
"Iya." Abang baksonya terpencar lagi wajahnya, sepertinya dari pagi belum dapet pelanggan.
"Brakk"
Membuat Anin terkejut, hampir tersedak dengan kuah bakso yang panas dan pedas.
Anin menatap mereka berempat yang menghampiri Anin.
"Ehem, saya mau kamu ikuti saya!" ucap salah satu orang dari mereka. Anin menunjuk dengan sendirinya dan mereka mengangguk.
"Maksudnya gimana?" tanya Anin, membuat mereka menatap dengan tatapan tajam dan memberikan kode dari salah satu orang.
"Bawa perempuan itu!" ucap bos mereka dan berdua mengangguk. Membawa paksa dan menyeret Anin. Anin kalah kuat dengan mereka karena badannya besar-besar, yang pasti tenaga mereka tidak ada yang ngalahin di sekitaran sini. Sedangkan, bang baksonya berteriak-teriak sampai balik lagi. Dengan napas sesak, karena berlari tidak jelas.
"Heh, kenapa kalian malah melongo? Bukannya nolong." Ucap abang baksonya dengan memberikan garam satu sendok lebih di satu mangkok. Karena kesal dan geram kepada pelanggannya.
Abang baksonya ikut berlari dan mengejar Anin, tapi kalah cepat dengan orang-orang yang tadi.
"Wah, harus lapor polisi ini... Pak, tolong kasih saksi ya. Biarkan saya yang buat laporan," abang baksonya membuka laci, mengambil kunci motornya.
Pelanggannya manggut-manggut dan melanjutkan makan baksonya.
"Lah, katanya mau buat laporan. Kalian ini gimana sih udah tau ada yang di culik malah diem baek. Bukannya nonjok itu orang malah ini, aduh punya pelanggan kok gini." Ucap abang baksonya dengan menghidupkan mesin motornya dan membuat kepulan asap dari motornya itu menghitam di udara.
Membuat sesak pelanggan yang masih memakan bakso.
"Beuuh... Asap apa-apa ini? Mending asap dari pembakaran daripada motor itu orang. Jangan-jangan baksonya di buat dari asep yang keluar dari... Uiiih..." Ucap mereka dengan jijik, tapi baksonya enak tanpa mengurangi nikmat pembeli dan menguras kantong saku mereka.
"Eeh uassssinnn... Buahhhhh..." Mereka menengok dari orang belakang dan orang belakang meringis.
Mengambil air dan meminumnya.
"Ngapa lu?"
"Asin amat ini mah, jarang-jarang lu bang Acun kasih garem buanyakk."
"Lah, emang? Nggak tau kenapa hari ini bener-bener itu bang Acun sayang amat sama tu perempuan? Apa ada kaitannya dengan orang perempuan tadi?" Mereka berunding bersama, tanpa diketahui di belakang sudah ada bang Acun dengan motornya yang mogok di tengah jalan. Motor udah tua dan di ubah-ubah, tapi makin ke sini motor sering mogok.
Bang Acun memaki-maki orang itu sampai dimana sialnya motornya sekarang mogok.
"Aduuuh, ngejar itu orang kayak dikejar benteng. Cepet banget lagi," ucap bang Acun dengan menempatkan motornya di tempat semula.
__ADS_1
"Bang lo kenapa?" dengan mengambil kursi dan menempatinya.
Bang Acun geleng-geleng dan membuang napasnya.
"Minum!" Mereka mengambilkan minum untuk bang Acun dan bang Acun menghela napasnya panjang.
"Huh, gimana lagi kalau nanti Pak Edi tanya sama saya. Terus jawab apa lagi?"
"Lho tadi itu--" Mereka terkaget dan bisa jadi nama mereka akan terhapus dari kampung ini.
"Berarti, cari-cari!!!" Mereka baru bingung, pada pergi dengan sendiri-sendiri. Bang Acun memukul-mukul meja yang berharga baginya, setiap hari menemaninya bekerja sampai meja sudah berumur.
...----------------...
Sampailah Anin di bawa ke gudang dan tinggi sekali tempatnya. Anin di seret-seret sampai ada luka di kakinya.
"Ini bos," ucap mereka dan mengikat Anin di kursi.
Anin pasrah, tenaganya sudah habis untuk teriak. Meminta di lepas.
