
Aksa langsung mematikan ponselnya dan berusaha untuk tetap tenang seolah tidak terjadi apa-apa, sementara itu Zizi yang sudah tahu jika sang suami mendapatkan telepon dari Rere. Ia pun berpura-pura tidak perduli dengan apa yang dilakukan oleh suaminya. Tapi lain halnya dengan Aksa, ia kelihatan panik dan keringatan, takut jika Zizi marah jika dirinya ketahuan ditelepon oleh Rere.
"Elu kenapa cengar-cengir? Kayak kuda ketawa aja," celetuk Zizi sambil membereskan kembali piring yang pecah itu. Tahu jika Istrinya kembali membersihkan piring yang pecah itu, Aksa pun melarangnya.
"Eh Bawel! Elu ngga kapok-kapoknya, ya! Elu mau tangan elu kena beling lagi, udah biarin aja, biar si bibi yang beresin," sahut Aksa sembari menarik tangan sang istri agar tidak lagi memegang pecahan piring itu. Zizi pun terpaksa mengikuti perintah sang suami.
"Iya iya, lepasin tangan gue dong! Suka banget sih pegang-pegang," ketus Zizi menyuruh Aksa untuk melepaskan tangannya. Aksa pun melepaskan tangannya dan Ia segera memanggil bibi untuk membersihkannya.
Tak berselang lama bibi datang dan segera melihat nasi goreng yang tumpah di atas lantai.
"Loh kok bisa tumpah, Tuan? Ya ampun sayang banget, Nyonya udah masak nasi goreng spesial untuk Tuan loh, biar saya bersihkan." Mendengar itu, tak ingin melihat istrinya malu di depan asisten rumah tangganya, Aksa pun berbohong jika mereka berebut untuk makan sehingga membuat piring itu terjatuh.
"Iya, tadi kami rebutan makan nasi goreng itu, habis rasanya enak banget, bikin nagih. Ya jadinya begitu hehehe. Ya nggak, Zi?" senggol Aksa dengan tangannya pada lengan Zizi sembari tertawa kecil kepada sohibnya itu.
Zizi pun hanya melirik sembari duduk di atas tempat tidur, hingga akhirnya dering telepon dari ponsel Aksa muncul kembali, Aksa melihat ke layar ponselnya ternyata Rere menghubungi dirinya lagi.
"Anjriittt si Rere, ngapain sih telepon-telepon di saat seperti ini, mana Zizi lihatin terus lagi." Batin Aksa yang bingung ia harus membuka telepon atau menutupnya, karena ia ingat jika hari ini waktunya belajar kelompok bersama Rere dan teman cewek lainnya, maka Aksa pun berusaha untuk menyembunyikannya pada sang istri. Ponsel Aksa berdering berkali-kali sehingga membuat Zizi mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Kok nggak diangkat telponnya?" tanya Zizi sambil memperhatikan ekspresi wajah sang suami yang sedang panik.
"Emm ... nggak penting, kok!" jawab Aksa enteng, tapi Zizi tidak percaya begitu saja, ia pun mendekati suaminya dan melirik ke layar ponsel sang sohib.
"Loh itukan Rere, kenapa nggak diangkat? Angkat saja Kang siapa tahu penting." Sahut Zizi. Aksa pun tersenyum paksa dan dirinya pun meminta izin kepada Zizi untuk segera menerima telepon dari Rere.
"Hehehe boleh, ya? Baiklah gue akan berbicara dengannya, tapi gue minta elu jangan cemburu, ya!" Seketika Zizi pun menyahuti, "Cemburu? Ya nggak mungkinlah, Kang! Gue sama Rere itu udah temenan baik, lagian kenapa gue harus cemburu sama buaya Empang, nggak level!" sahut Zizi.
"Jangan gitu dong, Zi! Gini-gini masih banyak cewek yang ngantri mau jadi pacar gue ... iya halo, Re!" Aksa terlihat menerima telepon dari Rere setelah mendapat izin dari istrinya. Aksa lakukan itu supaya istrinya tidak salah paham dan tidak salah menduga, sehingga kedua telur dan satu sosisnya akan aman dari hukuman Zizi.
"Hehehe iya sorry, mendadak gue sakit perut njiiir! Kebanyakan makan ular semalam, eh salah ding, jadi ular, eh nggak-nggak sorry bercanda! Kayaknya gue nggak bisa hari ini, lain kali aja, ya! Elu ngga apa-apa, kan?" Mendengar suaminya berbincang dengan Rere, Zizi tampak tertawa kecil mendengar alasan sohibnya yang nyeleneh itu.
"Dasar Akang! Ada-ada aja jadi ular, emang sih semalam jadi ular, ular kadut yang bikin jebol kue mochi gue." Zizi bermonolog sendiri.
"Ya ampun, ya udah deh istirahat aja," seru Rere.
"Yo I thanks ya, elu memang teman yang baik, kapan-kapan aja gue minta bantuan elu, gue beruntung banget punya teman pengertian kayak elu, Re! Udah cantik, pinter lagi," puji Aksa kepada Rere dimana Zizi menirukan Aksa yang sedang memuji Rere dengan mulut komat-kamit.
__ADS_1
Setelah itu, obrolan mereka pun berhenti, Aksa melihat istrinya yang sedang komat-kamit menirukan dirinya yang sedang memuji Rere.
"Ya ampun Rere, elu teman yang baik, cantik, pinter lagi. Kapan-kapan gue minta bantuan elu. Diihhh basi!!" umpat Zizi sambil pergi meninggalkan Aksa.
Aksa hanya bisa tersenyum melihat tingkah istrinya yang seolah tidak suka jika Aksa memuji gadis lain.
"Kenapa lu? Cemburu ya? Ciee cemburu!" Aksa meledek Zizi sambil mengekor di belakangnya.
"Ihh apaan sih, siapa juga yang cemburu, bodo!" Zizi tidak mempedulikan perkataan sohibnya, ia pun terus keluar dari kamar mereka. Tapi, rupanya Aksa tidak membiarkan istrinya pergi dalam keadaan marah. Dengan cepat Aksa menarik tangan Zizi sehingga gadis itu berbalik arah dan berada di dalam dekapan sang suami.
Kini mereka berdua saling berhadapan, Aksa menyandarkan tubuh sang istri pada dinding dan menguncinya agar tidak bisa pergi dengan menggenggam kedua tangan Zizi.
Detak jantung Zizi kian bertambah cepat, saat Aksa berada sangat dekat sekali dengannya.
"Katakan sama gue, elu cemburu, kan?" Aksa bertanya dengan menatap bola mata Zizi dalam-dalam.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1