
Happy Reading
Beberapa bulan telah berlalu, kenangan yang terindah bagi Anin masa lalunya, sekarang dia ingin menatap masa depannya, kalau nggak di tata yang pasti akan menjadi bubur.
Hari ini, dengan balutan kain kerudung yang menempel di kepalanya dengan cantik dan Anin senang kalau hari ini, hari yang di tunggu.
Dia ingin mencari pekerjaan, agar tidak menyusahkan Bude dan Pakdenya. Setiap saat Budenya menanyakan gimana pekerjaannya, sudah dapat apa belum? Yang pasti Anin menjawabnya dengan jawaban 'Belum', Budenya jera setiap hari Anin mengatakan belum dan belum, pada akhirnya sekarang Anin bersedia untuk mencari pekerjaan di luar.
Beberapa hari yang lalu, Anin sudah mendapatkan surat gugatan perceraian dari pengadilan agama, Rifa'i sudah menjatuhkan talak ke tiga, artinya mereka benar-benar sudah memutuskan dan memikirkan bagaimana kedepannya? Mereka ingin yang terbaik, bukan yang terburuk.
"Assalamu'alaikum nak." Bude membuka pintu kamar Anin yang sudah Anin tempati selama satu tahun lamanya.
Anin bersyukur kalau Bude dan Pakdenya bisa menerima keadaannya, tetapi yang membuat Anin harus sabar adalah omelan yang keluar dari mulut Budenya.
"Wa'alaikumsalam Bude. Aku mau berangkat dulu ya bude, nanti kalau udah dapat pekerjaan... Insya Allah, Anin akan mengabarkan Bude."
Dengan bersemangat dan keluar sampai mau menabrak Pakde yang membawa segelas kopi, tatanan rumah ini sekarang berbeda, Anin yang menginginkan rumah ini berbeda dari yang dulu.
"Astagfirullah nak, jangan buru-buru! Kamu mau kemana kok buru-buru gitu?"
"Mau pergi cari pekerjaan, jangan di ajak ngobrol Pak. Udah sana nin, kamu berangkat tapi hati-hati. Ini Bude cuma ada pegangan segini, itu di cukupin kalau kurang minta transferan sama Pakde itu. Biar di transfer ke rekening kamu." Bude yang mengajak ngobrol, malahan sekarang Anin ingin segera pergi.
"Ibu, anaknya mau pergi itu. Jangan di ajak ngobrol lah! Kan kasian," Pakde menyeruput kopinya dan Anin langsung menyalimi tangan Pakde sama budenya.
"Ealah kan, Bude lupa kalau harus bawakan makanan buat Anin. Nanti seumpamanya dia lemes di jalan gimana Pak?"
Pakde tersenyum licik dan merebut kotak makanan yang isinya lengkap sekali, ada makanan yang bergizi pokoknya.
"Bapak!!! Ahhh, kamu ini Pak!" Bude kesal, jelas itu kotak makanan mau di kasihkan untuk Anin, bekal Anin nanti.
"Ibu yang cantik, boleh lah Bapak buatkan kayak gini. Ini melet-meleyt ini... Enak buanget pokoknya, boleh ya bu?"
"Melet-meleyt apanya? Namanya kok melet-meleyt, bukan itu namanya omelet Pak. Gini-nih kalau orang yang nggak tau bahasa Inggris." Ibu menjauh dari Pakde, Pakde mengejarnya dan dengan mata kaca-kaca, agar Bude membuatkan omelet untuk Pakde.
__ADS_1
"Ibu, besok jalan-jalan yuk!!!"
Mata bude terang benderang dan dengan sentuhan lembut mewarnai Pakde yang duduk di atas meja.
"Wah, boleh juga itu Pak. Kemana?"
"Ke kolong jembatan... Eeeh salah," goda Pakde demi omeletnya, haha...
"Boleh juga kalau gitu, yang terpenting sekarang bapak ini ya, pesankan Ibu tiket ke Labuan Bajo Pak. Ibu pingin ke sana dari dulu, tapi nggak kesampean, ya boleh ya?!" Dengan, mata menyipit dan memohon untuk mengabulkan permintaannya.
