
Malam itu entah kenapa Bening tidak bisa memejamkan matanya, ia masih sangat terpikirkan oleh rencana pernikahannya yang sebentar lagi akan dilaksanakan, Bening hanya mampu memendam perasaannya, sepertinya dia harus mengubur perasaannya kepada Alaska dalam-dalam, agar dirinya bisa melupakan sahabatnya itu.
Berkali-kali Alaska menelepon Bening, tapi Bening mengabaikannya, ia sudah memutuskan untuk tidak lagi berhubungan dengan Alaska yang akan semakin membuat dirinya tidak bisa melupakan pria itu.
"Bening! Ayo angkat teleponnya, gue udah ada di dekat rumah elu!" Alaska tampak mulai panik saat Bening tidak mengangkat telepon darinya.
"Maafin gue, Al! Gue nggak bisa lagi ketemu sama elu, sebaiknya kita harus menjauh, gue nggak mau rasa ini semakin dalam, meskipun sebenarnya gue nggak akan pernah bisa melupakan elu," ucap Bening sembari tidur memeluk sebuah bantal, tak terasa tetesan air matanya mengalir membasahi tilam putih itu.
Sementara itu di tempat lain, karena tak kunjung mendapatkan balasan dari Bening, Alaska pun nekat masuk ke dalam pagar rumah Bening, ia bertekad untuk datang menemui Bening dan mengatakan tentang perasaannya.
Alaska masuk ke halaman rumah Bening dengan memperhatikan sekeliling, dan berharap tidak ada yang melihatnya, setelah ia berhasil berada di area rumah Carlos, ia pun melihat ke sebuah kamar di lantai atas yang masih menyala.
"Apa mungkin itu kamar Bening? Semoga saja aku tidak salah," Alaska pun berusaha untuk naik ke lantai atas lewat sebuah tangga yang ia temui di sekitar halaman belakang rumah.
Setelah itu, Alaska pun memasang tangga itu sambil memperhatikan arah CCTV, sehingga ia bisa menghindari sorotan kamera.
Perlahan namun pasti, akhirnya Alaska bisa naik ke lantai dua, dimana ia pergi ke kamar yang diduga kamar Bening yang masih menyala lampunya.
Tak menunggu lama, akhirnya Alaska tiba di lantai atas, Ia pun dengan sangat hati-hati mengintip jendela kamar itu.
Sementara di dalam kamar, Bening masih membalikkan badan membelakangi arah jendela dimana Alaska sedang berdiri di luar jendela.
Setelah Alaska melihat ke dalam kamar itu lewat jendela, ia pun sangat yakin jika itu adalah kamar Bening.
"Bening! Itu dia, iya itu adalah Bening, gue harus segera bicara dengannya sekarang, oh My God! Bening seksi banget kalau kek gitu, nggak boleh ini nggak boleh dibiarkan, Bening nggak boleh jadi milik orang lain, sayang banget kalau sampai Bening jadi milik orang lain, nggak rela gue, semok gitu hmmm!'' batin Alaska saat melihat bodi goal Bening dalam posisi membelakangi dirinya. Apalagi Bening yang sedang memakai baju tidur yang tipis sehingga bentuk tubuhnya terlihat kian jelas.
Ia pun langsung memutuskan untuk mengetuk pintu jendela kamar Bening agar dirinya bisa berbicara langsung kepada gadis itu.
__ADS_1
'Tek tek tek'
Terdengar suara ketukan cermin jendela kamar yang tiba-tiba terdengar pada telinga Bening, ia pun spontan bangun dan segera melihat ke arah sumber suara.
Tentu saja Bening sangat terkejut saat dirinya melihat bayangan hitam yang sedang berdiri di depan jendela kamarnya.
"Omaigad! Apa itu? Hantu??" seru Bening yang mulai panik, bukannya takut Bening justru mengambil sapu untuk memukul sesuatu yang disebutnya sebagai hantu itu.
"Dasar hantu nggak update, berani-beraninya gangguin gue, jam segini godain gue, dikiranya gue takut apa, awas aja lu, gue timpuk pakai sapu, lu!" Bening tampak berjalan mendekati arah jendela kamarnya sembari membawa satu batang sapu yang siap ia pukulkan pada sosok yang berdiri di balik jendela kamarnya.
Perlahan, Bening membuka kunci jendela kamarnya dan ia pun bersiap untuk memukul sosok hitam itu dengan sapu. Dengan cepat Bening membuka jendela kamarnya dengan sebuah sapu di tangannya, dengan cepat Bening mengarahkan sapu itu ke arah Alaska.
"Hiaaa rasain lu, berani-beraninya gangguin gue, dasar dedemit sialan!!" umpat Bening sembari komat-kamit memukuli kepala Alaska. Bening belum menyadari jika yang kini sedang ia pukuli adalah sohibnya sendiri.
"Eh Ning Nong Neng! Ini gue! Alaska Woyy!" seru Alaska sambil langsung menahan tangan Bening dan menutup mulutnya agar tidak terdengar berisik, karena teriakan Bening sehingga bisa membangunkan orang rumah.
