
“ Melihatmu sakit, aku tidak tega denganmu. Kamu memang istri yang bisa menahan diri kamu untuk tetap kuat di hadapanku. ”
Rifa'i
🌷Happy Reading 🌷
Sudah 7 hari, ibunya Anin meninggal dunia. Malam terakhir pun tahlilan sudah di laksanakan.
Anin yang sekarang badannya kurus dan tidak mau makan sama sekali, sampai Rifa'i membujuk Anin pun susah untuk membuka hatinya. Sekarang ini Anin tiduran di kamarnya dan melamun. “ Assalamu'alaikum yang, ” sapa Rifa'i dengan melangkah dan membawa nampan berisi bubur hangat sama teh hangat.
“ Waalaikumsalam, mas. ” Ucap Anin dengan lemas dan bibirnya pun mengering. “ Yang, makan ya. Nanti ibu nangis di sana, kalau kamu di sini menyiksa dirimu. Aku udah nggak kuat melihat kamu seperti ini, diriku juga tersiksa dan teriris melihat kamu. ” Ucap Rifa'i sambil membawa semangkok bubur dan duduk di tepi ranjang. “ Nggak mas, aku udah kenyang kok. ” Jawab Anin dengan lemas dan Rifa'i menggeleng pelan. Rifa'i mengangkat tangan kanan Anin dan membawanya ke wajahnya.
“ Yang, tatap mataku. Kamu itu butuh asupan makanan, kalau kamu sakit. Bisa-bisa ibu marah sama aku, tolong ya yang! Kamu jangan begini! Kamu juga butuh waktu untuk itu, semua akan di hati. Ibumu akan selalu menemanimu di hati, yang. Kamu harus mendoakan ibu supaya ibu bahagia di alam sana, ibu merasa bangga melihat kamu tersenyum dan memulai kehidupan biasa setiap hari. ” Ucap Rifa'i dengan menghela napasnya.
“ Ya udah kalau kamu nggak makan, aku akan membawa paksa kamu pulang. ” Ucap Rifa'i dengan memasukkan barang-barang ke koper. Anin pun terkejut dan beranjak dari ranjang dengan jalan tertatih-tatih. “ Udah yang istirahat aja, biar aku yang menyiapkannya. ” Ucap Rifa'i dengan memasukkan lagi pakaiannya.
“ Mas, kamu ini. Udah ah, aku mau makan. Iya aku mau makan. Ketimbang nggak makan, jugaan ini udah laper banget. ” Ucap Anin dengan mengusap air matanya dan Rifa'i pun tersenyum. “ Gitu, senyum apa? Itu, nggak baik kalau kamu nangis terus. Bisa-bisa nanti
__ADS_1
ada lagu lewat itu apa? Lupa aku, oh iya di indosiar itu, namanya suara hati istri. Gara-gara suaminya menduakan istrinya. Jadinya, nanti kamu nyanyi lagu kumenangis membayangkan..... Hahaha, ” Ucap Rifa'i dengan mengulas senyuman. “ Eh, kamu itu ya. Nggak lah, amit-amit lah suami menduakan istri. Eh, hahaha... Ada-ada aja, kamu ini mas. ” Ucap Anin dengan tersenyum dan Rifa'i pun mengecup singkat bibir Anin.
“ Mas, kamu ini. Emang ya, lelaki itu nggak punya akhlak mainnya kayak bebek, nyosor gitu aja. Belum juga siap, tapi udah di kejar bebek. Apalagi kalau angsa? Weuih bisa-bisa tujuh turunan, nggak hilang traumanya. ” Ucap Anin dengan memakai kerudungnya dan memoles wajahnya dengan sedikit bedak. “ Eh, kamu mau kemana? ” Tanya Rifa'i melihat gerak-gerik Anin,
“ Ya Allah, kamu ini. Katanya mau pergi refreshing, gimana lah-lah? ” Ucap Anin sedikit lega hatinya dan menatap kembali, angin yang berhembus kencang menerpa kulitnya.
