
Keesokan harinya, sebelum sehari Alaska melaksanakan ijab kabul, ia menyempatkan diri datang ke rumah sang adik. Dimana saat ini Aksa sedang lucu-lucunya seperti seorang bayi, rupanya apa yang dialami oleh wanita hamil muda pada umumnya, kini dialami oleh Aksa yang setiap hari muntah-muntah dan tidak mau makan. Sementara hal berbanding terbalik dengan apa yang dialami oleh Zizi. Ia justru terlihat lebih sehat dan sangat doyan makan.
"Sayang kamu makan, ya! Aku suapi." Zizi tampak membawakan makanan untuk sang suami yang saat itu terlihat teler tak bertenaga.
"Enggak mau! Mual banget nih perut, kayak ada yang sedang disco di dalam, apa mungkin si cacing kremi pada joget di dalam, ya! Huek ... huek ...!!" celetuk Aksa yang tidak bisa jauh-jauh dari omongan nya yang selalu membuat Zizi memutar bola matanya.
"Kayaknya aku musti panggil Mbak Bening, deh! Badan kamu juga anget loh!" seru Zizi yang tak tega melihat suaminya seperti itu. Ia pun segera mengirimkan pesan singkat kepada Bening yang saat itu terlihat masih sibuk.
"Hmm ... he e ... mimik ... mimik aku mau mimik!!" terdengar rintihan Aksa yang meminta mimik.
"Kamu mau mimik apa? Nanti aku ambilkan!" tawar Zizi sambil mengusap wajah suaminya yang sangat manja itu.
"Mimik susu!!" balas Aksa dengan wajah sok imutnya.
"Oh mimik susu, bentar aku buatkan dulu!" balas Zizi sembari beranjak pergi ke dapur. Tapi, Aksa justru menahan tangan Zizi dan memintanya untuk tetap bersama dirinya.
"Kamu mau kemana? Di sini saja," rengek Aksa sambil menempelkan pipinya pada punggung tangan Zizi.
Zizi pun kembali duduk di samping sang suami, "Loh tadi katanya minta mimik susu, aku buatin dulu, ya!" ucap Zizi.
"Nggak mau mimik susu itu, tapi susu yang ini," balas Aksa sembari menunjuk pada dua benda kenyal kesukaannya. Zizi pun menepuk jidatnya melihat tingkah konyol sang suami.
"Hiii kamu tuh ya!" Zizi terlihat mencubit hidung Aksa. Aksa pun tertawa kecil sembari membenamkan wajahnya pada dua sumber susu utama penyehat badan itu.
"Sayang jangan dong geli!!" rintih Zizi saat kepala Aksa bergerak-gerak di atas dadanya. Tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pintu yang rupanya seorang pelayan memberi tahukan jika Alaska ingin bertemu dengan Adiknya.
"Permisi, Non! Di luar ada Tuan Alaska," seru sang pelayan.
"Abang!"
__ADS_1
Saking senangnya spontan Zizi mendorong kepala suaminya sedikit keras dan langsung mengancingkan bajunya, hingga membuat Aksa terpelanting di atas kasur.
"Aduuhh kok di smackdown sih, sayang!" pekik Aksa saat Zizi mendorong kepalanya terlepas dari dua buah pepaya yang menggantung indah itu.
"Aduuhh maaf-maaf, reflek Sayang. Di luar ada Abang, kita temui dia yuk! Aku kangen banget sama dia!" seru Zizi sambil menarik tangan sang suami.
"Eh eh iya iya bentar dong! Aku mau boboin Dede gemoy dulu kebangun dia, kamu duluan aja!" balas Aksa sembari menenangkan dirinya dan juga Dede gemoy miliknya.
"Hmm ... kamu sih pakai minta mimik susu segala, kebangun kan tuh si Dede, ya udah aku temui Abang dulu, jangan lama-lama!" ucap Zizi.
"Iya iya!!" balas Aksa.
