mbak Bening juga ikut nangis loh, mereka dulu itukan sahabatan, saat tahu Abang mau terbang ke London, Mbak Bening nangis dan aku lihat dengan mata kepalaku sendiri," ucapan Zizi mengingatkan dirinya dengan saudara sepupunya yang tak lain anak dari Carlos dan Ara. Anak angkat Daddy Leo.


"Mbak Bening? Bening Embun maksudmu? Cewek berambut ikal yang kuliah di jurusan kedokteran universitas XX itu kan?" tanya Aksa penasaran.


"Hmm ... iya, kok kamu tahu nama panjangnya?" tanya Zizi yang juga heran darimana sang suami tahu tentang Bening Embun.


"Ya tahulah, itukan anaknya Om Carlos dan Tante Ara, Om Carlos itu anak angkatnya Daddy, sedangkan Tante Ara itu adiknya Mommy, nah mereka punya anak bernama Bening Embun, sekarang dia jadi dokter kandungan di salah satu rumah sakit," jelas Aksa yang semakin membuat Zizi tersenyum sumringah.


"Hmm ... jadi mereka dulu itu sahabat?" tanya Aksa penasaran. Zizi pun menceritakan tentang bagaimana hubungan Alaska dan Bening, seperti dirinya dan Aksa. Alaska dan Bening adalah sahabat karib, tidak ada ikatan cinta di antara mereka, sama halnya dengan Aksa dan Zizi. Alaska dan Bening juga sering bertengkar dan saling ledek satu dengan yang lainnya.


Aksa tampak manggut-manggut dan sesekali tertawa kecil saat Zizi menceritakan kisah persahabatan sang Kakak dan Bening, hingga akhirnya mereka terpaksa harus berpisah, karena Alaska harus melanjutkan studinya di luar negeri, sedangkan Bening melanjutkan kuliahnya di bidang kedokteran.


"Abang dan Mbak Bening tuh sahabatan sejak SMP sampai SMA, udah kebayang dong mereka tuh deket banget, bahkan Mbak Bening juga cewek yang pertama kali dimintai pendapat sama Abang jika Abang sedang naksir seseorang, dan ngga jarang juga mereka tuh berantem kayak kita, ya gitu cuma masalah sepele," ungkap Zizi sambil tertawa.

__ADS_1


"Persahabatan mereka pasti gokil banget tuh, dari SMP loh, kita sahabatan di bangku kuliah aja udah kayak orang gila, gimana dengan mereka??" lanjut Aksa yang tak habis pikir.


"Itu dia, Kang!" ucap Zizi sambil menyeruput teh manis buatan suaminya.


"Coba mereka bisa nikah seperti kita, pasti lebih gokil tuh, Kang!" sahut Zizi setelah mencicipi teh buatan sang suami.


"Bukan cuma gokil, pasti edan kayak kita, bingung, kaget, seneng, pokonya jadi satu, apalagi tahu pasangan kita pas habis ijab Kabul, astaga naga mau semaput waktu itu!" ungkap Aksa yang mengingat saat dirinya dipertemukan pertama kali dengan Zizi seusai ijab Kabul.


Zizi pun memanyunkan bibirnya dan berkata, "Memangnya kenapa? Kamu nyesel udah nikah sama aku? Bilang aja aku nggak apa-apa kok!" sahut Zizi yang memaksa Aksa tertawa kecil.


Kemudian Aksa memeluk istrinya sembari berkata, "Kalau aku nyesel, mana mungkin kita bisa bertahan sampai sebulan ini, buktinya aku malah nempel banget sama kamu, bau ketekmu saja aku udah hafal,"


Zizi tersenyum mendengar pengakuan dari sang suami, ia pun mencium keteknya sendiri, apakah memang sebau itu sehingga suaminya berkata demikian.


"Idiiih emangnya ketek ku bau apaan, Kang? Orang baunya wangi banget kok!" balas Zizi sembari menatap wajah sang suami yang sedang tersenyum. Seketika Aksa melihat bekas teh yang tertinggal di sudut bibir Zizi.


"Tunggu, Zi! Jangan bergerak!" seru Aksa sambil mendekati bibir Zizi.


"Ada apa, Kang?" tanya Zizi.

__ADS_1


"Ada sesuatu pada bibirmu!" ucap Aksa sambil menatap bibir Zizi dengan tatapan nakal, dan akhirnya Aksa membersihkan bekas teh itu dengan sapuan lembut bibirnya. Seketika Zizi merremas rambut sang suami saat sentuhan itu membuatnya terkejut.


...BERSAMBUNG ...


__ADS_2