
Bening melihat Alaska yang sedang berdiri di tengah-tengah para undangan, ia menatap wajah Alaska dengan gugup, bagaimana bisa ia senekat itu datang ke pernikahannya.
Alaska pun langsung menghampiri Bening tanpa melihat orang-orang disekitarnya yang sedang memperhatikan dirinya, Bening yang saat itu sudah memakai gaun pengantin berwarna putih, terlihat sangat cantik dan anggun semakin membuat Alaska tergerak untuk mendekati wanita yang dicintainya itu.
Bening tampak gugup dan panik, dirinya juga sangat takut karena sebentar lagi calon suaminya akan datang, bagaimana ia mengatasi hal itu dan apa yang akan ia katakan kepada kedua orang tuanya. Pastinya keadaan akan semakin runyam.
Sebelum Alaska mendekati Bening yang sudah dibuat panik, tiba-tiba Papa Carlos yang tentu saja sudah mengetahui jika itu adalah calon menantunya, dengan sangat senang Papa Carlos menyambut kedatangan Alaska yang sudah dinantikan oleh semua orang.
"Alaska Mahesa! Aku sangat senang akhirnya kamu sudah datang. Loh! Kamu datang sendirian? Mana Daddy dan Mama kamu? Apa mereka tidak ikut datang ke sini?" tanya Papa Carlos yang seketika membuat Alaska melongo.
Papa Carlos terlihat memeluk calon menantunya dengan senang, sementara itu Alaska dan Bening tampak bingung dengan apa yang terjadi.
Alaska tampak memberikan kode kepada Bening saat Papa Carlos memeluknya, dan Bening pun menaikkan kedua pundaknya pertanda dirinya juga tidak mengerti. Alaska juga memperhatikan wajah sang adik dan adik iparnya yang terlihat senyum-senyum melihat dirinya.
"Kenapa mereka malah senyum-senyum sih! Sebenarnya kenapa bisa seperti ini, harusnya Papanya Bening marah dan mengusirku, ini malah menyambut ku dan menanyakan Daddy dan Mama, ada apa sih?" batin Alaska dengan wajah kebingungan.
Karena penasaran, ia pun bertanya kepada Papa Carlos. "Em ... Om! Ini maksudnya apa, ya? Saya tidak mengerti!" tanya Alaska kepada Papa Carlos yang tampak begitu bahagia. Sejenak Alaska memperhatikan wajah Carlos, wajah yang seolah tak asing baginya. Karena ia merasa pernah bertemu dengan Papa Carlos, hanya saja Alaska lupa dan tidak ngeh jika Papa Carlos adalah calon ayah mertuanya karena dirinya terlalu fokus pada calon istri yang akan dijodohkan dengannya saat pertemuan keluarga pada malam itu di hotel.
"Kayak pernah lihat papanya Bening, tapi dimana ya? Lupa!!" batin Alaska yang seolah-olah dirinya pernah melihat wajah papa Carlos.
"Benarkah kamu tidak mengerti? Kamu sendiri kenapa datang ke sini?" Papa Carlos balik bertanya, karena dia tahu jika kedua calon pengantin memang belum mengetahui rahasia sebenarnya.
"Em ... sa-saya kesini untuk ... untuk memberitahu kan kepada semua orang jika saya dan Bening sa-saling mencintai dan saya tidak setuju jika Bening harus menikah dengan pria lain," ucap Alaska dengan serius. Papa Carlos pun cuma tertawa kecil mendengar penuturan dari Alaska.
"Shiiit! Kok malah tersenyum sih Papanya Bening! Bukannya marah karena gue datang bikin huru-hara, eh malah ketawa!!" lagi-lagi Alaska membatin bingung.
"Kok Om malah ketawa sih! Apa Om tidak marah ya saya datang ke sini, saya kan ingin menggagalkan pernikahan Bening, saya mohon Om jangan nikahkan putri Om dengan pria lain, Bening tidak mencintainya Om, masa Om tega membuat hidup putri Om menderita, plis Om hentikan pernikahan ini!" seru Alaska yang masih didengarkan oleh Papa Carlos dengan santai.
__ADS_1
"Sayangnya, aku tidak bisa membatalkan pernikahan putriku, karena aku tahu yang terbaik untuknya, dia pasti akan bahagia dengan pilihan kami, karena kami tidak salah dalam memilih calon menantu, dia pria yang baik, terpelajar dan pastinya dia akan menjadi sosok yang akan mencintai putriku," ungkap Papa Carlos yang membuat Alaska menggelengkan kepalanya.
"Tapi Om, saya mohon dengan sangat, izinkan kamu berdua bersatu, kami benar-benar saling mencintai, tolong Om! Jangan nikahkan Bening dengan pria lain, saya rela tidak menikah dengan pilihan Daddy karena saya benar-benar cinta kepada putri Om, saya mohon Om!" Alaska tampak memohon dengan sangat, hingga tak terasa keluar buliran bening dari sudut matanya.
Bening pun tak tega melihat Alaska yang menangis memohon kepada sang Papa untuk membatalkan pernikahannya.