"Oh jadi, ini yang namanya 'Anin'. Cantik dan bisa di jadikan istri nih." Ucap laki-laki tersebut dengan tersenyum licik.
"Aman, tenang saja."
Putri mengangguk dan mendekati Anin.
"Hum, bagaimana kedatangannya di sambut dengan baik mbak?" tanya Putri dengan mengelus pundak Anin.
"Wah, ternyata anda." Anin melepas ikatannya dan dengan paksa tangannya tergores dengan paku yang menancap di tangan.
"Auh..." Putri tersenyum dan memberikan kebahagiaan untuk Anin.
Jalan dan kehidupannya ada di tangan Putri, sampai Anin menatap tidak suka kepada Putri. Putri sudah menjalankan sidangnya bersama orang tuanya tadi, screnionya sudah berjalan. Cepat sekali... Ck-ck...
"Kamu, memang nggak pantas menjadi istrinya mas Rifa'i. Karena wanita macam kamu bukan wanita sembarangan." Ucap Anin, Putri pun mendekati Anin. Dan mengambilkan obat untuk Anin.
Anin terbeku oleh keadaan sekarang. Benar-benar membuatnya semakin mengganjal dendam di hati.
Mengobati lukanya dengan pelan dan lembut sekali. Anin sama sekali tidak menolak, ada niatan busuk yang mengelilingi hati Putri.
"Nanti papah akan kesini sama mamah. Jadi, jaga baik-baik ini anak! Jangan sampai kabur! Karena ada beberapa yang harus di urus, ini anak penting juga buat papah sama mamah." Ucap Putri, membuat anak buahnya mengangguk.
__ADS_1
Putri keluar dan membawa tas jinjingnya.
...----------------...
"Astagfirullah... Aku mimpi apa tadi?" Ucap Anin baru sadar. Perasaan tadi pulang dari toko jahit, dia ke tukang bakso. Apakah cuma perasaannya saja yang menyelimuti dirinya.
"Pingin bakso." Ucap Anin dengan menelan ludahnya sendiri.
"Bakso, ada apa dengan bakso?" tanya Bude dengan membawa keranjang pakaian.
"Nggak. Perasaan tadi itu mimpinya benar-benar nyata deh, masa iya tadi nggak nyata." Gumam Anin,
dia heran dengan mimpi. Mimpinya dia buat sampai selancar ini, pertanda apa ini?
Bude menyiram Anin dengan segala air, sampai airnya tumpah dan menggenang di lantai.
"Budeeeehhh..."
"Lah, ngelamun baru sadar?" ucap budenya dengan melipat pakaian dan menumpuknya di keranjang.
"Aduuh tak kirain tadi apa? Bude masa mimpiku kayak beneran nyata gitu bude." Anin menceritakan a-z dan bude hanya mendengarkan.
Seperti cerita dongeng tidur.
"Hah, bude ini di ceritain gini udah tidur aja. Yaudah lah, aku mau ke kamar. Mau cobain ini baju, apa masih panjang apa nggak." Anin berjalan ke kamar, meninggalkan budenya yang mengigo.
Sambil melipat pakaian dan melanjutkan cerita jalan mimpinya tadi.
"Bagus, ini baru cantik. Yang kemarin itu panjang, terus ada kayak gigi-giginya. Makanya aku ndak suka, sekarang makin cantik aja nih baju. Tapi, nggak uangnya. Jahitin baju aja harganya dua puluh lima, 'kan bisa buat makan sehari itu malah dua hari itu. Iya sudahlah daripada bajunya nggak kepake." Anin menatap layar handphone, ada pesan dari temannya.
"Apaan ini orang sih?"
Anin membuka handphonennya dan melihat pesannya yang begitu banyak, sekitar 56 pesan yang belum ia baca. Padahal ini bukan grup tapi pesan pribadi dari Ulfa.
"Wah curhat ini orang." Anin tertawa guling-guling karena Ulfa baru saja di putuskan oleh pacarnya gegara dia kentut di hadapan orang tua pacarnya sendiri. Apalagi kentutnya seperti endog bosok.
Bersambung...
Jangan lupa Like dan komennya ❤️❤️❤️
Terima kasih 🙏💕
__ADS_1