
"Ya sudah, Mbak. Kita berdua pulang dulu, oh ya! Saran Aksa nih ya, Mbak. Daripada Mbak Bening pusing-pusing mikirin perjodohan itu, mending Mbak Bening terima aja deh cowok itu, nggak tahu kenapa aku rasa calon suami Mbak Bening itu orangnya baik, iya nggak, Zi?" ucap Aksa yang berusaha untuk meyakinkan Bening agar mau menerima calon suaminya.
Tentu saja Bening tidak habis pikir, bagaimana bisa Aksa berkata seperti itu kepadanya.
"Apa? Aduh, Sa!! Kok kamu malah dukung Papa sih, Mbak itu ilfeel banget ketemu cowok itu lagi, ihhh sumpah ya lihat mukanya aja udah geli, ihhh!!" sahut Bening sembari bergidik.
"Ya ampun, Mbak! Jangan lihat luarnya a
dong, dari luar rambut doang siapa tahu dalamnya bersih kayak lapangan, plontos!" sahut Aksa yang memaksa Zizi menoleh ke arah sang suami.
"Plontos? Apanya yang plontos, Kang?" tanya Zizi bingung. Aksa pun cengar-cengir sambil garuk-garuk kepalanya.
__ADS_1
"Hehehe, halah masa kamu nggak tahu, sih! Plontos ya plontos, si gundul!" jawaban Aksa membuat Zizi memutar bola matanya, sementara itu Bening tampak berpikir apakah sesuatu yang plontos itu.
"Plontos?? Aduuhh!! Udah deh, ya! Kamu itu malah bikin Mbak tambah pusing, pokoknya Mbak nggak mau dikawinkan sama tuh cowok, itu udah keputusan, nggak mau pokoknya," Bening tetap bersikeras untuk menolak dijodohkan dengan pria pilihan kedua orang tuanya.
"Eh Mbak jangan ngomong gitu, nanti Mbak nyesel loh! Nggak boleh loh Mbak melawan perintah orang tua, dosa! Dulu aku juga dipaksa nikah kok, awalnya ya nggak mau, ngapain nikah aja pakai dipaksa, ya ... karena aku ini kan anak yang paling pintar dan paling berbakti, jadi ... Aksa terima aja perjodohan itu, eh ... nggak tahunya ketemu si bawel ini, hmm dasar jodoh! Dan sekarang Aksa bersyukur banget dijodohkan sama Daddy dan Mommy, rupanya kita berdua emang sudah ditakdirkan untuk berjodoh, padahal dia nyebelin banget sumpah! Tapi ngangenin juga, apalagi bakpao nya itu yang bikin aku tak bisa lupa," ucap Aksa sambil merangkul sang istri.
Zizi pun tampak tersenyum malu-malu, sementara itu Bening hanya bisa menghela nafasnya, apakah dirinya juga harus bersikap sama seperti Aksa, menerima perhitungan yang sudah ditetapkan oleh kedua orang tuanya.
"Mas Alaska maksudnya?" celetuk Aksa yang membuat Bening melototkan matanya.
"Ya elah Mbak Bening! Biasa aja kali lihatnya, jangan melotot gitu dong! Kan takut," sahut Aksa yang selalu saja bisa membuat Bening tersenyum dengan ekspresi wajahnya yang tampak bersembunyi di balik punggung sang istri.
__ADS_1
Bening tertawa kecil melihat kekonyolan Aksa yang selalu membuat orang disekitarnya tersenyum.
"Haduuuh! Nggak tahu deh Mbak harus ngomong apa, kamu tuh selalu saja membuat Mbak ketawa, semoga saja kalian berdua selalu hidup bahagia, tetap konyol dan gokil, aku suka melihat kebahagiaan kalian, jadi iri melihat kalian berdua, kapan ya aku juga punya pasangan yang sama-sama gokil, sefrekwensi pasti setiap hari kocak terus, kayak kalian berdua, aku yakin banget kalian berdua setiap hari pasti kocak, udah ketebak banget."
Mendengar ucapan dari Bening, Aksa dan Zizi pun tersenyum.
"Ya iyalah, Mbak! Dan Aksa yakin nih jodoh Mbak Bening pasti orang yang juga sama gilanya dengan Mbak Bening, udah Aksa ramal ini, jodoh Mbak Bening adalah Mas Alaska, nih Abang nya Zizi," ungkap Aksa sembari menatap wajah sang istri.
"Ha ... apa? Alaska?"
...BERSAMBUNG ...
__ADS_1