Samawa Till Jannah

Samawa Till Jannah
– S2 – Episode 77. Kehidupan Putri dan Rifa'i


__ADS_3

Happy Reading 📖


Em enaknya gimana ini? Rifa'i tidak mau kalau Putri marah dan meledak-ledak di kantor. Apalagi sama suara cemprengnya itu.


"Siapa mas? Kok diem," tanya Putri. Putri meletakkan piring dan lauknya di hadapan Rifa'i.


"Oh iya kamu tadi ketemu sama Papa nggak? Ini apa mau bahas launching perusahaan baru," Putri tersenyum dan duduk di atas meja. Menatap Rifa'i dan memegang tangan Rifa'i.


"Ngga," dengan muka polos. Membuat Rifa'i sedikit mengeluarkan tawanya.


"Hem, yaudah."


Ihhh, jawab apa gitu, malah jawabannya itu doang. Emm, awas aja kamu nanti sampai malem aku juga akan kayak gini. Biar kamu bingung satu hari. Putri bergumam dan menggertakkan giginya.


"Ngakak tau nggak," ucap Putri dengan mengambil tas dan cepat-cepat pergi dari ruangan Rifa'i.


Rifa'i menggeleng kepalanya dan menatap makanannya, seraya ingat kalau istrinya sensitif sekarang. Inginnya apa harus di turuti!


Rifa'i melangkah, mengejar Putri yang sudah jauh dan naik lift. Rifa'i memencet-mencet tombol lift khusus dan dengan cepat masuk ke dalam.


Untung aja tadi bawa hp, kalau nggak.


Rifa'i menelepon Putri dan tidak ada jawaban dari Putri. Wah, ada telepon nih.


Dari sang Papa kandung Putri.


"Aduh lagi keadaan susah, Papa telepon." Rifa'i sampai di lantai bawah dan mengejar Putri di parkiran.


Mobilnya masih bertengger di sana.

__ADS_1


Berarti Putri belum sampai di mobil, lah terus kemana?


Rifa'i mengetuk kaca depan dan Pak Mad ada di dalam mobil.


"Pak... Ibu udah ke sini?" tanya Rifa'i dan Pak Mad pun menggeleng. Melihat kalau majikannya sedang di landa bingung.


"La terus?"


"Palingan ada di ruangan Papanya ibu Putri Pak, kayaknya seperti itu." Sahut Pak Mad dengan keluar dari mobil.


"Alah nggak guna kamu, huh..." Ucap Rifa'i melangkah lebih cepat ke ruangan Papa.


Mad pun menatap dari kejauhan, bahu Rifa'i sudah pergi dari tatapan Mad.


"Pak, cangcimen..." Halah cangcimen lagi lewat, emang boleh cangcimen lewat dan masuk ke kantor. Mad pun merogoh saku celananya.


"Nggak ada duit," ucap Mad dengan begitu penjual cangcimennya menatap tidak suka.


Cangcimen, enak sepertinya. Mad aja ngeliatin terus sampai mau ngintil sama penjual cangcimennya.


Sementara yang ada di dalam, Rifa'i sudah sampai di depan ruangan Papa Putri, di sana Putri marah-marah sama Papanya.


Memeluk sang Papa, mengungkapkan isi hatinya. Berat hati, Rifa'i melangkah dan menarik handle pintu, kriett...


Papa mendongakkan ke arah pintu, melihat Rifa'i yang datang. Membuat Papa mengendurkan pelukannya dan memberikan kode kepada anak kandungnya sendiri.


"Apaaaa?" Putri saking kesal dan menyemburkan kata-kata dengan suara keras seperti loudspeaker.


"Pa," Rifa'i menyalimi tangan Papa dan Papa memeluknya dengan erat.

__ADS_1


"Makasih nak, udah menjaga anak Papa." dengan mata berkaca-kaca, sedangkan yang di kacangin Putri di sana menghentak-hentakkan kaki yang sudah di pakaikan oleh short hels shoes.


"Papaaaaaaaaaaaaaaaaa..." Suara yang melengking membuat Papa menutup telinganya sendiri, untung kedap suara.


Tapi, kedap suara bukan berarti yang bawah nggak dengar. Suara yang begitu khas dan Putri menjewer telinga Papa.


"Awas ya aku aduin sama Mama. Biar Papa, eeuuuuuhhhh..." Plintir, satu... dua... tiga,


"Aaaaaaaaaaaa... Panas tau nak,"


"Biarin aja, Papa emang udah nggak bisa di percaya lagi. Katanya Papa jagoan, tapi ini mah nggak juntlemen. Papa jahat, aku mau pulang aja daripada di sini." Menarik tas dan dengan cepat Rifa'i mencegahnya.


"Mau kemana kamu? Mau belanja kan? Ini lho kemarin sisa itu proyek dan bonus buat aku sendiri uangnya masih sisa. Kamu mau belanja nggak?" tanya Rifa'i, Rifa'i menyogok seperti bola bissboll.


Tinggal selangkah langsung kena bolongannya, terus masuklah bola itu.


"Beneran, nggak bohong kan? emm yah sekarang saja kalau belanja. Sekalian beli mobil baru ya Pa, aku mau mobil baru." Ucap Putri dengan membuka tasnya dan membongkar.


Biarkan nanti kosong, sekarang mau di isi full sama seperti bahan bakar.


"Yuk! Aku tunggu di lobi kantor, apa nggak koridor kantor di depan itu." Kata Putri yang sudah menaiki lift yang ada di ruangan Papa.


"Pa, aku nggak habis pikir sama Putri itu. Badan setiap hari di bawa kemari ke sana nggak capek apa. Aku aja yang setiap hari bawa tubuh ke sana-sini aja nggak ada yang bayar."


Bersambung...


Maaf, kemarin nggak up dan ini juga up-nya dikit... Tapi, aku paksa untuk up walaupun badan masih pegel habis perjalanan jauh 😊😊😊


Sehat-sehat kalian, jaga kesehatan 🌺🌺

__ADS_1


like dan komennya gassss 🔥🔥🔥


Terima kasih 🙏💕


__ADS_2