
Juminten pun tak terima dibilang iri kepada Zizi, ia pun menjawabnya sembari mengibaskan rambutnya.
"Iri sama Zizi, iyuhh nggak banget lah, ngapain gue musti iri sama dia, perbuatan mesum kok kita iri sih, idiiih kalau jijay iya," balas Juminten dengan PDnya. Robi pun tertawa mendengar penuturan dari Juminten.
"Hahaha jelas-jelas kalian berdua tuh iri, ngaku napa? Nggak usah malu-malu, lagian ngapain sih suka banget julid sama orang lain, nggak merugikan elu, kan? Heran sama perempuan, sukanya gosip mulu," seru Robi sambil menggelengkan kepalanya. Sementara itu Juleha yang juga tak terima dibilang gosip, ia pun menyampaikan pembelaan diri.
"Elu nyadar nggak kalau si Zizi dan Aksa itu mesra banget, kayak pacaran aja, kayak bukan sahabatan, gue sih nggak iri cuma gue sayangin cara berpacaran mereka tuh udah keterlaluan, kelewat batas, masa sampai sedekat itu, pelukan mesra, bahkan kita berdua tuh lihat mereka ciuman bibir, iyuuhhh bibir loh gila nggak sih, tuh lihat tuh merangkul nya ihh kayak gimana gitu, menjijikkan! Sebagai cewek gue malu lihat Zizi seperti itu," sambung Juleha yang juga tidak terima melihat kedekatan Zizi dan Aksa yang kian mesra.
Robi pun melihat kedua sohibnya yang sedang berduaan, Robi hanya tersenyum, tentu saja sudah wajar mereka berdua terlihat mesra, karena Zizi dan Aksa sudah menjadi suami istri.
__ADS_1
"Ya elah, kayak nggak pernah dipeluk aja sih elu Jul, elu pikir gue nggak tahu elu udah pelukan tuh sama si Joni, si tukang siomay depan kampus, elu mau-maunya dipeluk-peluk gitu cuma ingin mendapatkan siomay gratis, diiihh nih mata kepala gue saksinya, parah lu!" umpat Robi yang seketika membuat Juleha terdiam dan akhirnya kedua gadis itu pergi meninggalkan Robi.
"Dah lah gue males ngomong sama elu, elu kan teman mereka pasti belain mereka, kalau gue sih jijik banget lihatnya, kampungan banget!" umpat Juleha sambil mengajak Juminten pergi. Akhirnya, kedua gadis itu pergi meninggalkan Robi.
"Huuu kalian nggak tahu aja kalau mereka tuh udah merit, entar ya kalo kalian tahu pasti bakalan kejang-kejang," batin Robi.
"Eh kok mukanya si Sari berubah gitu, kayak telur gulung," celetuk Robi yang membuat Fikri menyikut lengannya.
"Anjayyy telur gulung, jangan sembarangan lu! Eh dia punya poni baru cuy! Eh tapi kok jadi aneh gitu wajahnya, cantikan tadi siang, tapi tetap bening sih," puji Fikri.
__ADS_1
"Gimana nggak kayak telur gulung, itu poninya menggulung gitu, udah pantes kayak pagi tadi, ngapain juga dikasih poni, pasti nih ya rambut dalamnya juga menggulung seperti itu, yakin deh! Eh gimana bentuknya rambut dalam yang menggulung, pasti estetik tuh, jiahaaa kayak rambut diroll," sahut Robi sambil membayangkan rambut dalam yang menggulung.
Seketika keduanya tertawa membayangkan bagaimana jika jadinya rambut yang itu menggulung. Sementara itu Aksa memperhatikan kedua sohibnya yang sedang tertawa terpingkal-pingkal.
"Mereka berdua ngapain tuh ketawa-ketawa gitu?" seru Aksa sembari menatap wajah sang istri. Zizi pun hanya menggelengkan kepalanya, hingga akhirnya kedua sohibnya itu didatangi Sari yang sedang menghampirinya mereka berdua.
"Mas Robi, Mas Fikri!" sapa Sari kepada kedua pria itu. Seketika Robi dan Fikri terdiam saat melihat wajah baru Sari dengan poninya yang menggulung.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1