SAHABATku PENGANTINku

SAHABATku PENGANTINku
Curhatan para suami


__ADS_3

Zizi pun hanya bisa menghela nafas panjang, apapun yang dilakukan oleh suaminya itu selalu membuatnya menepuk jidat.


Bening pun bertanya lagi apakah Zizi masih merasakan sakit perut, dan Aksa pun melihat jika kondisi istrinya sudah baik-baik saja. Zizi pun menggelengkan kepalanya kepada sang suami, pertanda jika rasa mulas-mulas itu sudah hilang.


"Kayaknya Zizi udah tenang deh, Mbak!" ucap Aksa.


"Oh ... ya sudah! Nanti jika Zizi masih mulas-mulas dan semakin sering, kamu harus segera membawa istrimu ke klinik, aku akan memeriksa kondisi bayi kalian apakah siap untuk dilahirkan, karena aku rasa Zizi sudah mendekati persalinan, kamu harus menjaga baik-baik istrimu balas Bening.


"Oh gitu, oke baik Mbak, thanks udah mau kita repotin, sorry kalo udah ganggu malam-malam! Bilangin sama Mas Alaska, keponakannya mau otw brojol hehehe!" seru Aksa sebelum dirinya menutup telepon.


"Iya nih dia lagi denger, senyum-senyum dia mau cepet-cepet lihat keponakannya launching," balas Bening sembari menatap wajah sang suami yang sedang berada di sampingnya.


"Hehehe Mas Alaska ikut nguping juga, ya!" sahut Aksa cengar-cengir.


Alaska pun mengambil ponsel istrinya dan berbicara kepada Aksa, sang adik ipar.


"Eh ... jaga baik-baik adikku! Aku sudah tidak sabar ingin segera menggendong keponakanku, pastinya keponakan ku cakep seperti ibunya, adikku Zizi." Ucap Alaska yang rupanya membuat Aksa tidak terima.


"Waaah nggak bisa gitu dong, Mas! Anak kami pasti mirip bapaknya, eh secara yang kerja keras tuh kita, Mas ngga capek apa geol-geol mulu, sampai lemas nih dengkul! Bini kita sih enak tinggal terlentang dan ngangkang aja, lah kita nanem nya dalem banget sampai patah nih pinggang," Aksa tampak berbicara sedikit pelan, karena takut sang istri akan mendengar curhatan nya kepada Alaska.

__ADS_1


Alaska pun tampak cengar-cengir saat melihat sang istri, karena Bening sengaja mengeraskan loud speaker ponselnya, sehingga apapun yang sedang mereka bicarakan pasti bisa didengar oleh Bening.


"Hehehe iya begitulah! Kerja keras yang sangat nikmat," balas Alaska sembari garuk-garuk kepalanya. Bening pun cuma melirik ke wajah sang suami, memperhatikan apa yang akan mereka bicarakan selanjutnya.


"Nah! Tuh akhirnya Mas Alaska mengakuinya, kita ini senasib sepenanggungan, Mas. Istri-istri kita hamil pada bawel sekarang, apa Mas juga ngerasa seperti itu?" seru Aksa yang masih melanjutkan perbincangannya dengan sang kakak ipar. Dalam hati berkata, Alaska pun juga merasakan hal yang sama seperti adik iparnya.


"Aksa emang bener, sekarang Bening bertambah banyak maunya, minta di atas terus, mana perutnya gede banget, aku khawatir bayinya ikut pusing diajak break dance," batin Alaska saat mengingat jika sang istri lebih suka berada di atas daripada di bawah.


Alaska pun membalasnya dengan sedikit berbisik dan menjauh dari posisi sang istri. "Eh aku kirain aku doang yang kek gitu? Tapi, ambil hikmahnya aja, enak kan kita nggak capek-capek bergerak, mereka sudah gerak-gerak sendiri!" balas Alaska sambil cekikikan.


"Ho oh, Mas! Tapi repotnya, Zizi keseringan minta, gempor dah kaki, ampai lemas tak berdaya aku, Mas! Berasa diperkosa cewek 5," ungkap Aksa.


"Waduh! Bukan aku doang nih yang gempor, ternyata kamu juga, sehari lima kali, belum nambahnya bayangin! Minta digaruk mulu, padahal badanku udah lemes," sambung Alaska. Keduanya pun cekikikan saat membicarakan hal itu.


"Kamu ngapain, Kang!" seru Zizi yang spontan membuat Aksa kaget dan melemparkan ponselnya di atas kasur.


"Eh curut, kodok kadal!!" kata-kata mutiara yang keluar dari mulut Aksa spontan begitu saja. "Aduh! Kamu Ngagetin saja, Sayang!" balas Aksa yang terpaksa pembicaraannya dengan sang kakak ipar terpaksa ia putus.


"Siapa itu tadi? Abang ya?" tanya Zizi menebak. Aksa pun mengiyakan pertanyaan sang istri.

__ADS_1


"Hmm pantesan, kalian berdua kalau ketemu pasti ada aja yang diomongin," seru Zizi.


"Ya begitulah, sayang! Biasa curhatan para suami disaat istrinya sedang hamil," balas Aksa dengan cengar-cengir, disaat yang bersamaan, tiba-tiba saja ada sesuatu yang hangat keluar membasahi kaki Zizi yang saat itu sedang berdiri di samping sang suami.


"Akang! Kok aku keluar kayak ginian sih?" seru Zizi sambil melihat ke arah bawah, spontan Aksa pun ikut melihat ke arah kangkangan sang istri, ternyata mengalir air berwarna bening yang diduga itu adalah cairan amnion atau ketuban.


"Waduh Zi, kayaknya aku harus bawa kamu ke klinik Mbak Bening, kayaknya baby kita ingin segera keluar, mungkin dia pingin segera bertemu sama Papanya yang keren ini, aku harus siapkan mobilnya segera!" Aksa pun beranjak berdiri dan beranjak untuk keluar dari kamar untuk mempersiapkan segala keperluan untuk persalinan. Hingga Aksa lupa jika dirinya belum memakai celana.


Zizi pun geleng-geleng kepalanya saat melihat Dede gemoy sang suami yang juga sedang geleng-geleng saat Aksa sedang panik.


"Kang! Kamu mau kemana?" Zizi berteriak saat Aksa hendak mempersulit mobil. Tanpa ia sadari jika dirinya belum memakai apapun saking paniknya.


"Mau siapin mobil dulu, dan bilang sama pelayan untuk menyiapkan keperluan kamu," balas Aksa yang hampir saja keluar dari kamar.


"Apa kamu pergi dengan kondisi seperti itu? Celana kamu mana?" seru Zizi yang spontan menyadarkan Aksa, pria itu tercengang dan teringat jika Dede gemoy nya masih menggantung manja di bawah layaknya jam gandul.


"Waduh busyeettt! Bisa-bisanya gue lupa, aiss! Mana udah nyampe di tengah pintu, kaboorr entar ada bibi lihat, ewww malu ding!" ucap Alaska lirih. Ia pun bergegas masuk kembali ke dalam kamar dan tersenyum kepada istrinya.


"Hehehe, untung kamu ingetin! Kalau enggak bisa-bisa kehormatanku sebagai pria jantan ternodai, si bibi pasti lihat, entar pingsan mereka," seru Aksa sembari mengusap wajahnya sendiri.

__ADS_1


...BERSAMBUNG ...



__ADS_2