
~ Mengingat masa lalu itu cukup mengenyangkan! Kenyang dari segalanya.
Anin Fitri Ani
🌷Happy Reading 🌷
“ Begini neng, kunci utama untuk menuju kesuksesan dalam berumah tangga itu sabar dan tenang neng. Sama-sama saling menguatkan neng, perlahan-lahan akan bisa menghadapi semua ujian dengan baik. Sama-sama memikirkan hal yang positif, jangan mudah untuk emosi dan marah! Semua itu cuma membawa pernikahan hancur dan berantakan neng. Pasangan yang mampu untuk bersabar itu akan menjadi sama-sama kuat dan melewati itu semua dengan mudah neng. ” Ucap Pak Ustaz Rwanda.
Anin pun mengangguk dan mengusap air matanya. “ Iya Pak ustaz, InsyaAllah saya bisa melewati semua ujiannya. Menghadapi ujian emang berat kayak anak sekolah kalau ujian juga ingin mendapatkan nilai terbaik, tetapi ada kuncinya yaitu giat belajar. Itu semua kunci dari sebuah ujian di sekolah sama juga ujian pernikahan. Semua itu perlahan-lahan akan menjadi keluarga yang bahagia, menjadi keluarga sholehah dan sholeh. Amiin ya Allah. ”
Pak Rwanda kagum dengan ucapan Anin barusan. “ Iya neng, masa kamu kalah sama masa SD neng. Neng yang dari dulu pinter dan cerdas, kenapa neng menyerah begitu saja? ”
Anin kembali tersenyum dan membuat hatinya kembali menata kehidupannya ke depan.
“ Hehehe, iya Pak. Namanya bukan mudah Pak, pernikahan itu untuk satu kali dalam kehidupan, Pak. Kalau ujian bisa di ulangi lagi, hehehe. ” Ucap Anin membuat Pak Rwanda geleng-geleng kepala. “ Neng kamu dulu pinter ngaji, pinter di sekolah, pinter malakin orang, pinter bohongin orang, terus pinter semuanya lah. Tapi, ada satu sayangnya. Cuma bela diri aja nggak mau neng,
dari dulu kamu nggak mau bela diri jugaan. ” Ucap Pak Rwanda.
“ Hehehe iya Pak. Itu kelemahan saya, saya nggak jago bela diri. Sebab saya trauma dengan kejadian dulu-dulu Pak. ” Ucap Anin dengan membenarkan kerudungnya. “ Tapi kok pinter malakin orang, hayo. Kenapa? ” Pak Rwanda melepas kacamatanya dan membersihkannya di sarung dengan di elap-elap. “ Ha, itu Pak. Saya itu pernah begitu, tapi cuma orang yang nggak punya ilmu untuk bela diri Pak. Saya pakai kepintaran saya, buat malak orang lain. ”
Ucap Anin dan Pak Rwanda berdiri.
__ADS_1
“ Ya udah, pulang aja neng. Ini udah malem, saya mau ke masjid dulu. Mau ngaji, saya nggak bisa mengantarkan neng pulang. Maaf ya, ” Ucap Pak Rwanda dan Anin menyalami tangan Pak Rwanda. Pak Rwanda menerimanya, “ Ya udah nggak papa Pak. Makasih udah menjadi pendengar baik saya, Pak. ” Ucap Anin dengan tidak enak hati.
“ Enggak papa. Ya udah, assalamu'alaikum. Hati-hati di jalan, ” Ucap Pak Rwanda melangkah pergi. “ Waalaikumsalam, ada-ada saja Pak ustaz ini. Membahas masa lalu itu cukup mengenyangkan bagiku. Hahaha, ” Ucap Anin dengan melangkah pergi dari danau tersebut.
Beberapa menit, Anin sampai di rumahnya dan Anin mencoba untuk membuka pintunya, tetapi sudah di kunci. Anin mengendap-endap di jendela,
“ Sepertinya ibu udah tidur, hm ketok apa nggak ya? Takut ibu nanti kaget lagi. Hm, ya udahlah ketok pelan-pelan, ” Ucap Anin dengan mengetok pintunya. “ Assalamu'alaikum bu, ” Ucapnya dengan pelan dan membuat ibunya keluar dari kamar. “ Waalaikumsalam, siapa? ” Ucap ibunya dengan nada lirih. “ Anin bu, ” Jawab Anin. Ibunya pun membuka pintunya dan Anin masuk ke dalam rumah. Anin pun menutup pintunya kembali dan Anin duduk di kursi. Ibunya pun duduk di kursi,
“ Kamu dari mana aja? Katanya cuma sebentar, Ibu nungguin dari tadi. ” Ucap ibunya dengan lemas karena selepas bangun tidur. “ Iya, tadi di rumah temen bu. Kelepasan jadi pulangnya lambat bu. ” Jawab Anin, ibunya mengangguk.
