
"Ya sayang sekali saya tidak bisa memberikan bakpao hangat, Mas! Ya sudah kalau begitu saya berikan kopinya saja, nanti pisang goreng nya biar saya bawa masuk ke dalam," seru Sari. Karena Zizi merasa kasihan, ia pun menyuruh Aksa untuk menerimanya, sebagai bentuk penghormatan dan terima kasih karena sudah membuatku kopi.
"Udah, Kang! Terima aja, kasihan udah capek-capek buatin kopi, nanti biar kita ajak anak-anak untuk habisin tuh pisang goreng, malam ini kita melekan bareng," ucap Zizi.
"Yakin! Kamu nggak apa-apa? Aku nggak enak loh sama kamu, Zi! Entar kamu cemburu, aku kan menjaga perasaan kamu!" balas Aksa sembari berbisik pada telinga sang istri.
Zizi tersenyum sembari menggelengkan kepalanya, akhirnya Aksa menerima nampan itu dari Sari.
"Baiklah saya terima, terima kasih banyak Mbak Sari, semoga Tuhan segera membalas kebaikan Mbak Sari, bisa mendapatkan jodoh yang baik untuk Mbak Sari," ucapan Aksa membuat Sari tersenyum malu.
"Iya terima kasih banyak, Mas Aksa. Saya juga sedang PDKT sama cowok, mudah-mudahan saja kami berjodoh, saya suka cowok yang seperti Mas Aksa," ucap Sari yang spontan membuat Aksa menyengir.
"Hehehe jangan, Mbak! Jangan naksir saya, saya itu orangnya pilih-pilih, saya tuh suka cewek yang berponi atas bawah, lah Mbak Sari kedelai nggak punya poni, jenong gitu jadi saya kurang suka, hehehe maafkan saya jika Mbak Sari kedelai saya tolak sebelum menembak, saya sadar jika saya ini terlalu ganteng, noh teman saya ini selalu tergila-gila pada saya, tapi saya masih cuek, nginthil mulu dia," seru Aksa sembari melirik ekspresi wajah Zizi yang terlihat cuek dan santai mendengar ucapan dari suaminya yang selalu konyol.
Hingga akhirnya, tiba-tiba saja Sari menangis dan langsung masuk ke dalam rumah, entah kenapa gadis itu tiba-tiba pergi dengan berlari kecil.
__ADS_1
Robi dan Fikri yang melihat itu, tampak penasaran kenapa Sari bisa lari dengan menangis.
"Loh loh Mbak Sari! Mbak nya kok lari sih, kalau kebelet jangan dipakai lari, Mbak! Nanti kececeran loh," seru Aksa yang memaksa Zizi menepuk pundak suaminya.
"Apaan sih, Kang? Kamu pikir kebelet beol, dia itu lagi nangis," sahut Zizi yang membuat Aksa terkejut.
"Loh? Nangis? Emangnya aku ngapain dia? Dasar cewek! Sensi banget sih," ucap Aksa yang merasa tidak berdosa.
"Kamu sih bilangnya gitu, kayaknya anak pak lurah naksir kamu deh, Kang!" seru Zizi yang membuat Aksa tertawa.
Tak berselang lama, Robi dan Fikri datang menghadap Aksa yang saat itu sedang memegang nampan berisi kopi dan sepiring pisang goreng. Keduanya pun melihat pada isi nampan tersebut.
"Waahh ada kopi nih, eh ada pisang goreng juga, mau dong!" seru Robi sambil mengambil satu pisang goreng yang masih dalam keadaan panas itu kemudian ia makan langsung, saking panasnya membuat mulut Robi kepanasan, bisa dibayangkan bagaimana mulut Robi saat mengunyah pisang goreng yang masih panas.
"Aww aww aww ... panas ding, anjayyy! Bibir gue yang mungil jadi memble nih," ujar Robi yang membuat Aksa dan Fikri tertawa terpingkal-pingkal.
__ADS_1
"Heh ... makanya jangan main masukin aja ke mulut, enak kan rasanya," seru Aksa sembari tertawa, sementara itu Fikri tampak bertanya kepada Aksa tentang apa yang terjadi pada Sari.
"Eh Bro! Tuh si Sari kenapa? Kok gue lihat kayak mewek gitu?" tanya Fikri. Aksa pun meletakkan nampan berisi kopi itu di atas sebuah bangku panjang. Setelah itu Ia berkata tidak tahu apa-apa tentang Sari yang sedang menangis.
"Mana gue tahu kalau dia menangis, gue juga nggak tahu kenapa tiba-tiba dia nangis, apa jangan-jangan gara-gara gue bilang ke dia nggak usah jatuh cinta sama gue, karena gue nggak bakalan nerima, gitu doang sih, salah gue apa coba??"
Ucapan Aksa membuat dua sohibnya menggelengkan kepalanya.
"Ya pantesan aja dia mewek, orang elu gitu sih ngomongnya, sadis lu Bro!" seru Robi.
"Ya musti gimana lagi, daripada dia berharap sama gue, orang gue udah punya bini, nggak mungkinlah gue nyakitin hati bini gue, gimana sih lu pada," balas Aksa sembari merangkul pundak Zizi.
Kedua sohibnya tampak manggut-manggut mendengar alasan Aksa.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1