
"Eh ngapain sih kalian berdua datang pagi-pagi gini, untung aja gue udah melek, biasanya gue masih molor." Sahut Aksa kepada kedua sohibnya itu.
"Lah! Ini udah siang bro! Hampir jam delapan tuh, ya percaya sih kalau elu bakal bangun kesiangan, pasti semalam habis lembur, kan?" goda Fikri yang diiringi tawa Robi.
"Hahaha ... percaya gue, pasti semalam elu udah main bola ya, kan? Dan gue yakin kalau udah gol, lihat wajah elu aja udah kelihatan njiiir!" sindir Robi dengan tertawa.
"Apaan sih kalian, nggak ada-ada, gue nggak ngapa-ngapain," jawab Aksa mengelak. Tentu saja pengakuan Aksa tidak dipercaya begitu saja oleh keduanya.
"Elu pikir kita percaya? Nggak banget. Eh kok bisa sih elu nikah sama Zizi?" tanya Robi penasaran.
Aksa tersenyum kepada kedua sohibnya itu, kemudian ia menjelaskan tentang pernikahan mereka yang belum merasa ketahui sebenarnya.
"Lah mana gue tahu bakal kawin sama sohib gue, bokap nyokap nggak bilang nama gadis itu, surprise katanya, saat gue lihat pas habis ijab Kabul, gue kaget dong eh ... ternyata si bawel yang jadi bini," jelas Aksa sambil menyalakan rokok. Kedua temannya tertawa, baik Robi dan Fikri terlihat ikut bahagia melihat Aksa dan Zizi menikah.
"Eh tapi kayaknya elu nggak tertekan tuh kawin sama Zizi, gue lihat malah cerah muka lu, kayak bahagia banget, biarpun Zizi bawel, iya nggak, Rob?" sambung Fikri sambil melihat ke arah Robi.
__ADS_1
Robi pun memperhatikan Aksa dengan seksama, ada aura yang berbeda dari wajah sohibnya itu, "Woh iya loh, Fikri bener, elu kayak girang banget, tapi percaya sih elu aslinya suka kan kawin sama Zizi, lu aslinya demen kan sama si doi? Eh apalagi rambutnya dah basah tuh. Kuy ... apa dugaan gue ini benar? Elu dan Zizi udah ... udah ginian?" goda Robi yang terus menyindir Aksa dengan memberikan kode tangan nya seolah-olah Aksa dan Zizi sudah melakukan malam pertama
Aksa pun tersenyum lagi sembari menghisap rokok miliknya, "Apaan sih elu. Kita nggak ngapa-ngapain kok. Gue ngga mungkinlah naksir sama dia, gue cuma kagum sama dia, kita tuh cuma sahabatan nggak lebih," balas Aksa yang belum berani mengatakan sejujurnya.
"Jiahaaa yakin lu, Sa! Elu nggak tergiur untuk ngelakuin itu, hoax banget, gue tahu betul elu tuh siapa, dan gue yakin kalau elu sudah melakukannya dengan Zizi, sohib hanya alasan kuno, sebenarnya kalian berdua tuh sama-sama suka, entar ya gue buktiin omongan gue!" sahut Fikri yang tahu betul sifat Aksa, Fikri selalu melihat Aksa yang tanpa sengaja sedang memperhatikan Zizi saat berada di dalam kelas, diam-diam Aksa curi-curi pandang saat Zizi sedang berbicara dengan teman-temannya, meskipun Aksa tidak menyadarinya tapi lain halnya dengan dua sohibnya itu.
Sementara itu Zizi yang masih berada di dalam kamar, Ia pun memakai baju dan ikut menemui teman-teman Aksa yang juga merupakan teman-temannya. Hari itu Zizi terlihat segar dengan memakai dress berwarna hitam, rambutnya yang sedikit basah, Ia gerai agar kering terkena angin secara alami, Zizi jarang menggunakan hair dryer untuk mengeringkan rambutnya karena ia takut jika rambutnya akan rusak, maka dari itu Zizi keluar dengan rambut yang nampak masih basah.
Di saat Aksa dan kedua temannya sedang sibu berbincang, Zizi pun ikut membaur bersama mereka karena sudah biasanya Zizi juga akrab dengan Robi dan Fikri.
"Hai semua!" sapa Zizi yang saat itu sedang duduk di samping Aksa.
"Hai, Zi! Waduh kalian berdua kenapa nggak ngabarin kita sih kalau mau nikah, coba kita tahu kita bakalan datang bawa pasukan untuk ngeramein nikahan kalian, main diem-dieman aja." Seru Robi.
"Ya gue juga nggak tahu kalau suami gue tuh dia nih si buaya Empang, gue tahunya habis ijab Kabul, asli gue shock banget waktu itu pas lihat muka dia cengar-cengir lihatin gue!" Balas Zizi yang membuat Aksa tak terima.
__ADS_1
"Eh apaan lu, gue tuh yang shock lihat elu, gue udah ngebayangin pasti hari-hari gue nggak jauh-jauh dari omelan elu, nggak habis thinking gue bakalan pusing setengah mati selalu elu omelin." Protes Aksa.
"Diiih siapa juga yang omelin elu, dasar ular kadut!" sahut Zizi.
Sementara itu kedua teman mereka, Robi dan Fikri hanya melongo melihat keduanya selalu berantem dan beradu argumen.
"Eh udah-udah, nggak di kampus ngga di rumah, kalian berdua tuh ribuuuuutttt mulu! Nggak capek apa?" sahut Fikri sambil geleng-geleng kepala, sementara itu Robi menyahuti ucapan Fikri yang membuat pasangan pengantin baru itu terdiam.
"Halah mereka berdua tuh cuma berantem di luar doang, tapi kalau di dalam mereka tuh berantemnya di atas ranjang, wkwkwk!! Kalian berdua ngga bisa bohong, tuh apaan tuh merah-merah di sana kalau bukan Aksa yang berkreasi, jiahaaa akhirnya kalian berdua nggak tahan, kan?" goda Robi sembari melihat tanda merah pada leher Zizi.
Seketika Aksa dan Zizi diam dan salah tingkah. Aksa spontan melihat ke arah leher istrinya yang terdapat bekas gigitannya, sementara Zizi sibuk menutupinya dengan tangan.
"Sialan nih mereka! Ah si Akang, ngapain juga sih bikinnya di sini, lupa gue tutupin lagi, assseemmmm!"
"Eh busyet! Cakep juga karya gue, ternyata gue pinter juga di dunia seni tato, ini sangat keren!"
__ADS_1
Keduanya sama-sama berbicara pada diri sendiri. Kedatangan kedua temannya itu benar-benar membuat Aksa dan Zizi tidak bisa berpura-pura lagi, jika keduanya sudah benar-benar menjadi suami istri secara lahir dan batin.
...BERSAMBUNG...