
Hari-hari pun berlalu, sudah dua hari pasangan sohib Aksa dan Zizi menjadi suami istri, dan hari ini adalah hari pertama mereka pergi ke kampus dengan status sebagai suami istri. Tapi, mereka berdua memutuskan untuk tidak menyebarkan luaskan informasi tentang pernikahan mereka kepada teman-teman mereka, karena itu adalah permintaan Zizi yang belum siap menerima cibiran dari teman-temannya karena diketahui mere berdua selalu bertengkar setiap harinya.
"Yuk berangkat! Lama banget sih elu, elu mau kita telat?" ajak Aksa kepada istrinya yang sedang memasang gincu pada bibirnya.
"Ya elah bentar doang, nggak sabar amat sih! Kalau nggak sabaran ya udah berangkat dulu sono! Biar gue naik taksi aja," balas Zizi yang masih santai duduk di depan meja rias. Aksa pun hanya menghela nafasnya sambil menunggu sang istri yang sedang berdandan. Sembari menunggu Zizi yang sedang berdandan, Aksa tampak memperhatikan bagaimana istrinya sedang berada di depan meja rias, setelah Zizi menerapkan lipstik pada bibir tipisnya, ia pun tampak meratakan polesan lipstik itu dengan bibirnya sendiri. Kemudian ia terlihat mengecup di depan cermin.
"Muacchhh! Em keren banget nih warnanya suka banget!" seru Zizi memuji warna lipstik miliknya sendiri.
"Ck! Lama banget sih cewek kalau dandan, pakai gincu aja cermin harus dicium juga, ya? Mending cium gue aja, daripada sama cermin, nggak bakalan ngerespon tuh kaca, beda lah sama gue. Apalagi ciumannya di bibir, beuh pasti manis rasanya," sindir Aksa kepada istrinya. Zizi menatap wajah sang suami sembari mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"Apaan sih lu, suka-suka gue dong, bibir-bibir gue, terserah gue mau cium apa aja, emang bibir elu doang yang rasanya manis, nggak juga, biasa aja!" Zizi menjawab seperti biasanya, ketus dan cuek.
"Halah, bener nih biasa aja! Kalau biasa aja kenapa dibalas? Elu juga nikmati kok," celetuk Aksa sambil menyalakan rokok di tangannya.
Setelah Zizi selesai mengoleskan gincu pada bibirnya, ia pun segera beranjak pergi dan sesaat ia melihat sohibnya sedang menyalakan sebatang rokok, dengan cepat Zizi mengambil rokok yang ada di tangan Aksa.
"Akang! Elu apa-apaan sih, gue udah pernah bilang, jangan pernah merokok lagi, gue nggak suka, impoten baru tahu rasa loh!" seru Zizi mengingatkan sohibnya itu tentang bahaya merokok. Aksa pun hanya tertawa kecil melihat sikap Zizi yang tidak pernah menyukai dirinya merokok.
"Dah lah, kita berangkat! Ngomong sama elu nggak kelar-kelar, siapa bilang gue suka sama Dede elu, itu cuma karena terpaksa, gue cuma melaksanakan tugas gue sebagai istri Soleha, ngerti ngga lu." Zizi berkata sembari beranjak keluar kamar, sementara Aksa mengekor di belakangnya, memperhatikan bentuk tubuh istrinya yang terlihat sedikit berubah.
__ADS_1
"Eh Zi, kok elu sekarang beda, ya?" pertanyaan Aksa memaksa Zizi menoleh ke belakang.
"Beda? Apanya yang beda? Elu jangan ngada-ngada deh," tanyanya sambil memperhatikan penampilannya. Kemudian Aksa mendekati istrinya dan membisikkan sesuatu yang membuat Zizi salah tingkah.
"Elu kelihatan lebih seksi, tambah gede aja, ternyata gue berhasil bikin elu tambah bohay," bisik Aksa dengan tersenyum nakal.
Gombalan Aksa sukses membuat wajah Zizi memerah.
"Dasar tukang gombal!" umpat Zizi sambil berjalan menuju keluar rumah. Aksa hanya tertawa bangga, sepertinya Aksa harus bersabar untuk mendapatkan pengakuan dari sohibnya itu jika Zizi sebenarnya juga merasakan hal yang sama seperti dirinya.
__ADS_1
"Nggak apa-apa elu cuekin gue, kita lihat aja entar siapa yang bakalan nyari dan nangis-nangis, gue mau lihat elu menyesal telah mengabaikan gue, tunggu tanggal mainnya." Aksa pun terus mengikuti istrinya, hingga akhirnya mereka sampai di luar rumah.
...BERSAMBUNG...