Samawa Till Jannah

Samawa Till Jannah
Episode 90. Pemberian Aksa


__ADS_3

Anin bersiap-siap untuk berangkat bekerja, dengan setelan kerjanya yang berwarna krim dan berbalut hijab.


Membawa tas kerja serta cepat-cepat ia melangkah, setelah subuh tadi ia tidak sempat sholat berjamaah di masjid sampai beberapa kali kena omel dengan budenya. Walaupun nasehat, tapi harus di dengarkan.


"Bude aku berangkat dulu ya," Anin bersalaman kepada budenya yang membenarkan jarum jahit dan sekarang bude ingin beralih ke profesi sebagai tukang jahit, biasanya laku kalau mau lebaran apalagi banyak pesanan. Tapi, biasanya bude buka jahitannya sebelum lebaran dan itu nggak mendekati juga pas lebarannya.


"Eh mau kemana kamu?" Bude menghampiri Anin, Anin yang tergesa-gesa membawa beberapa berkas dan itu juga taksi sudah ada di depan rumah.


"Itu mau ke kantor." Sahut Anin, Bude mengeryit heran dan Anin cepat-cepat masuk ke dalam taksi. Tidak sempat mau berbicara lagi, karena melihat jam yang berputar cukup cepat membuatnya sedikit terlambat.


"Pak bisa cepat lagi nggak? Soalnya sudah terlambat beberapa menit ini," Sopir mengangguk kemudian dengan alunan cepat dan jalanan pun begitu lenggang tidak ada haluan apapun.


***


Anin terburu-buru memasuki kantor, padahal sepi sekali. Ada karyawan yang masih bekerja tapi cuma beberapa, karena yang lainnya di liburkan dan sebentar lagi lebaran, ada cuti di hari lebaran ini sama liburnya di tambah lagi.


Anin memencet-mencet tombol lift, tetapi ada orang yang ada di dalam. Anin menunggu akhirnya, dan lift kembali lagi.


Anin pun masuk, setelah sampai di ruangan atas. Anin melangkah menuju ke ruangan Aksa. Meminta pertanggung jawaban, kenapa hari ini dirinya masuk? Ingin ia maki-maki.


"Assalamu'alaikum, selamat pagi..." Salam Anin dengan mengetuk pintu, dan berjalan ke ruangan.


Ternyata Aksa ada di sana, bersama sekretarisnya yang itu.


Mata Anin dia miringkan, jelas sekali Aksa mengerjai dirinya.


Sekretarisnya pun keluar.


Aksa mengulum senyuman dan mengetuk meja.


"Sabar Pak!" Ucap Anin.


Aksa menghela napas kasar, dan menatap Anin yang menundukkan kepala.


Awalnya Anin ingin memaki-maki bosnya satu ini, tapi malah di buat ketakutan.


"Jam berapa awalnya saya ingin bertemu sama kamu?" Anin sudah keringat dingin, apakah Aksa akan yang memaki-maki dirinya.


Ah rasanya pingin keluar.


"Pak 'kan puasa, nggak boleh kayak wanita sensitif gitu. Kalau wanita lagi halangan marah-marah boleh, tapi juga nggak boleh memancing amarah dari orang yang lagi puasa. Lah bapak? Laki-laki harus jadi yang pertama lah, jadi contoh buat anak-anaknya nanti." Balasan Anin malah melenceng ke sana, tapi Aksa akhirnya tersenyum dan mengangguk.

__ADS_1


"Oke sekarang kamu bawa itu berkas, dan kerjakan sekarang juga! Karena itu harus rampung sekarang!"


Anin berjalan dengan cepat, mengambil beberapa berkas dan sebentar ini isinya apa?


Kok ada goodie bag, hah Anin terkejut tidak percaya.


"Ini apa Pak?"


Mata Anin bersinar, ketika melihat isi dari goodie bag tersebut.


"Buka saja! Itu untukmu, dan ini untuk Bude sama Pakde nanti buat lebaran." Ujar Aksa, Aksa pun berdiri.


"Sebentar lagi kita menikah, dan aku juga sudah menyiapkan semuanya. Dan itu pemberianku yang aku kasihkan pertama kalinya untuk mu dan keluarga mu." Anin mengangguk, isinya adalah gamis couple yang sepadan dengan bude dan pakdenya.


"Terima kasih mas,"


"Iya sama-sama." Sahut Aksa.


***


Beberapa hari kemudian, Anin masih mengingat betul kejadian dirinya dengan Aksa, sekarang dirinya melamun sambil mengaduk-aduk adonan kue yang akan membuat kue nastar.


"Nin itu salah, kamu ini ngelamun apa sih kok sebegitunya?" Bude mondar-mandir, menambahkan bumbu-bumbu biar enak rasanya kuenya.


