
Zizi tersenyum smirk, Ia pun mulai beraksi untuk membuat Aksa jera karena telah membuatnya kesal dan jail kepadanya. Perlahan tangan Zizi membelai dan mengusap si Dede gemoy dengan lembut, tentu saja bisa dibayangkan bagaimana ekspresi wajah Aksa kala itu, ia merasa mulai ada getaran-getaran halus yang merambat. Aksa memejamkan matanya betapa nikmatnya pijitin dari sang sohib.
"Ya ampun, Kang! Nih rambut panjang banget, sampai nutupin lehernya gini," sahut Zizi kala sedang memilih sehelai bulu perindu berwarna hitam legam itu.
"Ye ... emang belum gue cukur dari saat elu nelpon gue dulu, tapi tetap kece, bukan!" balas Aksa tanpa curiga. Zizi pun membuat keenakan dulu suaminya sebelum dirinya benar-benar memberikan pelajaran kepadanya.
"Aduuh iya gitu, Zi. Enak banget!" celoteh Aksa sambil menikmati sentuhan yang ada. Hingga akhirnya dalam hitungan detik tiba-tiba Zizi mencabut rambut penghias Dede gemoy milik sang suami.
Seketika Aksa membuka matanya dan spontan Ia menjerit kesakitan saat Zizi mencabut satu bulu perindu itu.
__ADS_1
"Aaarrrgggghhhh ... Zizi apa yang udah elu lakuin?" teriakan panjang keluar dari bibir Aksa, Zizi pun segera beranjak pergi dari tubuh sang suami dan sedikit menjauh sembari melihat hasil panennya yaitu berupa dua helai bulu perindu yang berhasil ia cabut dari tempatnya. Zizi menyeringai senang, akhirnya dirinya bisa memberi pelajaran kepada sohibnya.
Aksa langsung bangun dan melihat kondisi terkini area tumbuhnya bulu perindu itu, "Aaahhh gila sakit banget njiiir! Elu apain sih, Zi? Gila ya elu, sumpah KDRT banget lu!" gerutu Aksa sambil meringis kesakitan dan ia pun tampak mengelus-elus bekas lokasi pencabutan bulu perindu yang terlihat memerah itu.
Zizi terlihat sumringah dan berkata, "Tuh makanya nggak usah sok jailin gue dong, sekarang kita impas. Bagaimana? Enak, nggak? Nih gue dapat dua bulu, ya ampun kasihan banget sih elu, Kang! Wkwkwk emang enak!"
Aksa menatap wajah sohibnya yang kegirangan itu, tak terima diperlakukan seperti itu, Aksa pun mulai berdiri dan dengan tatapan matanya yang tajam, ia menghampiri Zizi yang saat itu sedang bergembira merayakan kesuksesan nya mencabut bulu perindu milik suaminya.
"Sialan, kemana juga kuncinya, astaga!! Kuncinya udah gue buang lagi." Zizi berusaha untuk membuka handle pintu. Tentu saja pintu kamar mereka tidak bisa dibuka, Zizi sendiri yang sudah membuang kunci itu ke sembarang arah. Aksa terus berjalan mendekati istri nya tanpa berkata apa-apa, Zizi yang saat itu gugup dan sedang mencari di mana kunci yang sudah ia buang, seketika dirinya dibuat panik saat kunci itu belum juga ia temukan.
__ADS_1
"Aduh sialan! Mana sih kuncinya, perasaan tadi gue buang di sini." Gerutu Zizi sambil melihat ke arah lantai, sedangkan Aksa semakin mendekati Zizi hingga akhirnya ia berada tepat di depan sohibnya itu.
Zizi pun terhenyak saat melihat sang suami yang kini berada di depannya dengan tatapan yang tajam.
"Hehehe Akang! Elu jangan lihatin gue kayak gitu dong! Gu-gue mau keluar dulu, ya! Sabar, gue sedang mencari kuncinya ini loh nggak ada, njiiir!" ucapnya sembari tersenyum melihat ekspresi wajah sang sohib yang seperti ingin menelan manusia.
Kali ini Aksa tidak akan membiarkan Zizi lepas dari genggamannya, ia pun segera menarik kedua tangan Zizi dan membawa sohibnya itu ke dalam pelukannya.
"Awwww ... Akang lepasin!"
__ADS_1
...BERSAMBUNG ...