SAHABATku PENGANTINku

SAHABATku PENGANTINku
Berhasil


__ADS_3

Bening tak mampu berucap, tubuhnya seperti berhenti bergerak dan membiarkan suaminya melakukan apapun yang Ia inginkan, tentu saja handuk itu mulai terlepas dari tubuh Bening, tergeletak di atas lantai menutupi kaki Bening dan Alaska.


Tentu saja, spontan Bening menutupi kedua buah pepaya itu dengan tangannya, ia masih malu jika Alaska melihatnya secara langsung. Dengan cepat, Alaska langsung menahan tangan Bening.


"Jangan! Gue malu!" pekik Bening saat sang suami melarang dirinya untuk menutupi kedua aset berharga miliknya. Alaska tidak berkata-kata, tanpa pikir panjang pria itu langsung mencium seluruh yang ada pada diri Bening, bermula dari sentuhan di bibir, menggetarkan seluruh aliran darah dan memacu irama jantung kian cepat.


Kedua tangan Bening menempel pada dinding dengan genggaman erat dari tangan Alaska. Tak cukup sampai di situ, kini tangan itu beralih pada bagian yang lain, entah itu dimana, yang jelas terasa begitu hangat dan kenyal, Alaska merabanya, memainkannya bahkan menggelitiknya hingga si empunya hanya bisa mengerang.


"Al ... no! Pliss!" teriakan manja itu terdengar begitu menggairahkan bagi Alaska, entah sejak kapan, kain yang menutupi tubuh atletis Alaska berserakan di atas lantai, hingga akhirnya Bening tahu jika ada sebuah tato di tubuh suaminya yang bertuliskan nama dirinya, tato itu terletak pada dada sebelah kiri Alaska.


Sejenak mereka melepaskan pagutan mesra itu, karena Bening melihat tato itu dan merabanya.


"Al? Apa ini? Untuk apa lu lakuin ini? Ada nama gue di sini," seru Bening saat melihat tulisan dengan bertuliskan Embun Bening pada dada kiri Alaska.


Alaska tersenyum dan berkata, "Aku mengabadikan namamu bukan hanya dalam tato ini, tapi dalam hati ini, tato ini hanyalah sebuah simbol jika hanya namamu yang selalu ada dalam dada ini, sampai kapanpun tidak akan pernah tergantikan dengan wanita lain, sekarang yang ada hanya aku dan kamu, bukan lu dan gue. Kita bukan hanya sekedar sahabat, tapi belahan jiwa, rasa sakitmu adalah sakitku juga, bahagiamu adalah bahagiaku juga. Aku sangat mencintaimu, Bening!" .


Bening tak mampu menahan rasa haru, tiba-tiba saja buliran bening itu jatuh membasahi pipinya, dengan cepat Alaska mengusapnya dan tidak membiarkan Bening menjatuhkan air mata itu lagi.


"Aku mohon jangan menangis, tersenyumlah untukku, Bening!" seru Alaska sembari terus mengusap wajah istrinya yang masih mengeluarkan air mata itu. Karena sudah tak tahan, akhirnya Bening berkata, "Aku bukan nangis karena itu. Tapi ... lihat ke bawah! Singkirkan kakimu, sakit tahu!" pekik Bening saat merasakan jika kakinya tak sengaja diinjak oleh sang suami.


Spontan Alaska menyingkirkan kakinya dari kaki Bening, dan ia pun segera meminta maaf.


"Ya ampun! Ma-maaf, aku tidak tahu kalau menginjak kakimu, sini biar kulihat!" Alaska berjongkok dan melihat kaki sang istri yang terkena injakan kakinya, ia pun berusaha untuk mengusapnya agar Bening tidak merasakan sakit lagi.


Dalam posisi seperti itu, tentu saja kepala Alaska berbanding lurus dengan sesuatu yang berusaha Bening tutupi dengan tangannya.


Alaska spontan melihat tangan sang istri yang sedang menutupi area yang sangat membuatnya penasaran itu. Alaska menyeringai, saat ini keadaan keduanya tanpa sehelai benangpun, dalam suasana remang-remang itu semakin membuat keduanya terhanyut dalam keromantisan sebagai pasangan suami istri.

__ADS_1


Pencahayaan dalam kamar Bening sengaja Mama Ara buat sedemikian romantis dan terasa antara gelap dan terang.


"Jangan, Al!" sergah Bening saat Alaska mencoba menarik tangan Bening. Bening terus berusaha untuk menahannya. Namun, sia-sia dirinya menahan tapi akhirnya ia lepaskan juga tangannya dari sana saat Alaska langsung membawa tubuh Bening dan menghempaskan nya di atas kasur.


'Sempurna'


Mungkin itu adalah posisi yang paling sempurna untuk Alaska menyerang istrinya, benar-benar pemandangan yang sangat indah, mengalahkan pemandangan terindah di dunia ini.