Di saat yang bersamaan, Daddy Dion dan Mama Nafa baru saja datang, Papa Carlos melihat calon besan nya yang baru saja tiba, mereka tampak tersenyum dan mengerti apa yang sedang terjadi.
Alaska masih merengek kepada Papa Carlos untuk membatalkan pernikahan Bening, tapi Papa Carlos tetap tidak bisa menuruti permintaan Alaska.
"Dengan berat hati, saya benar-benar tidak bisa membatalkan pernikahan ini, ini sudah keputusan keluarga besar dan tidak bisa diganggu gugat," ucap Papa Carlos dengan menunjukkan wajah seriusnya.
Daddy Dion dan Mama Nafa berjalan menghampiri sang anak, sepertinya mereka harus memberi tahukan jika sebenarnya Alaska dan Bening yang akan menikah.
Air mata Alaska tidak bisa terbendung lagi, pria itu menangis saat tidak bisa membawa wanita yang dicintainya pergi, sama halnya dengan Bening, gadis itu juga terlihat begitu bersedih, sang Mama terlihat memberikan tisu sembari tersenyum kepada anaknya.
"Bening sedih aja, Ma!" balas Bening dengan sesenggukan.
"Ngapain sedih? Anak Mama harus senyum dong! Ini kan hari bahagia kalian," ucap Mama Ara.
"Hari bahagia apaan, ini hari berkabung yang begitu menyedihkan!" sahut Bening yang semakin membuat Mama Ara tertawa.
"Kok Mama malah ketawa sih, demen banget lihat anaknya menderita," sahut Bening.
"Bening Bening, sebentar lagi tangismu itu akan berubah menjadi tangis bahagia, lihat aja sebentar lagi, ya!" seru Mama Ara yang membuat Bening bingung.
"Mama ngomong apaan sih, mana mungkin Bening bisa bahagia kalau nanti bersanding dengan pria yang banyak bulunya, ihhh belum lihat orangnya udah merinding, Ma!" sahut Bening sambil membayangkan pria yang akan menikahinya.
__ADS_1
Hingga akhirnya, tiba-tiba penghulu mengatakan jika sudah waktunya ijab Kabul segera dimulai dan kedua calon pengantin diharapkan untuk segera duduk di depan penghulu.
"Maaf, Pak! Sekarang sudah waktunya ijab kabul!" seru penghulu kepada Papa Carlos.
"Oh iya, Pak! Tentu saja," balas Papa Carlos sembari tersenyum.
Hal yang berbeda ditunjukkan oleh Alaska, ia pun segera beranjak menghampiri Bening dan meraih tangan Bening, seolah dirinya tidak mengizinkan Bening melakukan ijab Kabul dengan pria lain.
"Tidak boleh! Maafkan untuk semuanya, saya Alaska Mahesa dengan ini menyatakan jika Bening adalah wanita yang saya cintai, dan hari ini saya tidak setuju dengan pernikahan Bening, untuk Om Carlos sekeluarga saya benar-benar minta maaf untuk kejadian ini dan ..." Alaska tidak melanjutkan kata-katanya karena Zizi berlari kecil menghampiri sang Abang dan berbisik di telinga Alaska.
"Aduuhh Abang! Mendingan Abang duduk dan segera mengucapkan ijab kabul, nggak usah banyak cincong, Abang itu calon suami Mbak Bening!!" bisik Zizi yang seketika membuat Alaska melototkan matanya.
"Maksud mu?" Alaska bertanya kepada sang adik dengan serius.
"Hmm ... Abang itu yang bakalan menikah dengan Mbak Bening, tidak ada pria lain, Abang dan Mbak Bening akan menjadi suami istri, yang dijodohkan dengan Abang itu ya Mbak Bening," ungkap Zizi yang seketika membuat Alaska menoleh ke arah Daddy Dion dan Mama Nafa yang saat itu berdiri di samping Papa Carlos dan Mama Ara.
Daddy Dion dan Mama Nafa menganggukkan kepalanya sembari tersenyum, kemudian Papa Carlos berjalan menghampiri Alaska yang saat itu masih terperangah dengan apa yang baru saja Ia dengar dari sang Adik.
"Duduklah di samping putriku! Karena kamu adalah calon menantuku dan kamu juga yang akan menjadi suami putriku!" ucapan Papa Carlos tentu saja membuat Alaska dan Bening terkejut setengah mati, keduanya spontan saling menatap tak percaya jika keduanya yang akan menikah.
Setelah keduanya saling menatap, terlihat ekspresi tersenyum dan malu-malu dari keduanya, Alaska pun terlihat memalingkan wajah sambil mengusap air mata yang terlanjur keluar dari sudut matanya, antara malu dan juga bahagia.
"Assseemmmm! Calon bini ternyata Bening, tahu gitu nggak usah nolak gue, dasar gue bego! Pantesan aja ciuman dia merangsang banget, ternyata dia calon ibu dari anak-anak gue," ucap Alaska merutuki nasibnya sendiri.
"Alaska, jadi dia calon suamiku, ya ampun tahu gitu nggak usah nolak saat dia cium, mau banget lah, gila!" batin Bening yang tampak tersipu malu.
...BERSAMBUNG ...
__ADS_1