
Bening mulai panik dan Ia pun tampak harus bersiap untuk mendapatkan serangan kedua dari Alaska. Di sisi lain Alaska yang sudah jreng kembali, Ia pun dengan senangnya naik ke atas ranjang dan melakukan sesuatu yang sempat tertunda itu.
"Em ... sudah pipisnya?" tanya Bening sembari tersenyum.
"Sudah dong! Sekarang waktunya pipis di dalam," jawaban Alaska sambil menarik kedua kaki Bening ke atas.
Untuk selanjutnya, bisa di bayangkan sendiri apa yang mereka lakukan, apalagi jalanan yang sudah lancar dan licin, memudahkan Alaska untuk menyempurnakan kewajibannya di malam pengantin.
Gerakan gila mereka menyebabkan ranjang itu bergoyang dengan cepat, hanya terdengar suara-suara merdu nan manja keluar dari bibir mereka berdua, sesapan demi sesapan terdengar begitu menggelikan.
Tuuuuuutttttttttt
Akhirnya, setelah beberapa menit berlalu, kini baik Alaska maupun Bening sama-sama kelelahan karena baru saja mereka bekerja keras untuk mencapai puncak bersama.
Alaska menoleh ke arah sang istri yang masih terpejam dengan tubuh yang berkeringat, masih teringat saat dirinya melihat ekspresi wajah Bening tatkala dirinya berhasil menerobos benteng sang istri.
__ADS_1
"Maafkan aku!" ucapnya sembari menggenggam erat tangan istrinya. Dengan posisi sama-sama masih terlentang, Bening pun menoleh ke arah sang suami, "Untuk apa kamu minta maaf?" jawab Bening sembari mengerutkan keningnya.
"Aku sudah membuatmu kesakitan, aku tahu rasanya pasti sangat sakit, kamu boleh memukulku kalau kamu mau, pukul saja!" balas Alaska yang seketika membuat Bening tertawa kecil.
"Ya ampun, Al! Kamu tuh ada-ada saja deh, iya sih sakit emang, perih banget sumpah! Tapi untuk apa aku pukul kamu?" tanya Bening balik.
"Ya biasanya cewek kalau merasa tersakiti pasti pinginnya balas dan mukul, cepetan pukul gih! Aku udah siap kok!" tawar Alaska sambil mendekati Bening. Bukannya memukul justru Bening memeluk suaminya dan tidur dalam dekapannya.
"Eh ... kok malah bobo di sini?" seru Alaska saat melihat Bening yang sedang masuk ke dalam pelukannya dengan menyandarkan kepalanya pada dada Alaska yang sedang terbaring.
"Oh ya? Syukurlah kalau begitu, itu artinya aku masih ada harapan untuk melakukannya lagi dong!" sahut Alaska yang seketika membuat Bening mendongak dan menatap wajah sang suami yang sedang tertawa mesum itu.
Sejenak Bening tersenyum kecil dan tampak malu-malu kucing.
"Kamu bisa melakukannya sesuka hatimu, kapanpun kamu mau, bukankah sekarang aku sudah menjadi milikmu, Sayang! Apapun yang ada pada diriku, kamulah pemiliknya, Suamiku!" ungkap Bening sembari menciumi leher suaminya, alhasil gairah itu muncul kembali dan untuk kedua kalinya mereka melanjutkan aktivitas yang sangat menyenangkan itu, menghabiskan malam panjang bersama untuk mencapai puncak bahagia.
__ADS_1
Entah sudah berapa jutaan sel calon bayi ditanam dalam rahim Bening, tidak terhitung jumlahnya, hingga akhirnya jam menunjukkan pukul tiga pagi. Alaska tampak lemas dan ia pun akhirnya tertidur di samping sang istri, sementara itu Bening terlihat kepayahan, sungguh sudah berapa kali Alaska naik turun mendaki lembah kenikmatan itu.
Tubuh keduanya hanya tertutup selimut tebal, hingga akhirnya mereka pun tertidur pulas sampai pukul sembilan pagi.
Papa Carlos dan Mama Ara hanya bisa tersenyum dan geleng-geleng kepala, sampai jam sembilan anak dan menantunya belum juga keluar dari kamar.
"Sudah jam 9, kenapa mereka belum keluar juga ya, Mas?" tanya Mama Ara saat mereka sedang duduk santai di ruang tengah.
"Pasti mereka kelelahan karena kerja bakti semalaman," sahut Papa Carlos.
"Kerja bakti?" Mama Ara tampak mengerutkan keningnya.
"Hmm ... kerja bakti buatin kita cucu!" sahut Papa Carlos yang seketika membuat Mama Ara ikut tertawa.
...BERSAMBUNG ...
__ADS_1