
"Jangan dengerin dia, Jum! Si Aksa tuh emang suka gitu, sok tahu dia!!" sahut Robi yang mencoba membela dirinya.
Juminten pun masih malu-malu dan tertawa kecil mendengar kenyataannya seperti itu.
"Ya elah! Gua tuh nggak pernah sok tahu, ya! Emang gitu kok! Gue lihat nih dengan mata kepala gue sendiri, emang gondrong banget busyeettt! Sampai nggak kelihatan hidungnya loh!!" sahut Aksa yang membuat Zizi dan Juminten tertawa geli, bisa dibayangkan betapa rimbunnya sampai-sampai hidungnya tidak kelihatan
"He he ssssttt! Diem dong, jangan diceritain, nanti Juminten takut!!" seru Robi sambil menarik tangan Aksa.
Juminten yang mendengar itupun menyahuti ucapan Robi, "Idiiih siapa juga yang takut, lagipula gue juga nggak bakalan tertarik, gue nggak suka yang terlalu gondrong, gue suka yang gundul," ucap Juminten sembari tersenyum smirk. Robi pun langsung diam dan berkata kepada Juminten.
"Waduh!!! Elu suka yang gundul, Jum? Kurang gagah itu, Jum! Kurang greget juga, coba lihat punya gue, pasti elu suka!!" tawar Robi yang seketika membuat Juminten memukul tangan Robi.
"Ihhh ogah!! Serem nggak ada comel-comelnya," sahut Juminten yang membuat Aksa dan Zizi tertawa.
"Anjayyy comel!! Jiahaaa padahal bisa dikepang tuh rambutnya!!" sahut Aksa yang terus saja membuat Robi salah tingkah.
Di saat semua teman-temannya mengucapkan selamat kepada Aksa dan Juminten, hal menyedihkan terjadi kepada seorang gadis bernama Sari, gadis itu tampak menangis karena ia harus kecewa menerima kenyataan jika Aksa dan Zizi adalah pasangan suami istri, gadis itupun melamun sendirian di tepi sungai, sambil duduk di atas batu besar. Sambil melihat beberapa mahasiswi yang sedang mencuci baju mereka di sungai yang memiliki aliran air yang jernih itu.
__ADS_1
Kebetulan, Fikri melihat Sari, pemuda itu pun berusaha untuk menjadi pelipur lara Sari, Fikri mendekati Sari dan duduk di sampingnya.
"Eh ada Mbak Sari, lagi ngapain Mbak di sini? Sendirian lagi! Nanti ada yang nyulik loh!!" seru Fikri yang juga ikut duduk di samping Sari.
"Saya sedang sedih, Mas! Saya patah hati, sakiiiitttt banget!" balas Sari sembari menunjuk dada kirinya.
Fikri pun tahu kenapa Sari bersedih, tentu saja gadis itu sedang bersedih setelah mengetahui kenyataan jika Aksa adalah suami Zizi. Dengan segala pesonanya, Fikri berusaha untuk menghibur Sari, karena ia merasa punya jiwa penolong bak anggota Pramuka.
"Waduh! Mbak Sari jangan bersedih dong! Nanti cantiknya ilang loh! Mbak Sari itu harus ceria, seceria hati saya, harus tersenyum, semanis senyum saya, dan saya sangat yakin sekali Mbak Sari akan mendapatkan laki-laki yang baik dan ganteng nya nggak kalah dengan Aksa, paling tidak sebaik dan seganteng saya lah!!" celetuk Fikri, tiba-tiba muncul dari arah belakang, Juleha yang saat itu sedang mencuci baju-bajunya bersama beberapa teman-temannya.
"Jangan percaya sama dia, Mbak Sari! Dia ini ular kadut yang nggak punya buntut," sahut Juleha sambil tertawa. Tentu saja Fikri tidak terima dikatain seperti itu oleh Juleha, Ia pun membalas ucapan Juleha dengan cepat, " Eh apa lu! Mencampuri urusan kita aja, gue dan Mbak Sari ini sedang ta'aruf ngerti ngga, Jul!!" seru Fikri yang membuat Juleha tertawa lalu meninggalkan mereka berdua.
Sehingga, kini Fikri melihat pemandangan Juleha dan teman-temannya yang sedang mencuci baju di sungai tersebut, awalnya Fikri tidak menghiraukan Juleha yang sedang lewat, tapi lama-lama pandangan matanya terfokus pada kaos Juleha yang basah oleh air sungai, kaos berwarna putih itu tampak menunjukkan lekukan tubuh Juleha yang seksi, dan tentu saja bra yang digunakan Juleha terlihat begitu jelas sehingga dua bongkahan montok milik Juleha terlihat begitu jelas.
"Waduh busyeettt! Gede banget mimiknya anjayyy, aje gile punya Juleha paling gede diantara semuanya. Gila!! Wisata mata nih ceritanya." Fikri terlihat serius melihat pemandangan indah itu, bahkan lebih indah daripada gunung Panderman sendiri.
Kini perhatian Fikri fokus pada Juleha, sementara Sari ia abaikan ngomong sendirian. Sejenak Juleha melihat ke arah Fikri yang sedang melihat dirinya, entah kenapa Juleha menjadi malu-malu meong saat Fikri melihat dan tersenyum kepadanya.
__ADS_1
Juleha pun terlihat salah tingkah dan tampak menundukkan wajahnya, Fikri yang semula duduk di samping Sari, mendadak Ia pergi dari sana dan menghampiri Juleha yang sedang mencuci.
"Loh Mas Fikri mau kemana? Kok aku ditinggal sih!!" protes Sari sambil mengikuti Fikri pergi. Hingga akhirnya, Fikri tiba di tempat Juleha duduk, kemudian pemuda itu menawarkan bantuan kepada Juleha untuk membantu Juleha mencuci baju.
"Hai, Jul! Mau dibantuin nggak nyucinya?" tawar Fikri sambil duduk berjongkok di belakang Juleha. Gadis itu pun terkejut saat melihat Fikri yang tiba-tiba berada di belakangnya.
"Eh pea! Ngapain lu ngagetin gue aja!" balas Juleha.
"Gue mau bantuin elu nyuci, boleh nggak?" tawar Fikri sekali lagi, dan Juleha masih jual mahal padahal hatinya sangat suka Fikri berkata seperti itu.
Tiba-tiba saja Sari memanggil Fikri dan meminta Fikri untuk menjauhi Juleha.
"Mas Fikri jangan di situ! Kita ke sana yuk, Mas! Di sana tempatnya lebih enak untuk kita ngobrol-ngobrol berdua," seru Sari yang entah kenapa Juleha tidak menyukainya. Ia pun langsung berdiri dan mengatakan kepada Sari jika Fikri adalah pacarnya.
"Eh eh maaf nih ya, Mbak Sari! Sebaiknya Mbak Sari nggak usah ganggu kami lagi deh! Fikri ini sebenarnya adalah pacar saya, jadi Mbak Sari nggak usah berpikiran untuk mendapatkan perhatian dari Fikri, karena Fikri sudah memiliki pacar, iya kan Sayang!!" seru Juleha sembari bergelayut pada lengan Fikri, tentu saja pemuda itu tampak deg-degan saat tubuh Juleha menempel pada lengannya.
"Huassseeemmm!!! Nempel cuy! Mana gede banget omegot!! Tangan gue mulai berkedut nih," batin Fikri yang mulai terlihat berkeringat dingin.
__ADS_1
... ...
...BERSAMBUNG ...