SAHABATku PENGANTINku

SAHABATku PENGANTINku
Kontraksi palsu


__ADS_3

Kebahagiaan kini dirasakan oleh pasangan Alaska dan Bening, mereka pun akhirnya berbulan madu ke luar negeri, mereka menikmati indahnya madu cinta sebagai pasangan suami istri.


Tiada hari tanpa manisnya percintaan, apalagi udara yang mendukung semakin menambah semangat keduanya untuk bersama-sama mencapai puncak asmara.


Dalam suasana kamar yang dilengkapi dengan perapian, mengingat di luar pastinya sedang hujan salju, Bening dan Alaska berdua dalam satu selimut dan saling menghangatkan tubuh masing-masing.


Bening duduk dengan posisi dipeluk Alaska dari belakang, keduanya baru saja memadu kasih, tampak keringat yang masih membasahi wajah keduanya.


"Sayang!" seru Bening sembari menyembunyikan wajahnya pada ceruk leher Alaska.


"Hmm!" Alaska memejamkan matanya sembari menikmati pelukan mereka.


"Kamu bahagia?" Bening berkata sembari memainkan ujung jarinya pada ceruk leher hingga ke tempat tato Alaska yang bertuliskan nama Bening, yaitu area dada sebelah kiri sang suami yang masih basah akibat keringat percintaan mereka. Alaska menatap wajah sang istri penuh cinta.


"Kamu tanya apakah aku bahagia? kamu sendiri? Apa kamu bahagia?" Alaska balik bertanya. Bening tersenyum dengan tatapan matanya yang sendu.


"Kalau aku tidak bahagia mana mungkin aku selalu berada dalam pelukanmu. Jika aku tidak bahagia mana mungkin aku membiarkanmu melakukan apapun pada diriku, karena sekarang aku adalah milikmu, Sayang! Apapun yang kamu minta aku akan memberikan apapun yang kamu inginkan," balas Bening sembari tersenyum. Alaska pun turut tersenyum dan mencium bibir Bening sekilas.


"Itu juga yang ingin aku jawab, bagaimana bisa aku tidak bahagia jika kamu selalu membuatku bahagia, aku tidak bisa lepas dari pelukan ini, kehangatan saat bersamamu adalah segalanya, aku tidak bisa bayangkan jika kamu meninggalkanku, aku bisa mati!" ucapan Alaska rupanya membuat Bening menggelengkan kepalanya.


"Jangan bicara seperti itu, tidak pernah terpikirkan olehku untuk meninggalkanmu, apapun yang terjadi, meskipun kamu tidak punya apa-apa aku akan tetap ada di sampingmu, kecuali ...." Bening tidak melanjutkan kata-katanya.


"Kecuali apa?" sambung Alaska penasaran.


Bening pun mulai menatap tajam ke arah sang suami. "Kecuali ... jika kamu memberikan 'ini' kepada wanita lain, aku tidak akan bisa terima, ingat itu! Aku bisa saja meninggalkanmu kapan saja jika aku tahu kamu jalan dengan wanita lain, bahkan aku bisa melakukan sesuatu hal yang lebih kejam daripada meninggalkanmu!" ucap Bening sambil menggenggam sosis sang suami, dan seketika membuat Alaska menelan ludahnya susah.


"Apa maksudmu, Sayang?" tanya Alaska dengan ekspresi wajah serius.

__ADS_1


"Aku bisa saja memotong-motongnya dan mencincangnya kecil-kecil, biar kamu kapok! Mending ngga usah punya Otong daripada kelayapan mencari wanita lain, paham!" ucap Bening dengan tatapan seriusnya.


"Hehehe waduh! Nggak punya Otong nggak tampan dong! Ya nggak mungkinlah, Sayang! Kamu bisa pegang kata-kataku, Dia tidak akan bisa berdiri dengan tegak kecuali dengan kamu, karena aku sudah menemukan tempat terenak dan ternyaman dan rasanya paling nikmat sedunia, jadi kamu tidak perlu pikirkan yang macam-macam, Suamimu ini akan selalu setia padamu, percayalah!" Alaska berusaha untuk meyakinkan sang istri.


Bening tersenyum dan kembali menyembunyikan wajahnya pada ceruk leher sang suami. Kembali mereka menikmati hangatnya berada di depan perapian untuk menghangatkan tubuh mereka, hingga akhirnya mereka tertidur pulas.


