
"Enggak!" Zizi tetap mengelaknya.
"Katakan sekali lagi?" desak Aksa yang semakin mendekati wajah sohibnya itu. Zizi pun semakin tidak bisa bergerak karena tubuhnya terhimpit tubuh sang sahabat yang jelas lebih besar daripada tubuhnya yang mungil.
"Lepasin gue, Kang! Elu mau apa sih? Gue nggak bisa gerak nih, mana mimik gue kehimpit lagi, elu mau bikin gue mati sesak kehabisan nafas?" rintih Zizi saat merasa dirinya mulai susah bernafas. Bukan karena Aksa yang menghimpitnya tapi karena ia yang merasa gugup sohibnya begitu dekat dengan dirinya.
Bukannya melepaskan, Aksa justru tersenyum menyeringai, dan Ia pun mulai berbisik pada telinga Zizi.
"Gue tahu elu cemburu, elu nggak bisa bohong sama gue, bilang aja elu mulai cinta kan sama gue?" Zizi terlihat menahan geli saat Aksa membisikkan kata-kata itu pada telinganya. Apalagi sohibnya itu bukan hanya berbisik, tapi juga mencumbu lehernya yang membuat Zizi mulai merinding.
__ADS_1
"Kata siapa gue cinta elu? Elu cuma sohib gue, Kang! Dan gue nggak mungkin punya perasaan itu, elu jangan ngada-ngada deh, lepasin, Kang!" balas Zizi dengan suara yang terbata-bata karena bagaimanapun juga Ia merasa ada sesuatu yang mulai membakar jiwanya tatkala Aksa memberikannya sentuhan. Disaat mereka berdua sedang bermesraan, bibi yang saat itu sudah selesai membersihkan lantai dari pecahan piring akibat nasi goreng yang tumpah itu, sang pelayan kemudian keluar dari kamar dan tanpa sengaja melihat majikannya sedang bermesraan.
Spontan bibi menutup matanya saat lewat di depan mereka, "Aduh aduh, dasar pengantin baru, dimana-mana nemplok kayak cicak," Bibi membatin sembari berjalan menuju ke arah dapur sembari berkata, " Permisi Tuan, Nyonya. Saya numpang lewat tolong jangan dimarahi!"
Mendengar suara bibi, Aksa pun berhenti bergerak dan keduanya saling menatap. Seolah-olah keduanya baru saja terkena hipnotis, mereka berdua kembali dalam mode gokil sebagai sahabat.
"Idihhh ngapain kita kita pelukan, elu sengaja kan godain gue?" celetuk Aksa sambil melepaskan tangan Zizi dan merapikan bajunya sendiri. Hal yang sama Zizi lakukan, ia pun tak kalah bingung dengan apa yang baru saja terjadi diantara mereka.
"Ya elah tadi gue khilaf, Zi! Reflek aja gitu," balas Aksa sembari memperhatikan wajah sohibnya.
__ADS_1
"Khilaf-khilaf, khilaf kok sering, khilaf apaan!" Balas Zizi sambil mengerucutkan bibirnya.
"Ya ... khilaf yang paling nikmat, Zi! Weheee ... elu nggak mau mengulang lagi, Zi? Gue siap kok jika elu pingin gue khilaf lagi," pertanyaan yang membuat Zizi spontan menjawab, "Bodo."
Ada senyum terukir dari bibir Aksa, nyatanya dirinya suka sekali mengerjai sohibnya itu, ia pun turut mengekor di belakang Zizi.
Zizi merasa jika Aksa sengaja mengikuti dirinya, ia pun segera membalikkan badan dan menatap wajah sang suami yang saat itu sedang tersenyum kepadanya.
"Katanya tadi lemes, apa kepala elu udah nggak sakit lagi? Bagus lah kalau udah sembuh, gue nggak usah capek-capek ngerawat elu lagi." Mendengar ucapan dari Zizi, seketika sakit kepala Aksa mendadak kambuh dan Ia pun mulai berakting untuk mengerjai sohibnya itu.
__ADS_1
"Oh iya, aduuhhh ... masih sakit, Zi! Nggak bakalan bisa sembuh kecuali elu pijit, karena sebenarnya yang sakit bukan kepala gue yang ini, tapi kepala lainnya," ucapnya sembari menunjuk dengan kode mata ke arah bawah. Seketika Zizi mengerti kepala mana yang dimaksud suaminya itu.
...BERSAMBUNG...