“ Ya udah, ibu mau tidur dulu. Nanti kalau suamimu pulang, buka aja. ” Ucap ibunya dengan berdiri dan melangkah ke kamarnya.
“ Aku mau tidur lah, udah ngantuk jugaan ini. Wudhu dulu sama sikat gigi, ” Anin melangkah ke kamar mandi dan menyikat giginya. Selesai itu, Anin langsung wudhu dan melangkah ke kamar. Anin membuka pintu kamarnya dan menutupnya kembali. Anin mengelap wajahnya dengan handuk dan meletakkan kerudungnya di cantolan. “ Hm, tidur lah. Tapi, suami belum pulang. Gimana ini? ” Ucap Anin dengan menguap beberapa kali dan menengok jam di dinding. Sudah jam setengah dua belas malam, Rifa'i belum pulang juga. Anin sudah mengejapkan matanya beberapa kali, “ Hah udah nggak kuat aku. Pengen tidur, ” Anin menata bantalnya dan gulingnya. Membuat Anin menghentikan, karena ada suara ketukan pintu dan ada suara salam. Anin mendengarkan samar-samar dan ternyata suara Rifa'i. Anin turun dari ranjang dan melangkah keluar dari kamar.
“ Ya udah mas, jangan mandi! Mandi malem nggak baik, besok pagi aja langsung mandi. Aku buatkan teh dulu ya mas. ” Anin melangkah ke dapur dan membuatkan teh untuk Rifa'i. Akhirnya selesai, Anin mengambil nampan dan roti yang ada di toples, di letakkannya kopi bersama rotinya di nampan. Anin membawanya ke ruang tamu. “ Ini mas, di minum dulu. Mas juga haus pasti, ” Ucap Anin dengan duduk.
“ Iya, ” Jawab Rifa'i dengan lemas dan menggelengkan kepalanya dengan pelan.
“ Mas capek ya, ya udah sini biar aku pijitin. Biar hilang capeknya. ” Melihat Anin yang sudah mengantuk, “ Nggak usah yang. Kamu udah capek jugaan, ya udah kamu tidur dulu aja. Aku mau habiskan tehnya dulu, ” Ucap Rifa'i.
“ Nggak, aku mau tunggu kamu. ” Akhirnya Rifa'i menyeruput tehnya sampai habis dan tidak menunggu lama, Rifa'i meletakkan gelas yang sudah kosong tidak tersisa di nampan. “ Ya udah, ini udah habis. Aku mau ganti baju dulu, ” Ucap Rifa'i dan Anin tersenyum. Anin membawa nampan tersebut ke dapur dan di letakkannya di tempat cuci piring. Anin mencuci tangannya dan mengelap nya dengan lap.
__ADS_1
“ Allhamdulilah, akhirnya. ” Ucap Anin dengan minum air putih. Anin melangkah ke kamarnya dan melihat Rifa'i yang sedang teleponan dengan orang lain. Anin naik ke ranjang dan duduk di ranjang. Menunggu Rifa'i, akhirnya Rifa'i sudah selesai dan naik ke ranjang.
“ Kenapa yang, kok nggak tidur. Itu mata udah dua wat lagi. ” Melihat mata Anin yang sudah beberapa wat lagi untuk memejamkan matanya.
“ Nggak kok mas, aku mau tanya boleh? ” Anin ragu-ragu dengan menanyakan kepulangannya besok. “ Ya mau tanya apa? ” Rifa'i mengelus-elus rambut Anin, “ Mas besok apa mau pulang? ” Tanya Anin dengan nada pelan.
“ Iya, kalau kamu. Kalau kamu nggak mau, ya nggak papa. Mas akan nurut aja, ” Anin merasa kalau dirinya sudah durhaka dengan suaminya karena tidak menuruti perkataan suaminya.
BERSAMBUNG
Iya nin, sabar aja karena itu semua kunci utama untuk kebahagiaan di rumah tangga. InsyaAllah semua akan berlalu, ingat perkataan pak ustaz!
🌷Jangan lupa untuk LIKE DAN KOMEN POSITIF 🌷
🌷Jangan lupa untuk mampir ke instagram 🌷
@dindafitriani0911
•
•
__ADS_1
•
# Terima kasih... Lop-lop