
Setelah setengah bulan lebaran, dan di nikmati dengan orang-orang yang sudah merayakan waktu lebaran dengan penuh makna.
Sepertinya sudah dua tahun, sulit untuk terpisahkan dengan maknanya lebaran. Anin sekarang siap-siap untuk menuju ke resort yang di tuju, untuk melaksanakan lamaran dirinya bersama Aksa.
Sebelum itu, pada hari lebaran ke tiga itu Aksa bersama orang tuanya sudah sepakat untuk melaksanakan lamaran dengan jarak sekitar lebaran ke lima belas hari maupun lebih sedikit juga nggak papa. Artinya, lamaran tetap di gelar.
Akhirnya, sekarang memutuskan untuk hari ke lima belas lebaran. Anin dan Aksa menuju untuk pernikahan juga, bersama itu orang tua Aksa, sama Pakde dan budenya Anin setuju untuk melaksanakan pernikahan pun di lakukan tidak terlalu lama dengan hari jatuhnya lamaran.
"Anin, kamu sudah siap? Di sana nanti kamu sudah nggak ngapa-ngapa kok, cuma tiduran terus jadi cantik nanti." Budenya tersenyum dan mendapati dirinya lagi menatap pantulan kaca.
"Begini lagi Bude, aku sudah menikah tetap saja rasanya masih sama, Bude." Anin perasaannya sudah di campur aduk dan begitu pandangannya juga tidak bisa di ucapkan lagi, bingung mau melakukan apa.
"Yuk ke depan dulu! Sebentar lagi sopir akan menjemput kita dari rumah Aksa, katanya bapak sih masih macet jalanannya jadinya agak lama." Bude menggandeng Anin yang sudah berbalut gamis dan kerudung yang ia beli pada saat sebelum puasa itu.
"Bu, ini gimana kok nggak sampai-sampai?" tanya Pakde yang bersedekap.
"Hah, siapa?" tanya balik Bude dengan mendudukkan Anin di kursi sofa.
"Sopirnya bu, kena macet kok lama banget. Terus Anin juga belum di dandani, dan ini acaranya nanti siang lamarannya. Tamunya juga orang-orang yang terhormat, apalagi keluarganya Aksa dari keluarga yang terpandang." Sahut Pakde dengan mondar-mandir membawa gelas yang berisi kopi.
"Sabar, Pak. Namanya kena macet itu kadang nggak kena di prediksi. Sudah bapak nggak usah mondar-mandir, ibu pusing liatnya." Yang jelas saja, Bude ikut terbawa rasa khawatir.
Bude mengambil makanan di atas meja, dan kue sisa lebaran masih ada sedikit.
"Ini kuenya masih, Nin?" Melihat isi toples.
"Ada, Bude. Jangan di bawa ke belakang! Masih banyak kok, apalagi dengan Pakde itu yang bawa toples ke depan. Masih banyak lagi isinya," Jawab Anin, di kiranya ingin di bawa ke belakang. Ternyata Bude malah memakannya. Pakdenya ke depan, melihat mobil. Siapa tau sudah datang, dengan membawa segelas kopi dan toples yang berisi kue yang masih penuh.
"Iya. Coba kamu telepon Aksa sekarang! Lama sekali, apa ada apa-apa?" Terka Bude, Anin menggelengkan kepalanya.
"Sudah Bude, jangan di terka-terka gitu! Nggak baik, mudah-mudahan sih bapaknya selamat sampai sini."
Anin dengan kepala dingin berbicara bersama Budenya, jika menjawab pertanyaan itu dengan kepala panas ikutan panas hawanya.
Ucapan bisa jadi benar, Anin takut.
__ADS_1
Sudahlah, jangan sampai menduga yang tidak benar! Anin mengambil handphone di kamarnya, dan melangkah ke ruang tamu.
"Gimana, diangkat apa nggak?" Bude bertanya kembali. Anin mencoba satu kali lagi menelepon Aksa, tetap saja panggilannya di hiraukan.
"Nggak di angkat Bude, kayaknya sih lagi sibuk. Terus orangnya pun nggak aktif di whatsapp, sudahlah Bude mending di tunggu aja!" Anin meletakkan handphonenya di meja. Bude pun mengambil makanan di atas meja makan, mengganjal perutnya. Bude belum sarapan dari pagi, menyiapkan apa yang ingin di siapkan untuk hantaran lamaran nanti.
Pakde ikut cemas, kesana-kemari, mengecek sampai gerbang. Apakah sudah sampai?
