
Hal yang sama juga dilakukan oleh Alaska, pria itu masuk ke dalam kamar mandi dan berendam di dalam bathtub, ia terlihat memejamkan matanya sembari merendamkan tubuhnya pada air hangat. Seketika terlintas dalam benaknya, bayangan wajah Bening yang sedang tersenyum kepadanya.
"Shiiit! Kenapa aku masih saja tidak bisa melupakan Bening, apa mungkin aku harus mengatakan perasaanku yang sebenarnya? Aku tidak bisa menikah dengan wanita manapun, jika bukan dengan wanita yang kuinginkan, dan itu hanya Sahabatku sendiri, tapi bagaimana caranya aku mengatakan kepada Bening jika aku sangat mencintainya, iya kalo dia juga cinta, jika tidak? Pasti malu banget!" ucap Alaska sembari membasuh wajahnya dengan air.
"Alaska!!"
"Bening!!"
Keduanya, baik Alaska ataupun Bening, mereka berdua sama-sama merasakan sesuatu yang membuat mereka tidak tenang, sama-sama memiliki perasaan cinta tapi sama-sama gengsi untuk mengakuinya.
Setelah dirasa cukup, Bening keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk piyama, pun sama dengan Alaska, cowok macho itu hanya melilitkan handuk pada pinggang seksinya.
Kemudian ia pun menghadap ke arah cermin, sejenak Alaska melihat ponselnya dan tentu saja yang ada dalam pikirannya hanya nama Bening dan Bening.
Alaska kembali menghubungi nomor Bening via video call, seolah dirinya masih belum puas untuk berbicara dengan gadis itu.
"Alaska! Apa lagi sih anak! Pakai video call segala!" ucap Bening sembari merapikan rambutnya yang masih basah. Setelah itu Ia pun segera membuka video call dengan sohibnya itu.
Alaska melihat jika Bening menerima panggilan video darinya, ia pun beranjak duduk di atas tempat tidur sembari merebahkan punggungnya pada sandaran tempat tidur.
__ADS_1
"Ada apa lagi? Kenapa, elu masih kangen sama gue?" tanya Bening sambil dirinya meletakkan ponselnya di atas meja, sementara ia sibuk menyisir rambutnya yang panjang.
"Hehehe iya nih! Gue kurang puas ngobrol sama elu!" balas Alaska sembari memperhatikan wajah Bening yang tanpa make up, polos dan terlihat begitu cantik alami.
"Emang elu mau ngomong apaan? Ngomong aja, mumpung gue belum ngantuk, kalau gue udah ngantuk gue malas nanggepin elu!" sahut Bening.
"Sebenarnya, ada sesuatu yang pingin banget gue katakan sama elu, Ning!" seru Alaska mencoba memberanikan diri untuk mengatakannya.
"Sesuatu apa? Katakan saja!" desak Bening.
"Tapi tidak di sini, gue pingin ngomong langsung sama elu! Elu bisa keluar sebentar nggak malam ini, sebentar aja!!" desak Alaska.
"Aduuh kayaknya gue nggak bisa deh! Dan kedua ortu gue pasti nggak ngizinin gue keluar rumah, soalnya baru saja gue bikin rencana perjodohan gue barantakan, pasti nantinya gue bakalan kena damprat bokap nyokap kalau mereka tahu gue udah melarikan diri," ungkap Bening, sejenak Alaska pun heran, kenapa nasib yang dialami oleh Bening sama persis dengan apa yang menimpanya. Sama-sama dijodohkan dengan orang yang belum dikenalnya. Dan mereka memutuskan untuk pergi setelah tahu bagaimana bentuk orang yang akan dijodohkan dengan mereka.
"Hmmm!!"
"Kok kita senasib sih, gue juga dijodohin, tapi gue nggak mau," sahut Alaska.
"Kenapa nggak mau?" tanya Bening sembari mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Sama kayak elu, elu sendiri kenapa nggak mau dijodohin?" Alaska bertanya balik.
"Ya ... karena gue nggak cinta, gue nggak mau menghabiskan waktu bersama orang yang nggak gue cinta, kasihan dia! Dia si calon gue memiliki raga gue, tapi dia nggak bisa memiliki jiwa gue, karena jiwa dan hati gue sudah ada yang memilki," ungkap Bening yang membuat Alaska penasaran, siapa yang sudah merebut hati Bening darinya.
"Emangnya elu sudah mencintai pria lain? Siapa?" desak Alaska yang sangat penasaran.
"Tidak penting, karena dia juga akan menikah sebentar lagi, jadi buat apa gue mengharapkan dia, dah lah gue terima aja perjodohan dari bokap nyokap, biar mereka senang," ungkap Bening yang membuat Alaska berpikir, "kalau saja elu tahu, Ning! Kalau gue juga cinta sama elu, kalau saja gue bisa ungkapin, mungkin rasanya plong hati ini, dan iya elu memang benar, lebih baik menerima kenyataan yang ada, dan ternyata elu mencintai pria lain, jadi untuk apa lagi gue berharap lebih," ungkap Alaska yang terlihat sedikit kecewa.
"Elu tahu nggak sih, sebenarnya gue pingin ngomong sama elu, tapi ... ah sudahlah! Kayaknya udah nggak penting lagi buat diomongin," ucap Bening lirih.
"Apa, Ning? Elu ngomong apa? Gue nggak kedengaran dengan jelas? Elu lagi ngedumel, ya? Kayak suara tawon hehehe," seru Alaska sambil bercanda.
"Ngedumel-ngedumel gundul mu! Ngomong sama elu nggak pernah serius, ya! Dah lah tidur sono! Gue juga mau istirahat, nih pasti sebentar lagi bokap nyokap pulang dan langsung nyari gue pastinya, bakalan kena omel gue!!" gerutu Bening. Dan benar saja suara mobil Papa Carlos terdengar dari halaman depan.
"Waduh Papa pulang, eh Bro kita udahan, ya? Bokap udah datang, gue harus persiapan jurus playing victim buat mengelabui mereka, udah sono tidur lu! Jangan lihatin gue mulu lu, entar jatuh cinta loh!!" pinta Bening yang gugup saat mendengar suara mobil Papa Carlos datang.
"Emang gue udah jatuh cinta sama elu!" sahut Alaska yang seketika membuat Bening terkejut.
"Hah?? Ngomong apa lu? Kurang keras gue nggak denger!" seru Bening penasaran.
__ADS_1
...BERSAMBUNG...