Zizi pun segera keluar dari kamar dan segera menemui Alaska yang sudah menunggunya di ruang tamu. Tak berselang lama, Zizi menyapa sang Abang yang sudah cukup lama berpisah.
"Abang!!" seru kepada Alaska.
"Abang kangen banget sama kamu!"
"Zizi juga, Bang!"
Keduanya melepaskan rindu, tanpa mereka sadari Aksa melihat kakak beradik itu saling melepaskan rindu, Aksa tersenyum dan terharu melihat pertemuan dua bersaudara itu.
"Bagaimana kabarmu? Abang lihat kamu lebih gemukan sekarang, Abang tahu kalau adik Abang ini sedang hamil, kan?" tanya Alaska yang ikut senang melihat kehamilan Zizi.
"Zizi baik, Abang! Iya nih Abang bakalan punya keponakan," jawab Zizi bahagia.
"Waaah Abang sangat senang sekali, oh ya? Mana suamimu? Abang kok belum lihat dia," tanya Alaska tentang adik iparnya.
"Suamiku sedang istirahat, Bang! Dia sedikit kurang enak badan, sebentar lagi Zizi panggilkan!" seru Zizi sembari mempersilahkan sang kakak untuk duduk.
__ADS_1
"Suamimu sakit? Sakit apa?" tanya Alaska.
"Nggak tahu juga tuh, Bang! Dari kemarin mual-mual dan muntah, nih baru saja Zizi hubungi dokter yang biasa tangani dia," ungkap Zizi.
Sementara itu di tempat lain, Bening yang saat itu harusnya dipingit karena esok dirinya akan menikah, tiba-tiba ia mendapatkan pesan dari Zizi jika Aksa sedang sakit, dan sakitnya itu sangat tidak wajar, Aksa seolah mengalami gejala seperti wanita yang sedang hamil muda, itulah kenapa Zizi menghubungi Bening, mungkin saja Bening bisa menjelaskan apa yang terjadi.
Bening meminta izin kepada sang Mama sebentar saja untuk menengok Aksa, meskipun awalnya sang Mama menoleh, Bening terus meyakinkan kepada Mama Ara jika Aksa sedang membutuhkan dirinya.
"Ya sudah! Mama izinkan kamu, tapi jangan lama-lama, karena nanti sore ada pengajian di rumah kita, jadi kamu sebagai calon pengantin harus ada, mengerti!" seru Mama Ara.
"Iya, Ma! Bening mengerti!" balas gadis itu, setelah itu ia pun segera meluncur ke rumah Aksa.
Sedangkan di dalam rumah Aksa dan Zizi, Alaska tampaknya sedang berbincang dengan pasangan calon orang tua itu.
"Waduh Mas Alaska bukannya besok mau nikah, ya? Nggak dipingit nih sama Daddy Dion?" seru Aksa sembari duduk di samping istrinya.
"Dipingit buat apaan? Emang ada tradisi kayak gitu?" seru Alaska sambil meminum secangkir teh yang sudah disediakan.
"Ada dong, Mas! Nah ini si bawel nih! Dua hari dipingit dia, tiga hari aku nggak bisa ketemu dia, aku pikir dia gondok karena masalah sedotan, eh nggak tahunya dipingit pas mau nikah sama aku hehehe!!" ungkap Aksa yang ingat saat Zizi tidak diperbolehkan keluar rumah sebelum acara akad nikah.
"Emangnya dipingit tuh buat apaan sih!" tanya Alaska penasaran.
"Katanya sih biar nggak tergoda dengan bisikan setan sebelum pernikahan, lah emangnya setan ada yang bisa menggagalkan pernikahan, ya?" sahut Aksa yang seketika membuat Alaska dan Zizi melongo. Aksa menatap wajah istri dan Kakak iparnya yang sedang menatap dirinya aneh.
"Hehehe, salah ya!!"
...BERSAMBUNG ...
__ADS_1