\*\*\*
Sudah jam 11 siang menyapa, tetap saja mobil itu tidak sampai di depan rumah, kembali dengan keadaan Anin dirinya sampai tiduran dan Budenya bingung mau ngapain.
Tidak ada yang memiliki nomer handphone dari orang tua Aksa, padahal beberapa kali berjumpa tetapi salah satu di antara mereka tidak ada yang menanyakan.
"Nin, gimana ini? Aduh, Bude maunya cepetan ke sana. Pak, coba keluarkan lah mobil dari garasi! Timbang kita kelamaan menunggu, biar ibu saja yang memasukkan beberapa barang yang akan di bawa ke sana, Anin siap-siap ya!" Jelas Bude, dari tadi kenapa nggak kepikiran? Batin Anin.
Di buatnya rasa mengantuk, menunggu, itu sungguh membosankan bagi Anin.
"Dari tadi kita tunggu, ya sudah bapak mau ambil kunci mobil ke kamar." Ucap ketus Pakde.
"Lah terus aku gimana, Bude?" Melihat penampilan Anin yang sudah berantakan, Bude menghela napas dan seraya membenarkan penampilan Anin dengan tertata di awal lagi.
Mobil pun sudah di hidupkan, memanasi mesinnya terlebih dahulu sebelum jalan. Pakde mengecek beberapa mesin, ataupun bannya yang mendadak nanti kempes di jalan. Sudah aman, dan lengkap semua. Setelah selesai, Anin mempersiapkan apa yang akan di bawa ke dalam tasnya. Dan melangkah lagi ke kamar, menyemprotkan minyak wangi ke balutan gamisnya. Berjalan keluar, mengunci kamar dengan rapat dan Anin menyelempangkan tasnya.
"Anin, bantu Bude!" Sesampainya di ruang tamu, Anin di suruh Budenya. Hantaran pun seberapa, tetapi juga penting.
"Masa iya lupa sih Bude?" Anin keluar dari pintu depan dan berjalan ke arah mobil.
Anin membantu budenya, menjunjung hantaran yang akan di bawa ke bagasi mobil.
Bude mengomentari tidak jelas.
"Iya, nggak tau juga Bude." Jawabnya.
"Sudah, mending kita berangkat. Kamu sudah cantik kok, nggak di make-up tetap sama hasilnya. Cantik, Pakde suruh kunci pintu! Biar Bude, yang kunci pintu belakang." Lanjut Bude, memang Anin seperti itu tetap saja cantik jika tidak di make-up pun terlihat natural secara alami.
__ADS_1
"Oke, Bude." Jawab Anin.
"Aku mau ambil tas, oh iya Bude mau apa? Aku ambilkan sebelum berangkat." Sambung Anin, Bude menggeleng. Dan Budenya ke belakang. Mengunci pintu belakang, dirinya masuk ke dalam. Pakdenya masih ada di dalam, entah tadi siapa yang menelepon.
Anin memanggil Pakdenya, yang masih tertawa kecil dan berkata-kata, Anin pun juga tidak tau apa yang di ucapkan.
"Pakde, yuk berangkat!" Bisik Anin.
Pakde mengangguk, Anin tersenyum dan berjalan ke depan.
"Gimana, Nin, sudah?" Budenya yang melihat pantulan bayang-bayang tubuhnya, sudah siap apa belum di kaca.
"Sudah, iya katanya. Bude itu dari tadi ngaca terus, nggak capek apa?" Bude gemas, lantas mencubit pelan pipi Anin.
"Aduh, Bude. Ampun," Bude terkekeh pelan.
"Kamu ini, Bude nggak cantik pasti kamu akan tertawa melihat penampilan Bude yang nggak cantik sama kamu. Masa iya, kamu cantik, Bude nggak!" Jawab Bude, Anin mencium pipi Bude.
"Gemas aku Bude, eh Pakde itu pintu depan suruh kunci!" Teriak Anin, melihat Pakdenya yang memakai sepatu pantofel.
Dan membenarkan penampilannya juga, tak di lawan pun keluarga Anin memang tidak ada bandingannya.
Setelah mengunci, Pakde pun berjalan ke gerbang, membuka gerbangnya.
"Biar Pakde yang jadi sopir, Bude sama kamu di belakang. Yuk, naik!" Anin dan Bude naik ke dalam mobil.
Pakde pun sama, setelah memasang seat-belt dan menghidupkan mesinnya.
Menjalankan sampai di depan gerbang, dan Pakde yang menutup kembali pintu gerbangnya.
Bersambung
Jangan lupa like dan komennya 😊😊
Terima kasih 😌🙏
__ADS_1