*


*


*


*


8 bulan kemudian.


Hari-hari pun berlalu, tak terasa kini kehamilannya Zizi semakin besar, tentu saja Aksa pun semakin tidak sabar lagi ingin bertemu dengan jabang bayi mereka yang akan lahir tinggal menghitung hari itu.


"Kang! Bangun! Akang! Bangun dong!" Zizi tampak menggoyang-goyangkan tubuh suaminya sehingga membuat Aksa mulai terjaga.


"Hmm ... ada apa, Sayang!! Apa baby-nya minta dijenguk lagi? Sini-sini naik saja, hmm aku sudah siap, mataku ngantuk berat, Zi! Udah dua kali aku menjenguknya, encok nih!" seru Aksa sembari tetap memejamkan matanya.


"Ihhh apaan sih! Nggak usah bangun, tidur aja!" Zizi memukul Dede gemoy yang terbangun milik sang suami dengan bantal sehingga membuat Aksa spontan melototkan matanya dan bangun tiba-tiba.


"Wadaawww ... Otong njiiir! Aduuhh sakit, Zi! Kok dipukul sih!" sahut Aksa sambil mengelus-elus si Dede gemoy miliknya.


"Salah sendiri, dia ngarah ke aku mulu, kayak dipelototi aja," sahut Zizi sambil menunjuk ke arah dirinya.

__ADS_1


"Ya iyalah, ini kan punya kamu, makanya dia selalu melototi kamu, dielus-elus kek apa kek, kok malah dipukul!" protes Aksa.


"Iya iya maaf! Tadi reflek, Kang! Takut kok tiba-tiba aku dipelototi gitu, lagian sih pake celana dong! Masa bugil gitu!" sahut Zizi sambil mengelus-elus perutnya.


"Hehehe enak gini, nggak gerah. Kan enak kalo bayi kita minta dijenguk lagi, tinggal masuk aja, lagian kamu juga nggak pake celana juga, ngapain aku pakai celana," sahut Aksa yang melihat posisi duduk Zizi yang menyingkap gaun tidurnya sampai pangkal paha.


"Udah-udah ah, nggak usah mesum dulu. Kang! Perutku kok mules ya! Aku takut, Kang?" sahut Zizi sambil meringis menahan rasa nyeri pada perutnya.


"Waduh! Jangan-jangan kamu mau melahirkan?" Aksa pun langsung terbangun dan ikut meraba perut sang istri.


"Ih masa sih, Kang! Eh tapi sekarang udah nggak sakit lagi, kok aneh ya?" Zizi merasa mulas-mulasnya mulai hilang.


"Masa sih? Tapi sebenarnya udah waktunya, kan? Biar aku tanya Mbak Bening aja!" Aksa pun menghubungi Bening yang saat itu dirinya juga sedang mengandung tujuh bulan.


"Halo!" Bening menerima telepon dari Aksa.


"Halo, Mbak Bening! Ini nih aku mau nanya sama Mbak Bening," seru Aksa panik.


"Ada apa? Zizi baik-baik saja, kan?" balas Bening yang ikut khawatir jika saja sepupu iparnya itu melahirkan.


"Zizi baik kok, Mbak. Hanya saja katanya perutnya mulas-mulas, udah gitu hilang. Kayak ngeprank nih si bocil," jelas Aksa yang membuat Bening menepuk jidatnya.


"Ngeprank-ngeprank gundulmu! Itu namanya kontraksi palsu," ungkap Bening yang semakin membuat Aksa garuk-garuk kepala.


"Kontraksi palsu? Busyeettt ternyata bukan janji aja yang palsu, kontrakan juga palsu!" ucap Aksa. Tiba-tiba saja ada kacamata dada Zizi yang melayang dan mengenai kepala Aksa. Zizi sengaja melayangkan bra miliknya ke arah sang suami gara-gara mendengar kontrakan palsu, bukan kontraksi palsu.


"Eh ... apaan nih! Asseemm nih ngapain ngasih bungkusannya doang!! Isinya dong, Sayang!" sahut Aksa sambil menghirup aroma kuutang sang istri yang harumnya sangat ia sukai.

__ADS_1


...BERSAMBUNG...



__ADS_2