SAHABATku PENGANTINku

SAHABATku PENGANTINku
Telepon dari Rere


__ADS_3

"Eh ... Kang! Elu nggak usah aneh-aneh deh, ya!" Zizi tampak melototkan matanya saat kedua tangan sohibnya itu melingkar pada pinggangnya.


Sejenak Zizi menatap dalam-dalam wajah sang suami, entah perasaan apa yang mulai membuat gadis itu betah memandang sohibnya lama-lama, hingga keduanya pun saling bertatapan.


Bahasa tubuh tidak bisa dibohongi, keduanya sama-sama suka dengan sentuhan masing-masing. Hingga akhirnya Aksa meminta izin kepada Zizi untuk mencium istrinya itu, tentu saja ia takut jika ia menciumnya tiba-tiba, sohibnya itu akan marah dan Omelan nya bakal keluar.


"Zi!.Gue boleh minta izin, ngga?"


"Apaan?"


"Gue minta izin buat nyium elu sebentar boleh, ngga?"


Mendengar Aksa meminta itu darinya, entah kenapa Zizi tidak bisa menolaknya, ia teringat akan ceramah Ustadzah saat dirinya ikut pengajian di kampus, jika menolak permintaan sang suami maka seorang istri akan mendapatkan dosa. Mau tidak mau, Zizi harus mengabulkan permintaan sang sohib.

__ADS_1


Ia pun menganggukkan kepalanya dan mulai memejamkan matanya, Aksa tersenyum dan Ia pun mulai membawa Zizi untuk duduk di atas pangkuannya, kini posisi mereka sangat dekat, dan Aksa pun mulai mendekati bibir sang istri dan mulai mengecupnya dengan lembut.


"Kenapa gue deg-degan njiiir!" batin Zizi sembari merremas baju sohibnya, dan akhirnya ciuman itupun terjadi. Kecupan manis pada bibir Zizi, rupanya tidak berhenti sampai di situ, ibarat sudah dikasih hati mintanya jantung, Aksa yang awalnya cuma mengecup lembut bibir sohibnya itu, kini ia lebih nakal dengan menjelajahi leher sang sohib. Tentu saja Zizi semakin tegang, ia lebih merremas baju suaminya, rasa tegang itu lebih besar saat dirinya sedang naik roller coaster.


"Gila! Kok gue malah suka sih, duh cenut-cenut lagi!" Zizi bermonolog sembari merasakan setiap sentuhan yang diberikan oleh sohibnya itu. Baru saja mereka berdua sedang bermesraan, tiba-tiba terdengar suara dering ponsel milik Zizi.


Spontan Zizi langsung turun dari pangkuan sang suami dan berkata, "Break dulu, Kang! Ada telepon hehehe!" Zizi segera berlari mengambil ponselnya yang berada di atas meja, sementara Aksa terlihat lemas.


"Assseemmmm tuh telepon, pakai bunyi segala, mana udah dalam posisi wenak lagi, kabur kan tuh Zizi," gerutu Aksa kembali duduk dengan menyandarkan tubuhnya, memperhatikan Zizi yang sedang mengangkat telepon entah itu darimana.


"Iya, Re! Ada apa?"


"Zi! kok elu nggak ngampus hari ini, elu sakit?"

__ADS_1


"Gue ... iya iya gue sakit, kepala gue sedikit pusing, jadi gue nggak masuk kampus hari ini."


"Pantas saja, biasanya elu berangkat paling pagi. Gue juga nggak lihat Aksa ngampus, padahal kita mau janjian belajar kelompok, dia minta diajarin bikin laporan, gue cari kok nggak ada sih. Elu tahu nggak dia dimana?" pertanyaan Rere seketika membuat Zizi menoleh ke arah suaminya yang sedang melongo melihat Zizi yang saat itu sedang berkacak pinggang.


"Ngapain Zizi lihatin gue kayak gitu? Anjiiirrr ini kayaknya ada sesuatu, gue hafal betul kalau muka Zizi seperti itu, bakalan ada omelan njiiir! Sembunyi ah, daripada kuping gue panas!" Aksa tampak sembunyi di dalam selimut dan berharap Zizi tidak sedang marah kepadanya.


"Oh si Akang, ya gue nggak tahu kalau dia nggak datang ke kampus, coba aja telpon dia." Zizi justru menyuruh Rere untuk menelepon sang suami, Zizi sengaja melakukan itu agar ia tahu bagaimana reaksi Aksa saat mendapat telepon dari Rere.


"Oh gitu ya, oke Zi. Gue telpon aja si Aksa!" Balas Rere, dan kemudian obrolan mereka berakhir, Zizi meletakkan ponselnya dan tak berselang lama Zizi mendengar suara dering telepon dari ponsel Aksa yang berada di atas meja di sebelah tempat tidur mereka. Aksa yang saat itu sedang berada di balik selimut, mendadak Ia pun membuka selimutnya dan segera mengambil ponselnya yang berada di samping tempat tidur.


"Rere!" Aksa melihat nomor Rere yang sedang menghubunginya, baru saja Ia mau mengangkat telepon dari Rere, Aksa melihat sang istri yang sedang berjalan menghampiri dirinya dengan tatapan mata bak malaikat maut pencabut nyawa.


"Eh busyeettt! Ada bini datang, nggak mungkin dong gue terima telepon dari Rere bisa-bisa telur gue bukan hanya diceplok, tapi dibikin orak-arik telur dan omelette juga nih," Aksa bermonolog sendiri sembari cengar-cengir melihat kedatangan istrinya yang sedang berjalan menghampiri dirinya.

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2