SAHABATku PENGANTINku

SAHABATku PENGANTINku
Mending kawin


__ADS_3

Robi pun mulai berpikir apa benar yang dikatakan oleh Aksa itu benar, ia pun mulai melirik ke arah Juminten yang baru saja tersadar dari pingsannya. Robi memperhatikan gadis itu dari atas hingga bawah, memang pakaian yang dipakai oleh Juminten tidak terlalu ketat dan tidak press body, gadis itu mengenakan sweater berbahan wool karena udara di sekitar memang sangat dingin, tentu saja lekukan tubuh Juminten tidak terlihat dengan jelas, dipadukan celana joggers yang pastinya tidak membentuk badan wanita.


Robi memperhatikan gadis itu seperti seorang detektif, sehingga membuat Juminten curiga dengan apa yang dilakukan oleh Robi.


"Elu ngapain lu lihatin gue kayak gitu, entar naksir gue lu!!" celetuk Juminten sambil merapikan rambutnya.


"Siapa juga yang lihatin elu, nggak usah GR, ya!" balas Robi mengelak. Zizi yang melihat itu agaknya melerai mereka untuk bertengkar lagi dan meminta kepada keduanya untuk saling memaafkan.


"Udah-udah, daripada kalian berdua bertengkar terus, mending damai aja deh, ya. Kita ini satu tim, kita harus bekerja sama, jangan ada gengsi-gengsian, ayo salaman, Rob, Jum!!" seru Zizi kepada keduanya. Aksa pun menghampiri Zizi dan mendukung Zizi untuk mendamaikan Robi dan Juminten.

__ADS_1


"Zizi bener, daripada kalian bertengkar terus, mending kawin ...."Ucapan Aksa memaksa Zizi menatap sang suami.


"Kok kawin sih, Kang!" seru Zizi yang membuat Aksa cengar-cengir.


"Eh maksudnya, berteman, terus pacaran dan akhirnya nikah, habis itu baru deh kawin, hehehe gitu ya!" jawab Aksa sembari mencolek lengan istrinya. Zizi pun membalas dengan menyikut lengan Aksa.


Juminten yang mendengar itu, ia pun tampak menolak jika harus kawin dengan Robi.


Robi pun tidak terima dan Ia pun membalas perkataan Juminten, "Siapa juga yang mau kawin sama elu, mending kawin sama sapi lebih semok, daripada elu nggak ada dagingnya," balas Robi, seketika Zizi pun membalas perkataan Robi yang sangat tidak sopan itu.

__ADS_1


"Eh, Rob! Jangan gitu, lu. Itu sama saja elu bodi shaming sama Juminten, emang elu tahu kalau si Jumi seperti itu? enggak kan? Mending elu nggak usah bilang si Jumi nggak punya daging, kalau elu tahu ya sebenernya bakalan nyesel lu udah ngomong gitu," seru Zizi yang membuat Juminten merasa dihargai, ternyata selama ini penilaian Juminten terhadap Zizi salah besar, Zizi masih membela dirinya saat Robi selalu meledeknya.


"Udah, Zi! Nggak apa-apa dia bilang gitu, terserah dia mau ngomong apa, gue udah males ngadepin dia," sahut Juminten yang sudah tidak perduli lagi dengan apa yang akan dikatakan oleh Robi. Ia pun beranjak berdiri dan berjalan menjauh dari posisi Robi berada. Dengan sedikit tertatih Juminten berdiri, ia pun terkejut saat melihat kakinya yang tidak memakai sepatu.


"Loh! Sepatu gue di mana?" seru Juminten sambil mencari-cari sepatunya, karena ia lupa jika sepatunya tertinggal di dalam kotoran sapi itu. Robi pun berkata. "Noh sepatu elu! Masih nancap di sana tuh, eeknya sapi, ambil aja sendiri!"


Mendengar ucapan dari Robi, Juminten pun tidak mengindahkannya, dan ia lebih memilih pergi tanpa berkata apa-apa. Tentu saja Robi hanya tercengang melihat Juminten yang pergi begitu saja tanpa melihatnya, seakan-akan Juminten tidak perduli lagi dengannya.


"Eh Juminten kenapa tuh? Dia kelihatan menderita banget, apa karena sepatunya tertinggal di sana, ya?" batin Robi menebak.

__ADS_1


...BERSAMBUNG ...


__ADS_2