"Hihihi, boleh juga ini ya... Di kerjain dikit nggak papa ya Bu, mohon maaf kalau ada yang salah." Di hati Pakde sungguh tak terkira dengan omongannya.
"Oke, boleh kalau begitu, tapi bapak harus pergi ke bank kalau gitu."
"Kan sekarang zamannya cangih Pak, tanpa ke bank juga kita udah langsung ke sana Pak."
"Loh kok bisa bu?"
"Bapak ini, iklan lewat nggak di lihat."
"Pokoknya namanya panjang buanget, bisalah Pak! Ibu akan membuatkan omelet buat bapak, kalau ibu bisa ke sana." Janji palsu Bude, Bude juga merencanakan hal yang membuat tingkah konyolnya menjadi.
Oke, sekarang adalah hari dimana pernikahan mereka, jadinya mereka saling mengerjai satu sama lain, sekarang sudah 25 tahun membina rumah tangga, tetapi Allah belum mengizinkan mereka untuk mempunyai anak, sedangkan Bude dan Pakde sudah berusaha kemana-mana.
Emang kenyataannya seperti itu, dokter mengatakan kalau rahim Bude subur dan artinya semuanya tidak ada masalah, sampai mengundang dokter spesialis kandungan yang terbaik di Jakarta, katanya juga sama. Buang-buang uang dan tenaga buat berusaha untuk mempunyai seorang anak.
Tetapi, itu juga terbayar dengan keadaannya. Pakde juga lancar dapet rezekinya dan hidupnya juga sudah mapan, tapi apa? Allah belum berkehendak.
***
Anin di angkot, dia kepanasan karena saking himpit-himpitan dengan orang banyak dan ingin muntah dia rasanya. Apalagi ini bukan angkot kelas VVIP, ngimpi haha...
"Pak, boleh berhenti di depan!"
__ADS_1
"Baik mbak."
Dengan begitu angkot berhenti, Anin keluar dari angkotnya dan membayar ongkosnya.
"Terima kasih pak, sudah membuat saya pingin muntah terus mabuk ini mah."
"Ehehehe, maaf mbak. Namanya juga kelarisan beginilah, kudu ada yang ngalah."
Angkot pergi dengan berat yang begitu fantastis harganya sampai bannya kempes dan berbunyi 'ngik-ngik' Hihihi, Anin membayangkannya ingin pergi jauh-jauh dari angkot itu.
"Ini kok kantornya besar amat ya. Cobalah cari pekerjaan di sini, siapa tau ada yang membutuhkan tenaga bantu atau jadi karyawan. Tapi, aku kan S1 aja nggak lulus, mau gimana lagi? Dulu cita-citanya jadi dokter, tapi nggak kesampean. Yaudah lah nyerah aja, gara-gara mau nikah itu halangannya." Anin pun masuk ke dalam, tetapi di cegah oleh satpam yang berjaga di depan.
"Selamat pagi mbak."
"Pagi. Apakah ada lowongan pekerjaan di sini?"
"Gimana ini bro?" Tanya teman satpam yang menanyakan Anin tadi.
"Kalau gitu kita ketemu HRD-nya dulu lah, meminta gimana pendapatnya?"
"Iya, juga ya." Bisik temannya itu, Anin menunggu dan temannya itu pergi dari pandangan Anin.
"Sebentar mbak! Tunggu dulu di sini! Teman saya tadi mau ke ruang HRD-nya dulu."
"Baiklah."
Setelah sekian lama menunggu, akhirnya temannya itu datang dengan perempuan yang sudah tua, sekitaran umurnya 40 tahun ke atas.
Bersambung...
Ini up lagi ya 🤭🤭🤭
Saking semangatnya, dari tadi pingin liat gimana perkembangan Anin... Hihihi ☺☺☺
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentar positifnya ya, jadilah orang yang bijak memahami apa artinya komentar positif, jangan patahkan semangat authornya! Kita semua sama-sama harus saling suport antara pembaca dan penulis ☺☺☺
Terima kasih atas dukungannya dan yang sudah mampir ke sini 🙏💕