“ Hehehe, nggak ada duit yang. Coba cari di celana, aja yang. ” Ucap Rifa'i dengan mencari kesempatan dalam kesempitan. “ Waduh, itu nanti jadi bencana gempa bumi. Nanti, ” Ucap Anin di dalam hati, dan Anin pun mempunyai ide untuk itu. “ Ehm, kamu mau apa mas? Coba, kamu contohkan lagi. ” Ucap Anin dengan mendelikkan matanya. “ Enggak kok, ya udah. Yuk, mas mau siap-siap dulu. ” Ucap Rifa'i dengan mengambil bajunya di lemari dan melepas bajunya. “ Huh, akhirnya selesai. ” Anin pun keluar kamar dan Rifa'i pun membawa kopernya. “ Hm, kamu ngapa yang? Kok lemes lagi, ” Rifa'i pun mengunci pintunya dan memandang Anin yang memiliki gelagat mencurigakan.
Tiba-tiba Anin pun kelupaan barang, barang mewah milik perempuan. Anin langsung menyerobot kunci dan melepaskan sandalnya. Anin membuka pintunya dan berlari ke kamar mandi. “ Aduh, perasaan tadi perut nggak kenapa-napa. Kok, sekarang jadi agak mules tapi nggak mules jugaan. ” Seperti yang di duga, akhirnya Anin mengalami 7 hari libur bersama sang suami. Rifa'i yang curiga, akhirnya menyusul Anin di dalam kamar mandi.
“ Kamu ini mas, udah tau lagi begini. Ah, malu aku jadinya. Ini semua gara-gara kamu, ini. Gimana? Ehm, mas tolong ambilkan itu apa-apa? Aduh apa lagi? Ehm, itu roti. ” Dengan cepat Rifa'i mengambilkan roti di piring dan menyerahkannya ke Anin. “ Aduh mas, bukan ini tapi yang itu lho. Barang perempuan, ih kamu ini mas. ” Ucap Anin dengan kesal. “ Apa yang? Cepetan ngomong aja, nggak papa. ” Ucap Rifa'i.
“ Huh, mas. Tolong ambilkan kayak itu, benda perempuan yang 7 hari itu, lho. ” Ucap Anin dengan gemas, ingin menjambak rambut Rifa'i dengan serontok-rontoknya. Untungnya Rifa'i mengerti dan mengambilnya pun tidak bersemangat lagi. “ Huh, kenapa cobaan pas dateng gitu aja? ” Ucap Rifa'i sambil menggerutu. Rifa'i balik lagi ke kamar mandi dan menyerahkan ke Anin.
“ Yang, berarti nggak jadi pergi kita. Ehm, udah badan nggak enak lagi, terus di tambah lagi begini. Uuh nasib nggak menentu ya, kayak gini. Kenapa hidup selalu di bolak-balik sampe sukses terus. ” Ucap Rifa'i sambil menuangkan air putih ke dalam gelas dan sampai airnya tumpah-tumpah. Anin yang baru saja keluar dari kamar mandi pun memandang air di bawah.
“ Astagfirullahalazim, mas. Kamu ini ya, awas aja. Ini di pel dulu, supaya nggak kepleset nanti. Kalau kepleset kan bisa jatuh, ” Ucap Anin dengan marah-marah dan Rifa'i terkejut karena airnya menggenang. “ Lho, iya-iya. ” Jawab Rifa'i.
__ADS_1
Anin pun duduk di kursi dan menikmati roti yang ada di toples. “ Eh mas, kita nggak jadi refreshing, ya mas. Soalnya begitulah, ” Ucap Anin dengan memasukkan roti ke dalam mulutnya. “ Hm, iya. ” Ucap Rifa'i dengan nggak semangat lagi. “ Oh iya mas, aku mau itu pintu kamar mandi di perbaiki, ya mas. ” Ucap Anin mengambil gelas. “ Hm, iya. ” Ucap Rifa'i sambil meletakkan pelnya.
“ Mas, apa kita mau pindah mas? Soalnya ini rumah, siapa yang menempati? ” Ucap Anin.
“ Iya, yang. Soalnya kalau mau dinas ke kantor jauh yang. Kadang aja macet yang, aku nggak sanggup lagi. Ehm, gimana kalau nanti pengawal ku sama pelayanku yang menempati. Mereka juga udah punya anak, yang. ” Ucap Rifa'i. Anin pun mengangguk dan dia harus menemani Rifa'i kemanapun.
Bersambung
Hahaha 😂😂😂 author emang kejam, hehehe gara-gara korban film tu Rifa'i. Emang itunya selalu minta ya, suruh nonton film berjam-jam.
Mampir ke instagram yuk!!!
@dindafitriani
Jangan lupa like dan komen positif, biar author semangat lagi 😂😂😂😂🤣🤣🤣🤣
Kejam amat Thor, ya udah seterah kalian.
__ADS_1