
Sementara di sisi lain, pak lurah yang bernama Junaidi itu terlihat begitu senang dengan kedatangan mahasiswa dari kota, apalagi saat ia melihat wajah cantik Zizi yang paling bersinar di antara yang lainnya. Pak lurah yang memiliki kumis setebal buku kamus itu tampak tersenyum dan membuat Zizi bergidik.
"Idiiih kumisnya rungsep beud, ngeri euy!" batin Zizi sembari meringis, tiba-tiba saja Rere mendekati Zizi dan berbisik, "Anjayyy kumisnya, kayak pak Raden, Zi elu musti hati-hati, tuh pak lurah kayaknya lihatin elu mulu deh, naksir tuh kayaknya."
Mendengar ucapan dari Rere, Zizi pun langsung mengambil masker dan langsung menutupkan nya pada wajah nya, agar pak lurah tidak bisa menatap wajahnya dengan bebas.
"Eh Zi! Elu mau ngapain?" tanya Rere saat melihat Zizi memasang masker itu.
"Biar aman dari pandangan orang lain yang mau naksir gue," balas Zizi yang kini sudah memasang masker itu sehingga separuh wajahnya tidak terlihat, hanya kedua mata Zizi yang terlihat.
Pak lurah pun protes, ia pun bertanya kepada Zizi kenapa harus memakai masker, dan Zizi pun menjawabnya dengan santai.
"Hmm Mbak Zizi kenapa pakai masker?" tanya pak lurah yang pada akhirnya tidak bisa lagi melihat wajah cantik Zizi.
__ADS_1
"Hmm ... tidak apa-apa, Pak! Hanya saja saya sedang pilek, iya hehehe takut nular!" jawab Zizi.
Pak lurah pun terpaksa tidak bisa lagi melihat wajah Zizi yang cantik, sementara itu Rere tampak tertawa kecil melihat tingkah sohibnya itu.
"Ada-ada elu, Zi! Bisa aja ngelabuhi pak lurah pakai acara pilek segala," bisik Rere.
"Harus dong! Kita tuh jangan sampai terkecoh dengan kebaikan seseorang yang baru kita kenal, apalagi pak lurah kayaknya mau demen sama gue, ogahlah gue udah milik si Akang, nggak bakalan ada yang bisa mengambil hati gue kecuali si Akang!" ucap Zizi yang tak sengaja keceplosan. Tentu saja Rere sangat terkejut mendengar penuturan dari Zizi.
"Apa Zi? Gue nggak salah dengar? Elu dan Aksa?" tanya Rere penasaran.
"Emm ... gue, gue ... entar deh gue ceritain, sekarang kita masuk dulu yuk! Naruh nih barang-barang," ucap Zizi sembari mengajak Rere untuk masuk ke dalam rumah yang sudah disediakan oleh pak lurah.
Hari pertama mereka datang ke desa Oro-oro Ombo, mereka disambut dengan baik dan mereka masih bersantai sejenak sebelum esok harinya mereka harus melakukan tugas pertama.
__ADS_1
Malam hari, suasana di desa terasa lebih dingin, tentu saja suhu udara di sana pasti lebih dingin dari tempat tinggal mereka di kota biasanya yang akrab dengan udara panas.
Aksa dan kedua sohibnya tampak sedang nongkrong di depan rumah sambil membakar kayu-kayu kecil untuk menghangatkan tubuh. Pun sama dengan Zizi dan Rere, kedua gadis itu tampak sedang berada di luar rumah dan sedang duduk-duduk di teras rumah.
Tentu saja Aksa melihat sang istri yang sedang duduk-duduk bersama Rere saat itu, Aksa pun segera menghampiri istrinya. Sementara itu Robi dan Fikri tampak melihat Aksa yang sedang datang ke tempat mahasiswi.
"Eh si Aksa ngapain tuh!" seru Robi.
"Halah ... palingan juga mau bilang, Zi gue kangen, jiahaaa bisa ditebak, tahu sendiri tuh anak udah kayak perangko," balas Fikri sambil tertawa kecil. Robi pun ikut tertawa dan keduanya tampak sedang memantau apa yang sedang sohibnya lakukan.
Benar saja, Aksa datang menghampiri istrinya dan duduk di samping Zizi yang saat itu sedang duduk bersama Rere. Kedua cewek itu sedang memainkan ponsel mereka masing-masing.
"Akang! Kamu ngapain di sini?" sapa Zizi saat mengetahui Aksa yang tiba-tiba duduk di sampingnya. Aksa pun mendekati telinga Zizi dan berbisik, "Dingin, Zi! Dede gemoy kamu bangun!"
__ADS_1
Seketika Zizi melototkan matanya saat mendengar pengakuan dari sang suami.
...BERSAMBUNG...