"Nanti aja nin, tapi coba kamu cari di lemari! Kayaknya ada sih." Anin mengangguk dan mengambil wadah yang mirip seperti nampan.


Tidak cukup buat dua wadah saja, banyak sekali kuenya yang akan di buat, untuk di bagikan sama ibu-ibu juga, dan sekaligus buat di masjid, bagi-bagi takjil.


"Bude ini mau di taruh plastik apa kertas saja bude? Soalnya ini juga sudah lengkap mau'an. Tinggal itu saja," Ujar Anin dengan menatap kue-kuenya yang baunya menyerbak di hidung.


"Nin kamu tata aja sekalian di boxnya, jadi di isi lima isian aja." Bude membenarkan beberapa posisi kue.


Nanti malam sudah waktunya kumandang bertakbir, suara yang indah dan enak di dengar, setiap masjid maupun mushola, semuanya mengumandangkan takbir.


Besok sudah hari raya, orang-orang di sibukkan dengan pekerjaan memasak maupun membuat kue-kue. Yang akan di hidangkan keesokan harinya.


Anin melirik ke arah jam, sudah berputar dengan cepat. Bude juga berkutat dengan masakan, yang akan di buat untuk berbuka puasa di masjid nanti sekalian bawa jajanan buat orang yang mengumandangkan takbir.


"Pakde kemana, bude?"


"Di masjid nak, katanya sih mau nata-nata buat besok juga dan mengurus zakat. Kamu nanti ke masjid buat zakat ya, nak. Soalnya sudah kewajibannya begitu, kamu juga harus begitu. Bude sudah ada yang mewakilkan, Pakde suami bude." Jawab bude, bude mengambil belanjaan yang ada di dalam kulkas.

__ADS_1


"Kamu tadi sudah beli ketupatnya 'kan?" tanya Bude sambil melongok ke meja.


Tidak ada.


"Lah, kemana ketupatnya nin?"


"Itu ada di depan masihan, belum di ambil. Nanti juga akan bagi-bagi ketupat juga 'kan dari balai desa, langsung di bagikan secara merata di desa ini. Bude nggak tau emangnya?" Anin menata tatanan kue, dan sudah apik, bisa di ekspetasikan menjadi kerajinan.


"Loh kok Bude nggak tau," jawab Bude dengan melangkah ke depan teras.


"Iya tadinya sih udah ada di papan pengumuman sana, dan agendanya sih nanti malam sekalian takbiran gitu." Timpal Anin.


"Pantas saja, ya udah yang penting sekarang masak opor sama rendang, kamu mau pecel nggak?" Bude bertanya, karena Anin setuju akhirnya Bude membuatnya.


"Nin, kalau sudah di tata yang rapi dan di letakkan di sana, biar nggak menganggu kalau lagi masak." Ucap Bude, Bude memotong-motong daging kemudian ia akan rebus agar empuk dan ayamnya pun belum di potong.


"Oh iya nin, kamu bisa 'kan motong ayam sendirian?" Lanjut Bude, Anin pun menggeleng cepat.


"Nggak bude, aku nggak mau. Trauma soalnya, apalagi.... Aduh bude, nggak kuat pokoknya." Anin menggeleng, dirinya takut dengan ayam dan budenya terkikik geli.


"Kamu ini, masa kalah sama anak SD yang itu... Gimana coba?" Anin memeluk tubuh Bude, dan Bude pun menatap bumbu-bumbunya yang akan ia haluskan.


"Bude, aku kangen sama ibu... Apalagi kalau ibu masak setiap mau lebaran, pasti ibu tanya dulu sama aku. Mau di buatin itu nggak?" Budenya mau menghaluskan bumbu tetapi terhalang dengan perkataan Anin.


"Iya 'kan gitu nin, kalau nggak di tanyain nanti nggak di makan 'kan mubazir, emang mau masak buat kebutuhannya sendiri. Gitu pastinya," jawab Bude.


Anin menguncir rambut bude, yang sudah beruban dan kerut-kerut, ataupun otot-otot hijau mulai terlihat. Kulitnya pun mau melembek, Anin tersenyum.


"Bude besok ke makam ibu, ya."


"Iya, nanti bude akan rundingkan sama Pakde. Kamu sudah beli baju emangnya?" tanya Bude.


Membuat Anin teringat dengan tote bag yang di kasih oleh Aksa.


"Masya Allah, Bude." Pekik Anin.


Bersambung...


Maafkan aku kalau alurnya lamban, dan setiap kali di jatah up untuk setiap hari walaupun satu bab, makasih kalian semua yang sudah mampir dan memberikan dukungannya.


Jarang sekali mau up.

__ADS_1


Besok ya yang sebelahnya novel ini... Nggak kuat aku 😂😂😂


__ADS_2