
Hampir satu jam, pintu kamar itu mulai terbuka, terlihat Aksa keluar dari kamar dan berjalan menuju ke arah dapur, Aksa yang sedang memakai piyama kimono terlihat begitu menggoda, bagaimana tidak dada bidang dan bulu-bulu halus terlihat begitu seksi dan sangat menggairahkan. Wajah maskulin nya terlihat masih basah oleh keringat, pria itu memerintahkan pelayan untuk mengantarkan makanan ke kamarnya.
"Bi, tolong antarkan sarapan ke kamar kami, kami sarapan di kamar saja, kami sedang malas keluar kamar." Seru Aksa sembari mengambil air minum di dalam kulkas, bibi memperhatikan sang majikan yang sepertinya sangat kehausan, seolah-olah sang majikan baru saja bekerja keras.
"Tuan sangat haus, ya? Mau ditambah lagi minumannya?" tawar bibi yang melihat air satu botol setengah liter itu habis diminum oleh Aksa.
"Hmm ... tidak perlu, Bi. Saya cuma butuh dua buah telur ayam kampung dan madu, apa Bibi bisa membuatkan ramuan itu?" Seketika bibi tersenyum tipis saat sang majikan memintanya untuk meracik jamu kuat tradisional itu. Dengan senang hati bibi menganggukkan kepalanya.
"Tentu saja, Tuan! Dengan senang hati saya akan membuatkannya."
__ADS_1
Aksa tersenyum, kemudian Ia kembali lagi ke dalam kamarnya untuk melihat keadaan sang istri. Sementara itu di dalam kamar, Zizi masih berada di dalam selimut, hatinya dah dig dug berdegup kencang, apa yang sudah baru saja ia lakukan dengan sohibnya, seolah tidak ada lagi dinding pembatas di antara mereka, keduanya bebas sebebas-bebasnya melakukan apapun di dalam kamar, entah itu jungkir balik, loncat indah, push up, salto, jingkrak-jingkrak, atau bahkan saling bergulat, tidak ada melarang mereka.
Zizi tampak tersenyum kala ia masih teringat jelas bagaimana sohibnya itu berhasil membawa dirinya terbang ke awang-awang, rasanya sangat nikmat dan tentunya Zizi tidak menyangka jika dirinya tidak mau berhenti.
"Hmm ... Akang! Ternyata elu pinter banget bergoyang, bakat terpendam yang luar biasa, eh ... kira-kira beneran nggak sih dia nggak bagikan goyangan ini sama cewek manapun sebelumnya? Soalnya dia pinter banget loh," Zizi bermonolog sendiri sembari berpikir keras bagaimana suaminya sepintar itu melakukan trik goyangan, sehingga membuatnya kewalahan.
Tak berselang lama, Aksa masuk ke dalam kamar dan melihat sang istri yang masih tertidur, Zizi yang tahu jika suaminya datang, Ia pun berpura-pura memejamkan mata seolah-olah dirinya sedang tertidur.
"Zi, asal elu tahu aja, gue sebenernya sayaaanggggg banget sama elu, nggak tahu kenapa saat gue ada di samping elu, bawaan nya seneng, happy terus, dibalik ocehan dan omelan elu, itu merupakan suatu keistimewaan dari elu, dan gue seneng aja kalau elu omelin, elu ledekin, ngga perduli gue, dan gue tetep suka, apa ini yang dinamakan C-I-N-T-A ...." Aksa menghela nafasnya berharap Zizi tidak mendengarkan ucapannya, karena pastinya Aksa sangat malu.
__ADS_1
Zizi mendengarkan ucapan sang sohib, tentu saja ia begitu jelas mendengar kata-kata yang terucap dari bibir sang suami, ada senyum tersimpul pada bibir Zizi. Entah itu benar atau tidak, yang jelas di mata Zizi, sohibnya itu adalah seorang buaya dan suka sekali menggombali banyak gadis. Seolah apa yang dikatakan oleh sang sohib tidak terlalu berarti baginya. Dan secara tiba-tiba Zizi membalikkan badannya dan menatap wajah sang sohib yang saat itu sangat terkejut melihat Zizi.
"Zi, elu ... elu dengerin gue lagi ngomong?"
Zizi mengangguk dan setelah itu Ia tertawa melihat ekspresi lucu Aksa yang sedang tercengang menatap dirinya.
"Kok elu malah ketawa sih, Zi?" seru Aksa yang merasa Zizi sedang meledeknya.
"Oke oke, gue minta maaf, Kang! Hmm ... puitis juga elu, ya! Pantas saja banyak cewek yang nemplok sama elu, tapi gue bukan semacam cewek-cewek itu, yang mudah elu bohongi, elu kibuli. Karena gue tidak akan percaya dengan apa yang sudah elu katakan. Gue udah hapal betul siapa elu, Kang."
__ADS_1
...BERSAMBUNG...