"Hmmm ...!!" Bening terlihat panik saat ia merasa jika ada seseorang yang sedang menutup mulutnya.
"Elu!!! Kok elu ada di sini? Eh elu lewat mana?" sahut Bening yang tidak menyangka jika sohibnya berada di depan matanya.
"Iya, gue memang sengaja datang ke sini untuk bicara penting sama elu, ada yang mau gue omongin, sekarang!" ungkap Alaska sembari menatap wajah sang sohib dalam-dalam.
Bening pun mulai tenang, kemudian Ia pun mempersilahkan Alaska untuk berbicara.
"Ya udah ngomong aja! Jangan lama-lama, gue nggak mau Papa lihat elu masuk ke kamar gue, bisa mampus lu!" seru Bening sembari membalikkan badannya sambil menatap ke arah jendela.
Alaska pun mulai memberanikan diri untuk mengatakan yang sejujurnya kepada Bening, jika sebenarnya ia mencintai gadis itu. Ia berjalan mendekati Bening dan berdiri tepat di belakang Bening yang saat itu entah kenapa dirinya merasa begitu gugup saat menatap wajah sohibnya.
__ADS_1
"Ning! Sebenarnya sudah lama gue ingin ngomong ini sama elu. Tapi, gue nggak ada keberanian untuk ungkapin perasaan gue, karena gue takut bakal elu tolak, sebenarnya gue udah lama memiliki perasaan ini, sejak dulu sampai sekarang tidak pernah berubah, bahkan saat gue berada di London, gue tetep ingat sama elu!" Bening seketika memejamkan matanya tatkala mendengar pengakuan Alaska.
"Lantas! Apa mau lu?" Bening bertanya lagi.
Alaska memberanikan diri untuk menyingkap rambut Bening yang jatuh di atas bahunya, kemudian Ia pun mengatakan sebuah kalimat yang membuat Bening lemas tak berdaya. Bening semakin gugup dan nafasnya semakin memburu saat Alaska mulai berbisik pada telinganya.
"Gue sayang elu, Ning! Gue cinta elu, dan gue ingin elu menjadi milik gue!!" ungkap Alaska yang kemudian Ia pun memberanikan diri untuk mencium pipi Bening.
Bening tidak bisa berkata apa-apa, mulutnya seakan terkunci apalagi saat kecupan manis itu semakin membuat nafas Bening naik turun.
"Apa elu juga merasakan hal yang sama dengan gue? Kenapa elu kelihatan gugup seperti ini? Katakan Ning! Apa elu juga cinta sama gue?" kembali Alaska justru melingkarkan tangannya pada pinggang Bening dan ia pun mulai mencium aroma wangi rambut Bening.
Sejenak, Bening tampak merremas tangannya sendiri, sepertinya ini adalah saat yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya juga. Ia pun berusaha untuk mengumpulkan seluruh keberaniannya.
Spontan Bening membalikkan badannya dan menatap wajah sang sohib dengan sendu, tatapan mata itu tidak bisa berbohong jika keduanya sama-sama saling mencintai.
"Kenapa baru bilang sekarang kalau elu sayang sama gue? Kenapa nggak dari dulu-dulu elu ngomong, sekarang udah terlambat, Al! Dua hari lagi gue akan menikah, dan gue nggak bisa menolak permintaan Papa, gue lebih sayang orang tua gue daripada dengan diri gue sendiri, meskipun sebenarnya gue juga cinta sama elu, gue sayang sama elu, tapi elu nggak pernah peka, gue nangis saat elu pergi ke London, dan saat itu gue berpikir jika elu emang bukan buat gue, dan sekarang semuanya sudah terjawab, kita nggak akan pernah bisa bersama, Al!!" ungkap Bening yang semakin membuat Alaska tidak terima.
"Sekarang gue cuma butuh satu jawaban dari elu, lu mau ikut gue atau tidak, katakan??" seru Alaska yang tentu saja membuat Bening berada dalam posisi sulit. Bening tidak menjawabnya, Ia hanya menggelengkan kepala sembari menatap bola mata Alaska yang terlihat begitu serius.
"Elu cinta kan sama gue?" tanya Alaska dengan posisi yang begitu dekat dengan wajah Bening, kedua dahi mereka saling bersentuhan. Tak ada kata yang terucap dari bibir Bening selain menganggukkan kepalanya sembari menangis.
Alaska tersenyum, setidak ia sudah tahu bagaimana perasaan Bening kepadanya, ternyata cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Alaska mengusap air mata Bening sembari berkata, "Gue cinta banget sama elu, Ning! Banget, gue nggak mau ada seorang pun yang akan memiliki elu, hanya gue yang akan menjadikan elu sebagai milik gue untuk selamanya, hanya elu!!!!" kata-kata terakhir sebelum Alaska mendaratkan ciumannya pada bibir Bening.
"Gue juga cinta sama elu, cinta banget!!" Bening pun membalas apapun yang dilakukan oleh Alaska kepadanya.
Akhirnya, ciuman pertama kali bagi keduanya terasa begitu manis dan mesra, menggoda jiwa yang terbakar gelora asmara.
__ADS_1
...BERSAMBUNG...