Kini sang Bu dokter cantik berada tepat di bawah kungkungan suaminya, tak bisa bergerak lagi karena Alaska sudah mengunci gerakan Bening yang ingin memberontak. Entah sejak kapan, kini kedua kaki Bening terbuka lebar, sementara ada sesuatu yang mulai menyentuh permukaan yang mulai basah itu.


"Well! Sebelumnya, apa aku diizinkan untuk masuk?" bisik Alaska dengan nafas yang mulai memburu. Bening sudah tidak bisa berkata apa-apa, karena sejak sesuatu itu menyentuh permukaan yang basah itu, spontan membuat Bening semakin penasaran dengan apa yang akan terjadi selanjutnya, apakah terasa sakit seperti yang selama ini ia dengar dan baca, ataukah tidak seperti dugaannya.


"Tapi aku takut!" balas Bening sembari menatap wajah sang suami dengan sendu.


"Kamu pikir aku juga tidak takut apa!" sahut Alaska yang mulai berkeringat dingin.


"Sama! Aku juga takut jika sudah terlanjur masuk nggak bisa keluar lagi, gimana dong!" sahut Alaska yang membuat Bening tertawa kecil, sehingga membuat tubuhnya bergerak-gerak. Sehingga mendorong si kepala plontos itu untuk masuk lebih dalam.


"Eh ... eh jangan banyak gerak, entar masuk!" sahut Alaska yang merasa jika Bening terlalu banyak bergerak.


"Aduuhh ... jangan didorong dulu, sakit! Udah-udah ah minggir!" merasa jika terasa begitu sakit, Bening pun spontan mendorong tubuh suaminya. Namun, bukannya berhasil mendorong, Alaska justru semakin menggerakkan tubuhnya masuk lebih dalam, sehingga membuat Bening mencengkram erat punggung sang suami.


"Aaahhh ...!!" teriakan itu terdengar sedikit kencang karena Bening merasa ada sesuatu yang memaksa masuk ke dalam dan terasa begitu sesak.


Finally, Alaska berhasil masuk ke dalam tubuh sang istri, sementara itu Bening tampak menitikkan air mata saat sensasi dimana kegadisannya telah hilang itu terasa begitu perih dan nyeri.


Alaska merasa ada sensasi yang berbeda, ia pun menatap wajah sang istri dan berkata, "Udah masuk, ya?" ucapnya penasaran.

__ADS_1


"Kayaknya udah, aduh sumpah ya sakit banget ding!" pekik Bening saat merasakan ada yang masuk dan terasa begitu mengganjal.


"Udah, ya! Eh Ning, kok rasanya enak, ya! Aku gerakin pelan-pelan, ya!" seru Alaska.


"Eh eh jangan! Sumpah ini sakit banget, pasti ada yang lecet tuh! Ya ampun pasti bentuknya jadi jelek dan nggak imut lagi!" balas Bening yang membayangkan bagaimana jadinya bentuk mahkota yang menjadi kebanggaannya itu.


"Nggak akan sakit, aku jamin! Pelan-pelan saja, percuma kalau nggak digerakkan, masa diem doang kayak gini," sahut Alaska yang berusaha untuk meyakinkan sang istri agar tidak takut untuk bergerak.


"Bener nggak sakit?" Bening bingung antara takut dan penasaran.


"Enggak, aku coba ya!" Alaska pun perlahan bergerak secara lembut, awalnya Bening meringis kesakitan, tapi setelah beberapa gerakan Bening merasa tidak kesakitan lagi, ia mulai merasakan sensasi yang berbeda saat gerakan Alaska semakin mendominasi. Kini Bening pun mulai menikmatinya dan ia pun semakin suka dengan apa yang dilakukan oleh sang suami.


"Em ... terus!" suara Bening terdengar begitu indah di telinga Alaska, ia pun semakin bergerak dengan cepat hingga akhirnya Alaska tiba-tiba berhenti dan mencabut kembali senjata pamungkasnya.


Tentu saja Bening terkejut saat sang suami tiba-tiba menarik kembali miliknya.


"Ada apa?" tanya Bening.


"Aku ke kamar mandi dulu, kebelet pipis dari tadi, nggak kuat!!" Alaska berlari ke kamar mandi dan Ia pun segera buang air kecil, sedari tadi ia menahan buang air kecil tapi tertunda karena godaan yang tak bisa ia hindari.


Sejenak Alaska melihat miliknya yang masih terdapat bekas darah dari sang istri. Terukir senyum dari bibirnya, ternyata ia sudah berhasil membuat Bening tidak perawan lagi. Sementara itu, Bening menutupi tubuhnya dengan selimut, sesekali ia meringis kesakitan karena baru saja ia mengalami robeknya selaput dara.


"Awww ... beginikah rasanya malam pertama? Sakit tapi enak!"


Bening mengulas senyum di bibirnya, hingga akhirnya setelah beberapa saat, sang suami keluar dari kamar mandi dengan tatapan mata yang siap untuk menerkam Bening kembali.


...BERSAMBUNG ...

__ADS_1


__ADS_2